Showing posts with label Ayah. Show all posts
Showing posts with label Ayah. Show all posts

Wednesday, September 2, 2015

Mt. Buller Roadtrip

Bismillahirrahmanirrahiim…

Setelah hampir sebulan berlalu, akhirnya cerita tentang roadtrip Mt. Buller terbit juga!! Umm… sebenarnya udah sempat nulis lumayan panjang dan rencananya akan dibuat beberapa tulisan, tapi… siapa lah aku ini… kayak bakal ada yang baca ajah. Hihi. Jadi, mumpung mood nulis lagi bagus dan anak-anak tidur, mari kita nge-blog sambil ditemani secangkir kopi karamel.

Penting banget yah roadtrip ini buat diceritain?? Penting banget!!
Pertama, karena ini adalah perjalanan darat terpanjang pertama keluarga Hisyami Adib. Kedua, karena perjalanan ini mempertaruhkan banyak hal *tsaaah* Terutama kenyamanan selama perjalanan. Masing-masing punya karakter tersendiri. Ada yang sangat hati-hati dan maunya semua sesuai rencana... Ada yang spontanitasnya suka kelewatan... Ada yang energinya besar dan gampang bosan... Ada juga yang  masih bayi. Tahu kan semanis-manisnya bayi tetep suka-suka dia dong... mau pup kek, mau nangis kek, mau nyusu kek…

Cerita sedikit ya... Dari awal tahu kalau Bunny (ini panggilan sayang buat suami saya :)) jadi penerima beasiswa AAS, yang saya tanya adalah: di Australia ada salju nggak? Jawabnya: Ada. Dan diidam-idamlah itu yang namanya salju. Sampai suatu ketika saya mikir… Abang bakal seneng nggak ya main salju? Karena tahu dong… anak segitu kalau udah cranky nggak peduli bapak ibunya keluar duit berapa… Hahaha. Nyesek nggak siiih… Akhirnya dari sana rencana persaljuan maju mundur. Tapi si Ibu galau dan pingiiin banget ngerasain salju beneran. Long story short, akhirnya diputuskanlah kami berangkat ke Mt. Buller. Naik mobil. Pertama, karena lebih ekonomis. Kedua, karena passportnya Sulha belum jadi. Daripada tiba-tiba terhalang di bandara dan gigit jari, diputuskanlah kami berangkat naik mobil. Ketiga, akan lebih mudah berhenti dan istirahat kalau dua anak tiba-tiba bosan di jalan.

Tadinya Bunny menolak mentah-mentah ide ini. Karena pasti perjalanan akan sangat lama dan melelahkan. Google Maps boleh bilang perjalanan hanya makan waktu 8 jam. Tapi bawa bayi dan balita? Mana mungkiiin… Total kami menghabiskan 14 jam saat berangkat dan lebih lama lagi saat pulang.
Rencana awal yang saya ajukan, setelah dari Mt. Buller kami akan berkeliling Melbourne dab kemudian pulang lewat Great Ocean Road (GOR). Tapi sepertinya nggak memungkinkan karena melewati GOR sendiri sudah makan waktu cukup lama. Bisa-bisa kami sampai di Twelve Apostles saat hari sudah gelap. Karena kami lebih tertarik dengan objek di sepanjang GOR, akhirnya jalan-jalan Melbourne dicoret dari rencana.

Alhamdulillah selama perjalanan terbilang cukup nyaman dan menyenangkan, yang nggak enak-nggak enak pun buat kami jadi pengalaman tersendiri yang tak terlupakan.

Pemandangan sepanjang jalan buat saya indaaah banget. Dari mulai padang rumput, samudera, sampai hutan. Hutan? Yep. Entah dapat info dari mana kami diarahkan Waze lewat Cape Otway Rain Forest. Padahal Google Maps menyarankan jalan yang berbeda. Sempet bete sih karena saya pegang Gmaps. Bayangkanlah seorang pengemudi pemula masuk hutan yang jalanannya sempit dan basah. Langit yang tadinya terang tiba-tiba jadi gelap terhalang pohon-pohon tinggi. Alhamdulillah masih jalan di pinggir tebing, bukan jurang. Tapi teteup jantungan karena tiba-tiba terhalang gundukan tanah longsor. Sepanjang jalan ada peringatan bahwa jalan yang sempit itu banyak dilalui truk kayu, untungnya nggak ada ketemu. Begitu keluar hutan rasanya legaaa banget.

Beberapa kali mobil kami sedikit goyang karena terpaan angin, maklum... mobil kecil ditambah lagi jalanan cukup lengang dan di kanan kiri ada hamparan rumput terbuka.

Gimana Abang selama di perjalanan? Amat sangat bisa ditebak dia akan bete karena energinya yang besar itu nggak tersalurkan. Mulai dari minta pulang di tengah jalan... membuat suara-suara aneh... dan sempat juga dia menggumam sepanjang jalan: “I’m so so so so so tired” yang diucapkan dengan aksen Australia (yang membuat kalimat itu 5 kali lebih nyebelin). Tapi Alhamdulillah saat perjalanan pulang Abang jauuuh lebih kooperatif. Mungkin karena kami jalan dengan lebih santai dan berhenti di beberapa objek. Mungkin juga karena Abang bahagia banget bisa main salju seharian (umm… nggak seharian sih, tapi cukup puas lah!!). Rasanya lega banget melihat Abang senang main di Mt. Buller. Dia cuma merengek saat diajak pulang. Saya sendiri puasss banget bisa menikmati hamparan salju. Alhamdulillah cuaca cukup cerah, anak-anak juga sehat dan nggak ada keluhan berarti. Momen paling indah buat saya adalah saat naik chairlift. Salju di mana-mana dan sunyi sampai hampir nggak terdengar suara apapun, kayaknya untuk beberapa saat saya merasa bener-bener sendiri... walaupun kemudian sadar sedang menggendong Sulha *buyar... buyar...*

Pengalaman tak terlupakan lainnya adalah saat kami terpaksa masuk Melbourne CDB. Maaak... lalu lintasnya mirip banget sama Jakarta, tapi tentunya dengan tampilan yang lebih cakep dan lebih teratur. Usut punya usut beberapa teman yang tinggal di Clayton (kota kecil dekat Melbourne) bahkan nggak berani bawa mobil ke CDB. Kami sempat beberapa kali teriak terkaget-kaget dan salah mengikuti petunjuk peta. Macetnyapun luar biasa (siapa suruh masuk CDB malam Sabtu pas ada pertandingan di Ettihad Stadium??!). Pengendaranya pun lebih metal dibandingkan Adelaide.

Sempat juga melewatkan kesempatan foto bareng Neil DeGrasse Tyson. Uhuhu... nyeselnya pake banget.

Oia... karena sudah kemalaman akhirnya kami menginap satu malam lagi di Warnambool. Besok paginya karena punya waktu lumayan akhirnya disempatkan foto (doang) di Blue Lake Mt Gambier.

Seneng? Banget!! Alhamdulillah dikasih kesempatan untuk jalan-jalan sekeluarga seperti ini. Dan ternyata ada yang ketagihan :) *lirik Bunny*

Terus foto mana fotooo??! Silahkan menikmati. Salam!!

Pink Lake.
Keliatan nggak warna pink-nya?





Mt. Buller










Lighthouse











Twelve Apostles:










Mount Gambier




Sunday, October 5, 2014

5 Tahun Sudah...

Bismillahirrahanirrahiim...

Tanggal 2 Oktober, entah kenapa habis maghrib saya ngantuk buanged!! Akhirnya pamit ke Bunny untuk tidur lebih awal... Plus berpesan minta tolong dibangunkan untuk shalat Isya. Akhirnya saya bangun sekitar jam 11.30. Setelah itu masih sempat ngobrol-ngobrol bersama Bunny. Sampai kemudian sekitar jam 00.30 Bunny tanya: "Kamu bener-bener nggak inget ya?"

Saya terdiam sambil berpikir keras... Saya lupa apa ya? Lupa matiin kompor? Lupa utang sama orang sampai ditagih ke suami? Dan yak!! saya lupa aja gitu loh sama ulang tahun pernikahan kami... Hahaha...
Untungnya sih suami bukan tipe yang sensitif sama urusan kayak gitu. Biasanya nih... tiap ulang tahun pernikahan saya menyiapkan surat untuk suami tercinta. Kadang ada kue dan kadang ada kado.

Tanpa bermaksud melempar batu, sepertinya saya agak terpengaruh dengan Bunny yang memang nggak terlalu senang dengan selebrasi tanggal-tanggal khusus. Walaupun selalu ingat, biasanya hanya peluk dan cium saja untuk merayakannya (padahal kan aku pingin cincin berlian... :)).

Ah... tak terasa sudah 5 tahun. Anak kami sudah hampir dua. Dan sekarang kami berada di Adelaide. Akhirnya kami habiskan dini hari ngobrol ngalor ngidul ke sana ke mari. Bunny memang teman ngobrol yang menyenangkan... Ditemani dengan dengan capuccino (dapet rombengan milk frother yang masih oke) dan bubur kacang hijau buatan Bunny. Jujur lho... itu adalah bubur kacang ijo terenak yang pernah saya makan :)



Tahun ini kami memulai hidup baru yang cukup berbeda dari sebelumnya...
Pertama, kami tinggal di Adelaide. Semua serba asing di sini dan pasti membutuhkan adaptasi. Tapi Alhamdulillah... sejauh ini kami menyukainya. Lingkungannya, suasananya, dan terutama kami banyak menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga. Di Jakarta yang padat semua rasanya selalu terburu-buru. Kami punya jadwal tetap harus ke sana dan ke sini bahkan di akhir minggu sekalipun... Sementara di sini, walaupun jadwal tetap ada, tapi ya kami habiskan sebagai sebuah keluarga.

Kedua, kami sedang menanti kelahiran anak kedua. Dari hasil beberapa kali USG sih jenis kelaminnya perempuan. Itu berarti kami akan mendapat tantangan baru untuk mendidik anak perempuan.

Ketiga, saya akan fokus di rumah mengurus rumah dan keluarga sementara Bunny sekolah dan bekerja. Jujur sih... rasanya sempat terlena berasa lagi liburan panjang dari kantor, haha. Sekarang saya sedang mengejar untuk membuat rencana-rencana agar amanah saya yang baru ini bisa berjalan dengan sebaik-baiknya dan bernilai ibadah di hadapan Allah. Melihat perubahan positif Ihya selama kami di sini, saya makin yakin untuk memilih karir sebagai Ibu selama mungkin anak-anak membutuhkannya...

Keempat, sebenarnya sih kami sedang menghadapi masalah yang cukup pelik. Tapi kalau berdua rasanya jadi lebih tenang dan santai. Hehe.

Tahun demi tahun perbedaan yang remeh temeh semakin nggak berarti. Kami belajar bahwa kami memang berbeda. Dengan latar belakan yang berbeda. Setiap saya bersabar atas kekurangan Bunny, maka saat itu pula ia sedang bersabar dengan kekurangan saya.
Bunny boleh dibilang sahabat juga buat saya. Apaaaaa aja saya ceritakan ke dia. Karena memang ada hal-hal yang nggak mungkin saya ceritakan ke orang lain. Dan kami berusaha untuk selalu terbuka menyatakan rasa sayang dan ganjalan. Yang saya inget sih... kami nggak pernah membiarkan hari berlalu dengan masalah yang mengganjal.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-5 ya sayang... Insya Allah ada tahun-tahun selanjutnya di depan yang akan kita lalui. Semoga setiap waktu yang kita habiskan dalam pernikahan membawa berkah... Dan semoga kita menjadi pasangan di syurga kelak. I love you :)

Wednesday, February 26, 2014

Life Update

Bismillahirrahmanirrahiim...

Aaaaah... (ngulet saking udah lama banget nggak nulis)!! Kalau dilihat dari tanggal tulisan terakhir, sudah hampir dua bulan blog ini nggak di-update. Selama dua bulan sebenarnya banyak banget hal-hal baru yang dialami oleh saya (dan keluarga). Ada yang penasaran nggak sih? *sok ngartis, hihi*.

Pertama, tanggal 30 Januari 2014 adalah hari terakhir saya bekerja di CDB. CDB bisa dibilang tempat kerja yang paling menyenangkan buat saya. Suasananya enak, mulai dari kubikelnya, orangnya, kerjaannya (eh, yang ini biasa aja sih, sama aja dengan kerjaan terdahulu), ongkosnya, bonus bersama suami di perjalanan... Ditambah rumah dekat dengan mertua plus ART yang bisa diandalkan, banyak yang ngiri dengan keadaan saya saat itu. Terus, kenapa keluar? Family always comes first, dan itulah yang terjadi pada saya. Papah minta saya untuk ikut bantu usaha beliau. Saya paham betul kondisinya, usaha ini masih rintisan, tetapi ia sudah banyak menghasilkan. Sayang banget kalau akhirnya anak-anaknya nggak ada yang meneruskan. Akhirnya, walaupun dengan kondisi belum tahu mau ngapain, saya mengangguk setuju. Saya cuma ingin bantu Papah dan punya waktu kerja yang lebih fleksibel sehingga punya lebih banyak waktu untuk Abang. Saya bahkan sempat membawa Abang ke kantor. Dan itu nikmat J.

Kedua, baru beberapa hari masuk kantor baru *taelah*, tiba-tiba dapat kabar bahagia yang sudah hampir setahun saya tunggu: Syami lulus seleksi beasiswa AAS. Aktivitas di kantor tetap jalan seperti biasa, walaupun rencananya saya akan diboyong ke Australia, tapi urusan bersama Papah tetap berjalan seperti biasa. Beliaupun ikut senang dengan rencana itu karena yang kebayang di kepalanya Abang bakal lancar berbahasa Inggris setelah kembali ke sini.
Sekarang saya sedang mencicil satu per satu hal yang harus disiapkan mulai dari akte kelahiran Abang, paspor, kursus nyetir, dll. Sedangkan suami sedang berjibaku dengan training untuk mendapatkan nilai IELTS yang sekeren mungkin, hehe. Mohon doanya supaya semua berjalan dengan lantjar yah J

Ketiga, saya mendapati bahwa tantangan menjadi orangtua Abang semakin besar... Ya iya lah ya... anaknya kan juga tambah gede. Setelah saya menjalani aktivitas dan rutinitas baru, beberapa hal inilah yang saya temukan...
He has a lot of tantrum period. Terlihat mudah sekali kesal saat keinginannya tidak dipenuhi. Apalagi saat saya sempat di rumah selama kurang lebih seminggu. Rasanya tiada hari tanpa tantrum. Frustasi, iya pasti. Pertama saya mencoba berdamai dengan diri sendiri bahwa memang ada hal-hal terkait pola pengasuhan yang harus saya benahi. Kedua saya kembali belajar bagaimana mengatasi tantrum. Udah nggak terhitung berapa kali saya baca yang begituan, tapi tetep aja susah saat diterapkan. Apalagi kami hidup dekat dengan ortu. Kadang ada rasa tidak PD saat harus mengatasi perilaku Abang yang sulit diatasi. Untuk yang ini kayaknya harus buat tulisan khusus J


Yak, mungkin itu saja kejadian yang penting-penting. Soal baking blue atau banjir yang datang melulu nggak usah dibahas lah ya... hehe. Semoga tulisan berikutnya nggak bakal lama-lama amat, hihi. Salam!

Thursday, October 17, 2013

7 Signs That Your Preschooler Loves You



Akhir-akhir ini saya males untuk subscribe informasi dari situs tertentu karena biasanya mereka akan terus menerus memberikan informasi yang tidak saya butuhkan. Tapi ada satu situs yang saya terima email informasi dari mereka dengan suka hati: Baby Center. Dan hari ini mereka kembali mengirim email dengan judul: 7 signs that your child lovesyou.
Saya coba rangkum sedikit ya… Ini asli cuma terjemahan doang kok, bukan buah pikiran saya.

He acts up!
Pernah ngerasa kesel nggak sih saat anak kita cari-cari perhatian secara berlebihan saat kita sedang mengobrol dengan orang lain. Dalam kasus saya, Ihya bahkan “cemburu” kalau saya mengobrol terlalu lama dengan Ayahnya. Jangan ditanya kalo ijk peluk-peluk suami. Pernah suatu malam Ihya menyela obrolan kami di tempat tidur dengan berbisik kepada saya: “Ibu jangan peluk Ayah, peluk Abang aja…”. Mukanya asli lucu banget, posesif dengan dahi berkrenyit tapi nggak pantes karena masih terlalu imut (kebayang kan?)

You're his role model
Apapun yang Anda lakukan dapat dengan mudahnya ditiru oleh anak Anda. "To your child, you are a rock star". Ihya? Akhir-akhir ini Ihya sering banget bilang “capek” kalau disuruh jalan kaki (yakin banget ini karena saya sering bilang hal yang sama saat dia minta gendong). Cara Ihya menekuk alis sama banget kayak Ayahnya. Pokoknya kalau ada hal salah yang kami lakukan, Ihya akan menasehati kami seperti cara kami menasehatinya :)

He makes verbal declarations of love
Oh yeah… Akhirnya… Inilah masa-masa di mana saya kebanjiran kata-kata: Abang kangen…deh sama Ibu, Abang sayaaang deh sama Ibu… Plus ciuman bertubi-tubi, tentunya.

He comforts you
Kalau yang satu ini Ihya tidak hanya melakukannya kepada saya. Sama tantenya juga lho… Kebetulan baru saja kemarin mengalami hal ini. Kemarin memang saya sedang sakit, dan Ihya tiba-tiba berkata: “Kalau Ibu mau minum obat kasih tahu Abang ya…” Aih… langsung lumer hati ini… Semoga tumbuh menjadi anak penyayang ya Nak.

He tries to hurt you with words
Kalau yang ini sih paling banter Abang akan bilang “Abang kesel” sambil teriak.

He gives you gifts
Yang ini sudah pernah belum ya… Kayaknya belum sih…

He celebrates your return
Kalau Anda bersedih karena si kecil menangis dan berteriak saat Anda pergi kerja, bayangkan kesenangannya saat Anda kembali. Dalam kasus saya Alhamdulillah drama pagi hari sudah jarang banget. Tapi, setelah saya pulang Ihya akan berteriak senang: “Yeee… Ibu pulaaaaang!!”.

So… does your baby love you? Insya Allah… :)

Wednesday, October 16, 2013

4 Tahun Sudah... -postingan telat-



Bulan ini, tepatnya di tanggal 3 Oktober lalu, saya resmi berstatus ISTRI selama 4 tahun. Yap, pernikahan kami (tidak terasa) sudah berjalan selama 4 tahun. Ya iya lah nggak terasa, nggak pernah dipikirin banget juga udah jalan berapa lama. Yang penting selamanya, gitu aja deh… Terus tiba-tiba, gara-gara postingan sebelumnya juga, jadi kepingin menulis sesuatu tentang perjalanan kami selama 4 tahun ini.

Oh iya, ulang tahun pernikahan ngapain aja? Saya ngasih surat, kado, dan kue (beli di luar dan rasanya nggak enak pulak). Beliau? Sudah bisa ditebak nggak akan beli dan ngerayain apa-apa. Dan saya sama sekali nggak masalah dengan hal ini. Eh, sebenernya masih takut papasan pas beli kado di mall (berarti masih ngarep Ayah beli kado ya?). Terus kemudian berpikir… nggak mungkin ah… Dan benar saja, begitulah adanya T_T. Lelaki satu ini kalo udah dateng romantisnya bakal ngebayar LUNAS ketidakromantisannya. Jadi, yasudah… tunggu aja sampe siklus berulang… siapa tahu dapet rumah dan mobil. Gyahahaha.

Sebelum masuk ke angka 4 tahun, berhubung perempuan-perempuan di keluarga saya jarang ada yng nikah cepet, saya pun berpikir akan mengikuti jejak mereka. Dulu sampai pernah bilang sama Papah: “Pah, kalau aku  nggak nikah-nikah, tolong jangan dipaksa!”. He smiled and said okay… Tapi, jreng!! Lulus kuliah belum setahun saya udah minta kawin, hahahaha. Tapi Alhamdulillah, restu udah di tangan… Saya ingat betul Papah menangis di depan dua keluarga saat perkenalan (belum lamaran padahal…). Entahlah tangisnya karena apa… Karena sedih atau bahagia… Tapi yang jelas sekarang Papah seneng banget punya seorang cucu laki-laki nan meriah seperti Abang Ihya.

Perjalanan kami ke pernikahan lumayan sulit sebenernya, tetapi Ayah memilih menyimpan semua itu sampai keluarganya setuju sama saya. Padahal butuh waktu lumayan lama untuk meyakinkan keluarga mertua untuk menerima saya yang keturunan Minang (padahal ane kan nggak dianggep anak Minang…). Selesai keluarganya setuju, tiba-tiba Mamah bilang nggak sreg punya menantu dan besan orang Betawi. Halah… ada-ada aja… kenapa tiba-tiba kesukuannya pada tinggi begini sih…??! Ya… saya coba pahami karena kebanyakan suku Betawi di lingkungan kami pendidikannya tidak tinggi, kelakuannya pun seringkali kurang sopan dan sombong karena merasa sebagai yang punya kampung. Pakai drama saya udah mau dijodohin sama sepupu jauh segala… T_T

Saat itu, kebanyakan teman-teman saya menikah lewat jalur ta'aruf. Saya? Ta'aruf apanya... wong memang sudah kenal lama kok. Beberapa orang suka mengirimkan nada-nada sindiran. Lah? Kok situ yang sewot? Hehe. Kami hanyalah anak muda, dan insyaAllah tidak ada niat untuk bermain-main semata. Makanya kami berjibaku sekuat tenaga supaya cepat sampai ke sana :)

Belum lagi duit pas-pasan… Sebagai keluarga mempelai perempuan orangtua saya merasa memiliki kewajiban untuk menanggung biaya pesta pernikahan. Tapi, kondisi keuangan Papah saat itu memang cukup menegangkan. Mau sekedar akad di rumah saja mereka merasa kurang pantas karena banyak keluarga yang ingin diundang. Saya cuma bisa minta maaf sama Papah karena nggak bisa bantu apa-apa… Sambil berpesan, jangan sampai berhutang. Alhamdulillah nggak ada utang-utangan… Malah surplus hasil angpaw. Hehehe.

Saya juga bersyukur sebagai keluarga kami bisa bekerja sama dengan baik… Nggak ada acara adat atau apa lah yang bisa membuat biaya membengkak. Nggak ada seragam-seragaman. Mamah dengan sangat PD berkata: Sori ya… uang pas-pasan nih, jadi nggak pakai seragam ya!!. Bahkan ada rasa bangga terselip di hati ini, kami tidak terlena dengan alasan ingin menyenangkan keluarga. Kami mampu untuk menakar kemampuan kami. Sejujurnya sih, ada juga yang bilang seragamnya jelek lah… Wis, mboten nopo-nopo… Kami paling paham kemampuan kami.

Setelah menikah kami mengontrak rumah di Depok selama setahun. Selama pernikahan, tentu saja banyak adaptasi… Lupakan cerita putri-putri, they lied! Dari mulai adaptasi dengan karakter masing-masing, adaptasi dengan karakter mertua masing-masing, adaptasi dengan kondisi keuangan yang tiba-tiba mblesek karena konflik suami dengan atasannya.

Setelah punya anak, Alhamdulillah… tabungan kami 0 bahkan minjem orangtua untuk keluar dari RS. Tapi memang bahagia memiliki anak mengalahkan segalanya. Alhamdulillah juga saya nggak sempat mengalami yang namanya baby blues… Walaupun sempat berjibaku dengan perjuangan memberikan ASI secara langsung untuk Ihya dan masalah keluarga di sana dan di situ, tapi… Here we are!! 4 tahun. Ealah… baru 4 tahun memang… Tapi tidak ada puluhan tahun tanpa tahun pertama kan?

Lama kelamaan saya yang penyuka momen-momen penting dan romantisme dalam bentuk selebrasi jadi ikut suami yang cenderung cuek… Dirayakan atau nggak toh bukan esensi utama. Udah nggak ada hasrat buat makan malam atau jalan ke mana… gitu. Tapi Sabtu kemarin akhirnya kita jalan berdua ke GanCit (nggak penting banget ya?). Nonton Gravity IMAX dan beli vacuum cleaner. Plus dapat whisker baru pengganti whisker lama yang sudah rusak dan sarung tangan silikon. Haha. Ada perayaan atau tidak, insyaAllah di dalam hati maupun terucap lisan, kami tetap saling mencinta. Mungkin ada kalanya naik turun, tapi menurut saya itu lebih wajar daripada balas-balasan komen mesra di FB tiap hari. Apapun, I love you, Ayah Ihya… Kita sama-sama terus sampai ke syurga ya… (“,)

Tuesday, October 15, 2013

My Superhero

Bismillahirrahmanirrahiim...

Sudah cukup lama saya nggak sakit sampai lemas dan demam begini... Telepon dari kantor dan entah siapa pun terpaksa saya diamkan. Bukan nggak mau angkat, bener deh... Tapi setiap bicara (bahkan sendawa atau menguap) rasanya sakiiit banget...

Ada sisi positifnya sih, hari ini berarti satu hari lagi bersama Ihya. Itu anak seneeeng banget... Ihya sampai bilang begini: “Ibu kalau mau minum obat bilang Abang ya...”. Manis banget kan? Tapi ada sisi “sepet”nya juga. Badan lagi lemes mes mes dan Ihya hanya mau sama saya. Jadilah hari ini Ihya makan dan mandi sekitar jam 11. Yuk mari...

Dan niat awal yang tadinya pingin istirahat jadi susah terlaksana karena Ihya lompat-lompat di kasur, termasuk ngelompatin saya yang sedang nyeri sendi sekujur tubuh. Duh, kok malah curhat ya... Sebenarnya saya hanya ingin mengucapkan terimakasih sama seseorang.

Ceritanya nih, tanggal 9 Zulhijjah Ayah Mertua saya sakit. Perutnya melilit nggak karuan. Papa yang biasanya lucu hampir dua harian itu merintih-rintih aja... Kebetulan kami sedang menginap di sana. Naluri anak pertama kali ya... Ayah lah yang bawa Papa ke dokter sampai terakhir cek lab dan ketahuan kalau Papa menderita usus buntu. Googling segala macam informasi untuk tahu cara meringankan gejala yang Papa rasakan. Beli larutan dan madu. Pokoknya judulnya bolak balik ke sana ke mari.


Dan kemarin malam, dengan keletihan yang saya yakin luar biasa... Saya sakit. Duh, cucok banget deh waktunya. Habis ngurus Papa kemudian ngurus saya. Ngurus Abang juga tentunya. Saya kemudian spontan berdoa... Duhai Allah, laki-laki ini luar biasa baiknya. Balaslah dengan syurga baginya sang anak dan suami yang sholeh.

Monday, June 4, 2012

Ini Tidak Adil!!

38 tulisan, baru tanggal 1 Juni kemarin dapet stat pengunjung blog paling tinggi, gara-gara memajang foto Ihya hasil karya suami. Hah... marilah kita coba cara ini lagi, hehe *kesannya pemburu stat banget sih...*

Nggak kok, hanya nggak tahan untuk tidak menunjukkan foto si anak lucu karya si bapak lucu. Cekidot.




Tambah cinta...