Showing posts with label My Thoughts. Show all posts
Showing posts with label My Thoughts. Show all posts

Friday, August 15, 2014

Siap-siaaap!!

Dalam 2 tahun ke depan, insya Allah saya akan menekuni profesi baru: Ibu Rumah Tangga (IRT). Awalnya memang nggak sengaja, walaupun sebenarnya sudah diniatkan sejak lama (tapi masih maju mundur). Pada bulan Juli 2013 saya pindah kerja ke tempat baru dengan pertimbangan: mendapat gaji yang lebih baik, bagian yang (saya pikir) lebih dekat dengan passion saya di bidang people development, tempat kerja yang tidak terlalu jauh, dan kejenuhan di tempat lama yang sudah membuat hari-hari saya tidak bersemangat. Padahal meninggalkan anak dari pagi sampai sore itu butuh alasan yang kuat lho... Saat itu saya masih ingin bekerja, IRT masih sebatas kepingin kepingin doang dan nggak jelas bagaimana rencana konkretnya.

Januari 2014 saya resign. Padahal secara umum saya cukup bahagia di tempat kerja. Alasannya utamanya karena Papah ingin saya membantu beliau di usahanya. Pada kenyataannya sih saya belum bisa banyak membantu beliau karena ini bidang yang sama sekali baru buat saya: software kontraktor. Namun, saya amat sangat tegiur dengan bayangan bahwa saya bisa punya waktu yang lebih fleksibel bersama Ihya.

Februari 2014 suami mendapatkan beasiswa Master dari pemerintah Australia selama 2 tahun. Saya tidak henti-hentinya bersyukur atas hal ini... Bukan sekedar karena saya bangga dengan pencapaian suami, tetapi akhirnya saya bisa menjadi IRT. Sempat kepikiran untuk kerja serabutan di sana demi menambah tabungan, tapi ndilalah hadirlah bayi kecil di rahim saya... Nampaknya memang Allah mencoba mengingatkan apa keinginan dalam doa-doa saya...

Kenapa sih pingin jadi IRT? Buat saya sederhana saja sih... Saya ingin memberikan standar emas dalam kehidupan anak-anak saya. Gampang? Ya nggak lah... Tapi anak-anak ini yang kelak akan saya pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Anak-anak ini yang kemudian akan menuntut saya jika saya lalai terhadap mereka. Walaupun tidak ada larangan untuk Ibu untuk ikut bekerja dan mencari nafkah, tetapi memang telah ditetapkan itu lah tanggung jawab Ayah. Ibu menjadi pendidik anak-anak di rumah.

Semua orang di ibukota ini pasti tahu, biaya hidup itu mahal bung!! Bukan untuk bermewah-mewah lho... Sehingga akhirnya ayah dan ibu terpaksa bekerja. Sampai saat ini pun saya nggak punya masalah saat seorang Ibu lebih memilih untuk bekerja. Lha saya juga begitu kok... Tapi ada masanya, ketika saya berefleksi mengenai tumbuh kembang anak, saya merasa seharusnya saya melakukan yang lebih baik dari apa yang saya lakukan sekarang. Bahkan dengan kondisi saya yang cukup disirikin sama teman-teman (rumah dekat, ART baik, mertua deket rumah), saya merasa ini semua nggak cukup. Saya nggak bisa mengharapkan yang terbaik karena saya juga nggak total. Ini konsekuensi logis. Saya menyerahkan hasil pada Allah anak saya akan menjadi seperti apa dan bagaimana... tapi setidaknya saya memberikan yang terbaik.

Perempuan juga sekarang sekolah tinggi (bahkan terlihat lebih rajin di kelas dibanding teman-teman laki-lakinya... hehe). Wajar lah jika kami mengharapkan itu semua berujung pada penghidupan yang lebih baik. Dan bukan cuma soal uang semata, tetapi juga aktualisasi diri. Deuh... klasik banget ya aktualisasi diri?? Jujur sih... selama kurang lebih 6 tahun saya bekerja, saya lebih merasa cari duit dibandingkan aktualisasi diri. Haha. Ini juga yang membuat saya akhirnya berusaha ikhlas melepas pekerjaan.

Kalau ditanya, nanti soal uang gimana? Saya hanya bisa jawab: nggak tau. Insya Allah setiap orang sudah diatur rezekinya... *bwahaha... sederhana amat ya jawabannya...*. Soalnya selama ini saya tuh ribed, kebanyakan mikir, agak ambisius, dll. Tapi ternyata saya juga nggak puas dengan semua itu. Dan saya sudah beberapa kali menyaksikan bahwa rezeki-rezeki yang dulu ada dari kantong Ibu bisa pindah ke kantong Ayah dengan cara-cara yang tak disangka-sangka.
Kalau ditanya, nanti nggak bosen? Nah... ini sebenarnya lebih mudah... Kalau rezeki urusan Allah, kalau ini urusan saya. Mau saya bosen atau nggak ya ada di tangan saya. Kalau saya ternyata jadi IRT malas ya salah saya sendiri dan saya pasti bisa megubahnya.


Menjelang menyandang status IRT ini saya mencoba berilmu sebanyak-banyaknya dan menyiapkan diri... Semoga ini keputusan terbaik, insya Allah saya mengiringinya dengan niat baik... Bismillah :)

Tuesday, August 12, 2014

Kenangan Tentang Dia

Ada sebuah berita yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, yang membuat kenangan saya melanglang ke mana-mana... Lewat Facebook (FB) saya cari namanya. Membaca linimasa yang jarang sekali muncul karena memang si gadis ini sudah tidak pernah posting apa-apa.

Saya kenal dia, di tahun 2009. Tidak lama setelah lulus saya bekerja sebagai guru di sebuah sekolah dengan konsep yang unik dan tidak konvensional. Saya bertugas untuk menjadi mentor di kelas paling tinggi yang siswanya setara dengan usia 2-3 SMA. Ada empat orang di kelas kami, salah satunya... dia.

Karena cuma berempat, tentu saja lebih mudah bagi saya untuk mengenal dan menjadi mentor bagi mereka. Namun, jangan tanya susahnya menyusun bahan ajar. Usia beda-beda. Karakter beda-beda. Latar belakang keluarga beda-beda. Kalau di sekolah konvensional guru nggak akan banyak ambil pusing dengan perbedaan-perbedaan itu dan punya target bahan ajar.

Selain mengajar, kami juga sering berbagi masalah pribadi. Karena saya tahu suka atau tidak suka pasti berpengaruh terhadap kondisi mereka saat belajar. Sampai suatu hari dia menghampiri saya, dia bilang ingin cerita. Inti ceritanya adalah: dia menyukai sesama jenis (perempuan) dan sudah punya pacar. Deg!! Rasanya pingin jedotin kepala ke tembok. Rasanya nggak pingin jadi guru, apalagi jadi psikolog (cemen banget sih gue...). Itu reaksi pertama saya.

Kemudian saya dengarkan ceritanya, yang ternyata menjelaskan bahwa hubunganmereka sudah berlangsung cukup lama. Awalnya dia bertemu dengan pasangannya di sekolah. Kok bisa? Padahal beda umur mereka cukup jauh... Ternyata pasangannya ini mengajar taekwondo dan kemungkinan sudah menjadi lesbian pada saat itu.

Hubungan mereka berlangsung terus. Dia kemudian mulai jarang muncul di sekolah dan kemudian tidak masuk sama sekali. Kemudian ia melepas hijabnya dan pergi dari rumah. Orangtuanya jelas melarang. Tidak ada kompromi soal orientasi seksual, karena homoseksualitas dilarang dalam Islam dan batasnya sangat nyata. Sementara dia sudah sedemikian terikatnya dan hubungan mereka bukan lagi sekedar telpon-telponan atau jalan bareng dan makan di mall. Mereka sudah terlibat aktif secara seksual.

Ibunya sering menghubungi saya... berharap saya bisa memberikan solusi atau paling tidak mendengarkan ceritanya. Terakhir, saya diminta menemui dia di panti anak Cipayung. Dia hidup di jalan... hidup dari mengamen dengan pasangannya. Sampai akhirnya ia terdampar di panti anak Cipayung. Akhir yang sama sekali tidak indah.

Akhir-akhir ini ada 2 komik yang diketahui mengandung pesan bahwa LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) adalah hal yang wajar dan normal. Masyarakatlah yang seharusnya menerima hal tersebut. Bahwa selama ini hak-hak mereka telah banyak dikebiri. Dan diri mereka telah disakiti.
Saya menganggap mereka manusia, sama seperti saya. Tapi jika sampai mempengaruhi seorang heteroseksual untuk menjadi seperti mereka... sungguh saya tidak terima. Jika bicara keyakinan... jelas... saya menentangnya karena dilarang dalam Islam. Sesederhana itu. Terbayangkah jika LGBT adalah sesuatu yang wajar? Manusia tidak lagi bereproduksi dengan cara yang alami. Mungkin tetap bisa dilakukan dengan bank sperma atau sukarelawan sel telur. Kemudian nasab tiap orang menjadi kabur. Tidak ada lagi Ibu dan Ayah, melainkan Ibu Ibu atau Ayah Ayah. Sementara dalam tahap perkembangannya anak membutuhkan peran Ibu dan Ayah. Yah... mungkin mereka tidak peduli, seperti merekapun tak apa-apa...

Khusus untuk dia... Dia kemudian meninggalkan ajaran agamanya... Meninggalkan keluarganya... Tercabut dari kerabat yang sebenarnya baik-baik saja... Hidup di jalanan dan kemudian masuk panti anak yang diisi oleh anak-anak bermasalah (jangan bayangkan mereka ditangani satu-satu oleh psikolog ya...)... kehilangan kesempatanya untuk mendapatkan pendidikan. Semua (katanya) atas nama cinta. Padahal bukan cinta semata yang membentuk dan mempertahankan hubungan yang sehat... di sana ada komitmen. Lalu adakah komitmen dalam cinta buta ini? Entahlah... Apakah dia masih merasa bahagia dengan cintanya ini? Entahlah...

Dia sayang... Di manapun kamu berada, Kakak mendoakanmu... Jangan kalahkan cintamu pada Allah. Ia lah sesungguhnya Maha Pencinta yang menganugrahi kita dengan rasa cinta.


Monday, March 24, 2014

Jangan Itung Untung Orang!!

Bismillahirrahmanirrahiim...

Kata bijak di atas konon asalnya dari Cina, ya... paling nggak menurut Papah begitulah prinsip kolega-koleganya yang memang keturunan Tionghoa.

Kayaknya mudah ya... hitung saja untung yang Anda dapat dan tutup mata dan telinga atas untung yang didapat orang lain. Saya memaknainya secara luas sebagai: syukurilah apa yang menjadi milikmu, apa yang kau punya, dan jangan lihat kenikmatan orang lain seolah kamu berhak atasnya.

Kadang kalimat di atas jadi becandaan antara saya dan suami kalau lihat teman atau rekan yang sudah punya ini itu. Tapi ternyata saya tidak pernah benar-benar meresapinya sampai dengan pagi ini.

Ada suatu kejadian yang membuat saya merasa iri akan sesuatu yang dimiliki orang lain. Kepingin apa yang dipunya orang? Sering!! Tapi iri? Saya bukan orang suci, tapi saya boleh bilang hal seperti itu jarang saya rasakan. Kalaupun ada biasanya saya bukan iri dengan harta benda. Namun saat itu berbeda.

Sampai di satu titik saya merasa iri dan marah. Kanapa dia dapat dan saya nggak? Kemudian saya mulai berimajinasi bahwa apa yang ia dapat haruslah saya dapat juga. Saya banyak mengalah dan saya selalu nrimo, sekarang saatnya. Sini kasih ke gue!! *gaya ala tokoh antagonis di sinetron sambil nadah*.

Setelah titik itu... ada lagi titik lain, saya sedih, kesal, kecewa, dan bahkan tidak mood untuk melakukan apapun hampir selama dua minggu. Ya, sebegitu dalamnya. Bahkan itu semua mempengaruhi tingkat kesabaran saya dalam menangani Abang.

Alhamdulillah suami saya menyadari bahwa ada yang berubah dalam diri saya. Katanya saya terlihat stress akhir-akhir ini dan mengajak saya nonton (hemat) – kalo nggak mana gue mau, ntar yang ada tambah stress. Hehe- hari Senin kemarin. Kami janjian di mall layaknya orang pacaran. Anak titip dulu lah ke ART. Setelah itu kami ngobrol santai ke sana ke mari sampai kemudian saya menceritakan semua yang saya rasakan. I cried (again).

Kami berkesimpulan sikap yang paling sehat untuk diambil saat ini adalah jujur pada diri sendiri. Saya besar (secara sadar, tanpa didoktrin oleh orang tua) untuk menjadi anak yang tidak banyak menuntut, nrimo, dan (sok) kuat. Ada baiknya, tetapi sama sekali nggak sehat saat itu semua dipendam dan jadi penyakit hati yang bikin kotor.

Tapi saat shalat dhuha pagi ini saya kembali teringat, “jangan itung untung orang”. Saya kembali menangis... hati saya masih sakit dan perasaan iri itu masih ada. Tapi pelan-pelan saya mencoba menghitung “untung” yang saya punya. Wajah cantik dan rupawan (huekk!!), otak cerdas dan pintar (huekk lagi!!), anak yang sehat dan cerdas (walaupun sekarang lagi sakit), suami yang ganteng dan pengertian (dulu banyak yang naksir loh!!), pekerjaan, bisa berbagi rejeki dengan orang lain, harta benda yang walaupun nggak seberapa tapi kami kumpulkan sendiri, nggak kena kabut asap kayak di Riau, punya kesempatan ke luar negeri menemani suami, dll... dll. Kalau saya hitung semua mungkin dhuha 12 rakaat juga nggak cukup.

Jujur dan melepaskan emosi memang baik, tapi saya pikir bersyukur tetap lebih baik. Kadang saat kita jujur orang lain harus tersakiti. Namun seandainya saya bisa ikhlas maka tak perlu ada yang tersakiti. Karena semestinya saya tahu, rejeki yang sudah Allah siapkan buat saya tidak akan lari ke manapun. Saya hanya perlu mencarinya. Bahkan kadang saya tidak perlu menginginkannya.

Maka doa saya pagi ini jelas sudah, jadikanlah diri ini penuh syukur dan janganlah aku kufur dari nikmatMu.

Salam.


Sunday, November 3, 2013

Tentang Naik Gaji...

Bismillahirrahmanirrahiim…

Berhubung hari Jumat/1 November 2013 kemarin dilaksanakan Sidang Pengupahan untuk menentukan UMP DKI Jakarta di tahun 2014, sepanjang minggu kemarin pembahasan yang paling ramai baik on line maupun off line (bisa ditebak) adalah soal buruh yang menuntut kenaikan upah. Buruh sebenarnya buat saya merujuk pada semua orang yang berstatus karyawan atau pegawai. Direktur selama dia digaji dan bukan pemilik perusahaan ya tetap buruh lah namanya… Termasuk saya. Tapi “buruh” yang ramai seminggu kemarin adalah pekerja pabrik yang rata-rata pendidikan tertingginya setingkat SMA.

Tahun ini berita lebih ramai lagi karena tuntutan buruh nggak tanggung-tanggung, 3,7 juta. Glek… Saya cuma bisa menelan ludah. Kemudian media (sosial) pun ramai. Seperti biasa ada pro ada kontra. Yang pro bilang bahwa wajar mereka minta kenaikan karena setiap orang punya hak untuk hidup layak. Yang kontra bilang, ajegile… sarjana sekolah susah-susah gajinya juga banyak yang nggak nyampe segitu…

Terus, saya di mana? *Tarik napas dulu…*. Pertama, saya sudah berkeluarga. Dengan tujuan masa depan (finansial) yang lebih baik saya bekerja, tidak seperti mayoritas Ibu di jaman Mamah saya yang kebanyakan menjadi Ibu Rumah Tangga walaupun mereka mengenyam pendidikan tinggi. Saya benar merasakan bahwa kebutuhan hidup saat ini luar biasa. Tidak cukup dengan kebutuhan dasar sandang-pangan-papan, saat ini ada kebutuhan untuk pendidikan, pergaulan, aktualisasi diri, deelel. Yang walaupun jumlahnya tidak fantastis, tapi lumayan makan anggaran. Intinya, hidup jaman kini bukan cuma yang dasar-dasar saja… Apalagi dengan derasnya arus informasi dan konsumerisme di sekitar kita. Salahkah? Menurut saya, idealnya kita hidup dengan apa yang kita punya. Jangan berutang. Kalau kurang ya cari tambahan, tapi yang halal dan wajar. Betul kan? Apalagi di Islam kita kenal dengan istilah zuhud. Tapi dengan arus informasi sedemikian derasnya, susah sekali bukan untuk menahan untuk tidak mengikutinya?

Kedua, saya juga buruh, tapi lulusan pendidikan tinggi, Fakultas Psikologi UI. Alhamdulillah dulu saya nggak susah dalam mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Sebagian orang mengeluh susah banget dapat pekerjaan, padahal sama-sama sarjana. Ternyata ada hasilnya juga saya dulu kuliah. Kuliah di PTN tuntutannya tinggi boo… Kalo cuek pasti ketinggalan. Untuk dapat IPK 3,21 saya harus bisa menyeimbangkan antara kuliah dan kegiatan ekstra kurikuler. Namanya juga anak muda, mana rela sih ngendon di kelas aja? Kalau ditarik lebih jauh, saya juga berjuang keras untuk bisa masuk PTN dengan passing grade Fakultas Psikologi yang saat itu terbilang tinggi. Tujuan saya masuk PTN ada 3, pertama… saya sekolah di sekolah negeri yang bisa dibilang unggulan. Hampir semua murid tujuannya adalah PTN. Owh… saya nggak mungkin dong santai-santai sementara mereka belajar?? Bisa malu nggak habis-habis nanti kalau nggak lulus SPMB. Kedua, saya anak sulung dan saya harus jadi contoh. I have to set high standard. Ketiga, sesederhana karena PTN murah, orangtua saya bukan orang kaya. Walaupun kena AFEE 8 juta, tapi saya masih bisa menikmati biaya semester 1,3 juta. Indahnya…

Sebagai sesama buruh, saya harus bilang pekerjaan saya nggak istimewa. Dan saya sudah sampai pada satu kesimpulan jika ingin menjadi istimewa, jadilah spesialis atau pengusaha. Gaji saya juga biasa saja, tergambar dari nggak banyak angka yang nyisa saat akhir bulan, haha.

Balik lagi ke persoalan Buruh yang meminta kenaikan upah hingga 68% (wow), lagi-lagi saya paham kalau seseorang mengingikan gaji besar, hidup nyaman, punya aset, dll. Tapi kira-kira pengusaha sanggup menopang itu semua nggak sih? Kenaikan UMP bukan cuma soal penghasilan tiap bulan lho… Ngaruh juga ke THR, Jamsostek, Asuransi Kesehatan, Bonus. Bukannya jahat, tapi pengusaha bikin usaha ya buat untung kan yah… Kalau cuma impas doang untuk bayar karyawan mah namanya kerja sosial. Harap diingat juga bahwa kemampuan perusahaan berbeda-beda. Ada kelas kecil menengah – besar. Bidang industri pun berpengaruh. Nggak semuanya di bisnis energi atau FMCG kan?

Kedua, kemungkinan karena nggak mampu untuk menopang kenaikan yang adil, perusahaan kemudian membuat persentase kenaikan yang besar bagi pegawai setingkat SMA dan kenaikan yang amat kecil bagi tingkat di atasnya. Kenaikan bahkan terkesan asal naik, padahal nutup inflasi aja mungkin nggak. Jadi salah besar bagi mereka yang bilang… santai aja lah… toh kalau gaji pegawai tingkat terendah naik, maka lo akan dapat kenaikan dengan presentase yang sama. Polos amat… Lalu, masih adil nggak?

Serius, ini bukan soal ngiri. Saya senang dan bahagia kalau kita semua dapat gaji setinggi-tingginya. Tapi inget deh, adil belum tentu sama rata. Saya kebetulan pernah ikut proses Job Evaluation di kantor. Versi Hay menyebutkan bahwa ada 3 faktor yang menjadi penilaian dalam Job evaluation: Accountability, Know How, dan Problem Solving. Ketiga faktor itu (dan turunannya) yang membedakan nilai setiap pekerjaan. Setiap tingkat jabatan membutuhkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan dengan tingkat yang berbeda pula. Hasil penilaian ini nantinya juga akan berpengaruh terhadap remunerasi pegawai.



Yah, begitulah… saya dan suami yang harus kerja dua-duaan memang nggak rela kalau gap gajinya kemudian menjadi sekecil itu. Lagi-lagi, bukan karena ngiri, tetapi karena kemudian hasil yang kami dapat tidak lagi menggambarkan kontribusi setiap orang bagi perusahaan. Apalagi melihat banyaknya berita tentang buruh yang kredit Kawasaki Ninja, bawa-bawa Ipad, nenteng BB Q10. Sesuatu yang saya dan suami nggak punya keinginan untuk membelinya, karena kami sadar, menuruti mode nggak akan selesai, kami harus perpijak pada apa yang kami butuh. Saat ini baru bisa bergerak di situ, soalnya…

Eniwei… kenaikan UMP sekitar 200 ribu saja. Nggak gede, tapi mengalahkan kenaikan gaji saya tahun lalu yang cuma 100 ribu perak karena perusahaan shock dengan kenaikan UMP sekitar 46%.
Saya berdoa, keadaan ekonomi Indonesia membaik, nggak ada lagi korupsi dan pungli sehingga gaji kita semua bisa naik dengan cara yang alami dan wajar, bukan semata-mata karena tuntutan. Amin.

Oia, kita sama-sama belajar hidup zuhud kali ya? Utamakan yang penting dan sesuai kebutuhan dan jangan mengusahakan membeli apa yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Seperti kata suami saya (yang kesederhanaannya mengagumkan):

"There is no point in spending money you don't have, to buy things you don't need, to impress people you don't know".

Tuesday, October 29, 2013

Love Your Self


Bismillahirrahmanirrahiim…

Sebelumnya saya pernah sangat menggemari serial dari negeri Korea alias K-Drama. Eh, tapi sebenernya kalau dipikir-pikir tingkat kegemaran saya nggak terlalu parah sih kalau dibandingkan beberapa orang yang saya kenal. Serial Korea yang pertama kali membuat saya jatuh cinta adalah Autumn in My Heart. 18 keping CD dan nyaris semuanya sukses bikin saya nangis bombay (eh, bawang merah ding… karena asli nangis sampai bengkak gitu…). Ceritanya bagus dan menyentuh banget. OSTnya pun keren karena ternyata ada yang diambil dari musik klasik. Akhirnya juga nggak mainstream: sad ending. Errr… Siapa sih sutradaranya??! Saya pencinta happy ending tauuuk…

Setelah Autumn in My Heart, seinget saya cuma dua serial K-Drama yang berkesan: Sassy Girl Choon Hyang dan Jewel in The Palace. Nah, yang terakhir asli keren. Serial ini bercerita tentang Jang Geum yang menjadi dokter perempuan pertama di Korea itu loh…

Setelah gelombang serial drama Korea, kemudian masuklah gelombang musik Korea. Saya ingat betul, di tahun 2009 saat saya masih menjadi Mentor di sebuah sekolah, 2 dari 4 murid saya penggemar berat DBSK sampai pada tahap yang mengganggu karena mereka bicara tentang DBSK hampir setiap saat.

Kalau diamati, wajah orang Korea khas sekali. Sandra Oh is a perfect representation. Dagu yang panjang dan tumpul serta mata super sipit tanpa kelopak adalah ciri khasnya. Tapi saya hampir nggak menemukan ciri tersebut pada artis Korea yang saat ini digemari. Bukan karena mereka bermutasi atau apa, tapi mereka berubah karena… operasi plastik. Sebagai seorang muslim, hal tersebut jelas terlarang buat saya. Tapi kan rata-rata orang Korea bukan Muslim? Okay… terus kenapa ya bahkan di Amerika Utara sana operasi plastik menjadi sesuatu ya… katakanlah tidak disarankan?

Saya teringat dengan salah satu episode di Oprah Winfrey Show. Saat itu Oprah mewawancarai seseorang yang kecanduan operasi plastik, Jenny Lee. Kecanduan berarti ia tidak pernah merasa cukup dengan tubuh yang ia miliki. Pun setelah mengubahnya ia tidak kunjung merasa cukup. Pertanyaannya, sampai kapan? Dan sebenarnya menurut saya, Jenny sebelum operasi sama sekali tidak jelek. Ia hanya memiliki definisi yang berbeda mengenai kecantikan. Definisi yang dibangun oleh stereotipe di sekitarnya.

http://rollingout.com/
Dan itu juga yang terjadi di Korea Selatan saat ini. Definisi mereka tentang cantik telah dibentuk oleh dunia luar dan kemudian dipaksakan kepada sesama mereka sampai di satu titik yang normal justru menjadi alien. Coba baca artikelnya Ashley Perez ini deh.
Yap, itulah yang saya pikirkan tentang selebriti Korea (dan bahkan telah mewabah kepada “non-selebriti”). Menurut saya, mereka lemah karena telah cukup terganggu dengan definisi kecantikan yang dibuat oleh entah siapa atas dasar apa sampai mengubah wajah mereka. They cut and put something in their body because something that others have defined… Miris banget nggak sih?

Setelah itu, saya lupa sejak kapan, tetapi saya kehilangan ketertarikan untuk menonton dan mengkonsumsi materi hiburan dari Korea Selatan. Saya berharap masyarakat tertular hal yang sama. Saya ingin mereka pergi dari televisi. Karena saya nggak sampai hati mereka yang kemudian menjadi kegemaran dan panutan anak-anak kita kelak. Kebayang nggak, kalau satu hari anak-anak Indonesia (yang notabene sawo matang, tidak terlalu tinggi, dan berambut ikal) ingin memiliki bentuk fisik yang sama seperti selebritis Korea dan melakukan apapun untuk mencapainya.

Untuk K-Drama dan K-Pop Lovers, maaf kalau tersinggung… Tapi saya bener-bener nggak ngerti apa yang digemari dari penyanyi yang suaranya biasa-biasa saja… Dengan gaya tari yang itu-itu saja… Dan dengan tubuh serta wajah yang dipermak sana sini.
Artikel yang tautannya saya berikan di atas juga bisa menjadi gambaran bagaimana masyarakat Korea bukan hanya mengubah definisinya tentang kecantikan, tetapi juga memaksakan (baik sadar maupun tidak) definisi mereka. Patut dibaca.

Sebagai penutup, Sandra Oh yang saya sebutkan di atas salah satu pemeran dalam serial favorit saya: Grey’s Anatomy. Syukurlah ia besar dan tinggal di Amerika, kalau tidak mungkin dia sudah kehilangan identitas yang justru menjadikannya unik. Saya pikir masyarakat Korea yang melakukan operasi plastik harus berkaca kepada Sandra Oh. Matanya masih tanpa kelopak dan dagunya masih tumpul, tapi gosipnya Sandra Oh bakal jadi Bond Girl selanjutnya (kalaupun nggak jadi, jelas karena usianya sekarang sudah 42 tahun). See?




Pesan saya sederhana, love your self :).

Thursday, October 17, 2013

Nak, Saat Engkau akan Menikah Nanti…


Pilihlah muslimah yang baik agamanya. Ibu tahu dan paham, yang rupawan, keturunan terpandang, dan banyak hartanya mungkin membanggakan. Tetapi Rasulullah sudah tetapkan. Maka kita turuti saja, agama yang paling utama. Semoga engkau juga mampu memantaskan dirimu baginya.

Pilihlah ia yang berhijab rapi. Ya… Ibu tahu, hijab memang bukan jaminan. Paling tidak bertambah satu kepatuhannya pada perintah Allah. Ia pula yang kelak akan mendidik anak-anak perempuanmu untuk berhijab. Mari kita permudah saja tugasmu.

Pilihlah ia yang mencintai keluarganya dengan tulus, karena kelak (cepat atau lambat) ia akan mencintai keluarga kita dengan sama tulusnya. Istrimu kelak akan menjadi pintu hubungan Ibu dengan kamu dan anak-anakmu.

Pilihlah ia yang cerdas dan haus ilmu, karena ia yang akan mendidik anak-anakmu. Dukunglah jika ia ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Jangan ajak calon istrimu untuk hidup susah. Jaman kini perempuan bekerja banting tulang untuk memperbaiki taraf hidup diri dan keluarganya, masa kau tega ajak ia hidup susah?? 
Namun, pilihlah ia yang sederhana dan tidak terlampau cinta pada dunia. Agar kelak saat Allah berkehendak lain, ia tetap tegar bersamamu.

Menikah memang harus disegerakan, tapi pastikan kau mampu untuk bertanggungjawab akan kehidupan istri dan anakmu kelak. Ibu dan Ayah tentu bersedia membantu. Tapi dengan mandiri nilaimu tentu akan bertambah.

Menikah itu kebaikan. Walimah juga sebuah kebaikan. Namun, tak perlulah kita bermegah-megahan, apalagi jika uang pas-pasan. Niscaya kesederhanaanmu akan berbicara tentang bagaimana engkau teguh dalam pendirian. Jika engkau ingin walimah yang sederhana, maka insyaAllah Ibu dan Ayah akan mendukungmu.

Ibu pernah merasakan sedihnya harus berjilbab pendek saat menikah. Sedih karena di saat Ibu ingin beribadah dan meraih ridho Allah, justru berkurang kepatuhan Ibu padaNya. Tak usah pula disebutkan wajah yang menor dengan make-up aneka warna. Belum lagi melihat pengantin yang terpaksa melewatkan waktu sholat karena tak mau make-up di wajahnya luntur. Ada juga yang memaksakan adat istiadat sehingga mendekati syirik. Ah… miris betul. Nanti pernikahanmu jangan sampai seperti itu ya Nak, insyaAllah Ibu akan bantu sekuat tenaga.

Foto pre-wedding memang sedang jadi tren saat ini, mau kamu ikuti juga tidak masalah. Asal jangan karena beberapa lembar foto lantas berkurang keberkahan dalam pernikahanmu. Jika belum menikah, pegang-pegangan ya tetap zina namanya. Apakah itu yang akan kita banggakan dan dipajang untuk dilihat tamu-tamu undangan?

Muliakanlah istrimu dengan menjadikan satu-satunya bidadari di dunia, tidak akan pernah habis kebaikan dari seorang istri yang kau pilih dengan menimbang keimanannya.

Ajaklah istrimu untuk bermanfaat bagi umat. Dunia terlalu besar untuk dilewatkan selamanya di dalam rumah. Ajak ia keliling dunia agar semakin nampak kebesaran Allah di mata kalian.

Setelah menikah, simpan rapat masalah kalian untuk kalian berdua, InsyaAllah kalian akan mendewasa. Ingatlah, cinta tidak akan selamanya membara. Syaithan tidak akan pernah berhenti menggoda. Setiap hari adalah ujian dan cobaan. Namun, pernikahan tidak semata-mata soal cinta. Pernikahan adalah janji yang kamu buat atas nama Sang Pencipta, tidak ada yang lebih baik selain menjaganya.

***

Tulisan ini semacam dialog imajiner antara saya dan Ihya. Ihya baru berusia 3 tahun. Pernikahannya mungkin masih belasan tahun di depan. Ini hanya pesan saya sebagai seorang Ibu. Siapa tahu saya nggak sempat berpesan kepada Ihya soal ini. Semoga suatu hari nanti kamu membacanya ya Nak…

*) Oia, tulisan ini juga sebenarnya universal. Bisa untuk anak laki-laki ataupun perempuan, tinggal menyesuaikan saja :)