Sebelum menikah, saya bertanya pada suami saya, “apakah kelak kamu akan
mengizinkan saya bekerja?” Jawabannya: Ya. Tapi, selama kamu bekerja, lebih
baik kita tidak usah punya anak. Saat mengatakannya, saya tahu, Bunny
semata-mata menginginkan yang terbaik untuk calon anak-anak kami kelak. Ia haqqul
yaqin, yakin yang sebenar-benarnya, bahwa tempat di samping anak hanya ada Ibu.
Tidak ada yang lain, tidak ada pengasuh, tidak ada pembantu.
Saya keberatan. Sesungguhnya, di luar segala cita-cita saya untuk menjadi
itu dan anu, hasrat terdalam saya adalah membesarkan anak-anak dengan baik
sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Namun, masa kecil (sekitar usia SD lah…) sampai
remaja saya bisa dikatakan nggak mudah. Orang tua saya berusaha sekuat tenaga
menyekolahkan saya. Termasuk saat saya berangkat kuliah. Mereka mengorbankan
satu-satunya aset terbaik yang mereka miliki, sebidang tanah di kawasan yang
strategis untuk ukuran saat itu, bahkan sampai dengan saat ini. Sampai detik
menjelang saya menikah, Papah masih berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup
kami. Saya sudah bukan beban keluarga lagi secara finansial, tetapi masih jauh
dari membantu mereka. Pernikahan saya pun masih dibiayai oleh orang tua.
Saya tak ingin susah seperti itu lagi. Walaupun itulah salah satu hal yang
membentuk karakter saya saat ini. Tidak ingin Ihya bingung mau berangkat naik
apa karena kami benar-benar tak punya uang (seperti saya dahulu). Sedih betul
membayangkannya. Di sisi lain, saya juga tak ingin bingung jika ingin
memberikan sesuatu kepada Mamah, Papah, Adek, atau keluarga saya yang lain.
Singkatnya, saya ingin mandiri secara finansial. Buat apa Mamah Papah mengirim
saya kuliah tinggi-tinggi, berkorban banyak-banyak, jika kehidupan saya tidak
lebih baik? Dan saya pun meminta suami untuk mempertimbangkannya lagi.
Alhamdulillah, ia setuju…
Saya pun bekerja, sampai dengan sekarang. Namun, jangan tanya geledek di
hati ini ketika memutuskan terus bekerja setelah Ihya lahir. Sedih, galau,
bimbang, kadang menangis mengingat bahwa saya harus meninggalkan Ihya bekerja.
Alhamdulillah (banyak-banyak!!) lagi, Allah kasih saya tempat kerja yang dekat
dengan rumah. Hanya sekitar 10 menit dari rumah jika lalu-lintas sedang lancar.
Badan saya tak lelah benar, sehingga masih bisa full energy saat berhadapan
dengan Ihya setelah pulang kerja.
Masa-masa galaupun datang dan pergi. Kala keadaan di kantor baik dan
menyenangkan, saya mantap bekerja. Saat keadaan sedang kurang baik, saya
bimbang lagi. Cukup sepadankah apa yang saya lakukan seharian meninggalkan
Ihya?
Namun, saya tahu, terus-menerus seperti itu tidaklah produktif. Saya ambil
nafas dan berusaha membuat pilihan yang mantap. Bekerja. Suatu saat saya
mungkin akan berhenti. Tapi tidak sekarang. Hanya Allah yang tahu betapa
pedihnya hati saya kala harus meninggalkan Ihya. Apalagi saat keadaannya sedang
kurang baik atau sedang manja dengan saya. Suatu hari mungkin Ihya akan
bertanya, kenapa ibunya harus bekerja?
Saya akan jujur. Tidak akan ada yang saya tutup-tutupi. Sayapun akan
memintanya untuk ikhlas dan mengambil sisi positif dari keadaan ini. Saya
berharap, Ihya mampu lebih mandiri. Dan kami akan sangat menghargai masa-masa
kebersamaan kami.
Saya pun berkomitmen, untuk memberikan perhatian penuh pada Ihya saat saya
di rumah. Saya yang akan memilihkan dan mengolah makanan-makanan terbaik untuknya.
Saya juga tak perlu pengasuh saat ada di rumah. Saya tak akan meninggalkannya
dalam keadaan menangis. Alhamdulillah, sampai saat ini saya (masih) berhasil
memenuhi komitmen-komitmen tersebut. Ihya juga lebih memilih saya ketimbang
siapapun saat saya ada di sisinya. Suami pun memberikan dukungan sepenuhnya.
Sampai sini, bertanya-tanya nggak kenapa saya menulis tentang hal ini?
Sebenarnya saya tertarik menulis hal ini karena status seorang teman di FB:
“Mmm...gimana yaa...akhir2 ini sering liat status2 ibu2 yg
"menyepelekan" usaha para WM. Kesannya, ibu bekerja dikantor ga bs
ngasih perhatian selain berupa mainan mahal, baju bagus atau barang2 mahal
lainnya. Kesannya jg, ibu bekerja itu cuma mikirin materi aja, ga mikirin
perasaan si anak. Knp yaa?”
Sejujurnya, kadang saya pun merasakan hal tersebut lewat komentar-komentar
teman. Nggak semua orang tentu saja… Beberapa tetap bijak untuk memahami
kehidupan keluarga orang lain adalah kotak yang tak layak disentuh kecuali
diminta.
Tulisan ini bukan pembenaran. Hanya curahan hati. Membacanya dari awal
membuat saya mantap. Bukan mantap untuk bekerja, tapi untuk melakukan yang
terbaik dalam pilihan-pilihan yang saya punya.
Tulisan ini untuk setiap Ibu di jagad raya… Sebelum menikah, saya bertanya pada suami saya, “apakah kelak kamu akan
mengizinkan saya bekerja?” Jawabannya: Ya. Tapi, selama kamu bekerja, lebih
baik kita tidak usah punya anak. Saat mengatakannya, saya tahu, Bunny
semata-mata menginginkan yang terbaik untuk calon anak-anak kami kelak. Ia haqqul
yaqin, yakin yang sebenar-benarnya, bahwa tempat di samping anak hanya ada Ibu.
Tidak ada yang lain, tidak ada pengasuh, tidak ada pembantu.
Saya keberatan. Sesungguhnya, di luar segala cita-cita saya untuk menjadi
itu dan anu, hasrat terdalam saya adalah membesarkan anak-anak dengan baik
sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Namun, masa kecil (sekitar usia SD lah…) sampai
remaja saya bisa dikatakan nggak mudah. Orang tua saya berusaha sekuat tenaga
menyekolahkan saya. Termasuk saat saya berangkat kuliah. Mereka mengorbankan
satu-satunya aset terbaik yang mereka miliki, sebidang tanah di kawasan yang
strategis untuk ukuran saat itu, bahkan sampai dengan saat ini. Sampai detik
menjelang saya menikah, Papah masih berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup
kami. Saya sudah bukan beban keluarga lagi secara finansial, tetapi masih jauh
dari membantu mereka. Pernikahan saya pun masih dibiayai oleh orang tua.
Saya tak ingin susah seperti itu lagi. Walaupun itulah salah satu hal yang
membentuk karakter saya saat ini. Tidak ingin Ihya bingung mau berangkat naik
apa karena kami benar-benar tak punya uang (seperti saya dahulu). Sedih betul
membayangkannya. Di sisi lain, saya juga tak ingin bingung jika ingin
memberikan sesuatu kepada Mamah, Papah, Adek, atau keluarga saya yang lain.
Singkatnya, saya ingin mandiri secara finansial. Buat apa Mamah Papah mengirim
saya kuliah tinggi-tinggi, berkorban banyak-banyak, jika kehidupan saya tidak
lebih baik? Dan saya pun meminta suami untuk mempertimbangkannya lagi.
Alhamdulillah, ia setuju…
Saya pun bekerja, sampai dengan sekarang. Namun, jangan tanya geledek di
hati ini ketika memutuskan terus bekerja setelah Ihya lahir. Sedih, galau,
bimbang, kadang menangis mengingat bahwa saya harus meninggalkan Ihya bekerja.
Alhamdulillah (banyak-banyak!!) lagi, Allah kasih saya tempat kerja yang dekat
dengan rumah. Hanya sekitar 10 menit dari rumah jika lalu-lintas sedang lancar.
Badan saya tak lelah benar, sehingga masih bisa full energy saat berhadapan
dengan Ihya setelah pulang kerja.
Masa-masa galaupun datang dan pergi. Kala keadaan di kantor baik dan
menyenangkan, saya mantap bekerja. Saat keadaan sedang kurang baik, saya
bimbang lagi. Cukup sepadankah apa yang saya lakukan seharian meninggalkan
Ihya?
Namun, saya tahu, terus-menerus seperti itu tidaklah produktif. Saya ambil
nafas dan berusaha membuat pilihan yang mantap. Bekerja. Suatu saat saya
mungkin akan berhenti. Tapi tidak sekarang. Hanya Allah yang tahu betapa
pedihnya hati saya kala harus meninggalkan Ihya. Apalagi saat keadaannya sedang
kurang baik atau sedang manja dengan saya. Suatu hari mungkin Ihya akan
bertanya, kenapa ibunya harus bekerja?
Saya akan jujur. Tidak akan ada yang saya tutup-tutupi. Sayapun akan
memintanya untuk ikhlas dan mengambil sisi positif dari keadaan ini. Saya
berharap, Ihya mampu lebih mandiri. Dan kami akan sangat menghargai masa-masa
kebersamaan kami.
Saya pun berkomitmen, untuk memberikan perhatian penuh pada Ihya saat saya
di rumah. Saya yang akan memilihkan dan mengolah makanan-makanan terbaik untuknya.
Saya juga tak perlu pengasuh saat ada di rumah. Saya tak akan meninggalkannya
dalam keadaan menangis. Alhamdulillah, sampai saat ini saya (masih) berhasil
memenuhi komitmen-komitmen tersebut. Ihya juga lebih memilih saya ketimbang
siapapun saat saya ada di sisinya. Suami pun memberikan dukungan sepenuhnya.
Sampai sini, bertanya-tanya nggak kenapa saya menulis tentang hal ini?
Sebenarnya saya tertarik menulis hal ini karena status seorang teman di FB:
“Mmm...gimana yaa...akhir2 ini sering liat status2 ibu2 yg
"menyepelekan" usaha para WM. Kesannya, ibu bekerja dikantor ga bs
ngasih perhatian selain berupa mainan mahal, baju bagus atau barang2 mahal
lainnya. Kesannya jg, ibu bekerja itu cuma mikirin materi aja, ga mikirin
perasaan si anak. Knp yaa?”
Sejujurnya, kadang saya pun merasakan hal tersebut lewat komentar-komentar
teman. Nggak semua orang tentu saja… Beberapa tetap bijak untuk memahami
kehidupan keluarga orang lain adalah kotak yang tak layak disentuh kecuali
diminta.
Tulisan ini bukan pembenaran. Hanya curahan hati. Membacanya dari awal
membuat saya mantap. Bukan mantap untuk bekerja, tapi untuk melakukan yang
terbaik dalam pilihan-pilihan yang saya punya.
Tulisan ini untuk setiap Ibu di jagad raya…
![]() |
pulang kerja langsung foto bareng karena bajunya lagi sama-sama warna ungu...hehe |
No comments:
Post a Comment