Showing posts with label Cerita Adelaide. Show all posts
Showing posts with label Cerita Adelaide. Show all posts

Monday, October 5, 2015

Victor Harbour & Urimbirra



Bismillahirrahmanirrahiim…

Ceritanya nih, laki-laki kecil di rumah sedang Spring Holiday selama dua minggu. Dan laki-laki besar juga sedang liburan sebelum mulai trimester berikutnya. Dan ini berarti saatnya kembali memberdayakan Getz untuk jalan-jalan!!

Dalam dua minggu ini kami sempat mengunjungi beberapa tempat. Dan semuanya berkesan buat saya. Bukan cuma soal tempatnya, tapi yang terpenting Ihya senang dan menikmati sesi jalan-jalannya. Jujur saja, salah satu momok saya dan Bunny kalau mengajak Ihya jalan-jalan adalah mood-nya yang tiba-tiba berubah. Entah karena masalah kecil, capek, atau sedang pingin mengerjakan kegiatan yang lain.

Destinasi pertama adalah Victor Harbour. Victor Harbour adalah kawasan wisata pantai dengan laut yang, Masya Allah, bagus banget!! Warnanya biru terang yang sepertinya efek dari langit Adelaide yang biru dan bersih. Dari bulan Mei – Oktober setiap tahun ada rombongan paus yang melintas untuk berkembang biak. Tapi tur Whale Watching-nya sendiri berharga 60 AUD per orang *mundur teratur*. Ada juga SA Whale Centre, tapi karena waktu yang terbatas kami hanya sempat mengunjungi dua tempat: Victor Harbor (termasuk Granite Island) dan Urimbirra Wildlife Park.

Urimbirra Wildlife Park

Tempat ini sebenarnya seperti kebun binatang mini dengan binatang khas Australia. Sebagian dilepas bebas dan sebagian lagi ada di dalam kandang. Berhubung akhirnya untuk pertama kali kami berinteraksi langsung dengan kanguru dan emu, jadilah super super semangat dan berasa asyik banget tempatnya. Sayangnya kami melewatkan sesi ramah tamah dengan koala. Tapi secara keseluruhan cukup menyenangkan. Selain itu ada juga berbagai jenis reptil.

Sayangnya di sini kami agak terburu-buru karena mau lanjut ke tempat selanjutnya yaitu Victor Harbour.
Untuk informasi lengkap bisa dilihat di sini: http://urimbirra.com.au/

Victor Harbor

Nah… sebagai penyuka pantai, sukak banget sama tempat yang satu ini. Secara keseluruhan saya suka banget pantai-pantai di Adelaide. Karena semuanya bersih, nggak terlalu ramai, dan GRATIS *penting banget*. Nah, khusus Victor Harbour, sukak banget banget!!

Pertama, ini memang kawasan wisata yang cukup besar. Ada banyak tempat makan dan biasa jadi pusat keramaian. Pas banget ada Rock and Roll Festival pas kami berkunjung ke sana. Jadi di depan ada laut biru di belakan ada lagu-lagu rock and roll dan mobil-mobil kuno yang masih cakep banget. Jadi ada baiknya sebelum berkunjung coba cek apakah ada event tertentu yang sedang berlangsung.

Kedua, pas banget dikunjungi seharian karena ada banyak tempat gelar tikar dan playground yang caem-caem.

Ketiga, ada museum entah apa namanya yang sayangnya nggak kami kunjungi karena waktu yang sudah mefffets. Ada Penguin Centre juga, tapi sayangnya sedang dalam perbaikan dan nggak menerima pengunjung. Dari jauh kami bisa melihat satu dua pinguin bergabung dengan burung-burung lainnya. Ada tur Whale Watching/Dolphin Cruises juga loh… Jadi bisa jadi sarana edukasi buat anak-anak. Tapi harganya lumayan bikin elus dada ya qaqa…

Keempat, ada Historic Horse Drawn Tram: tram bertingkat yang ditarik kuda. Tram ini melewati jembatan yang menghubungkan Victor Harbour dan Granite Island. Tramnya sendiri jalan satu jam sekali dengan tiket yang dijual sama supirnya *berasa naik Kopaja nggak sih?*. Harganya lumayan mahal sih… Family Pass berharga 19 AUD sekali jalan atau 25 AUD untuk bolak-balik. Tapi kalau menurut saya sih nggak papa lah mumpung ada di sini. Hehehe.

Kelima, Granite Island. Ini adalah sebuah pulau yang seperti namanya mengandung banyak sekali batu granit. Pasirnya pun tidak putih dan halus seperti pantai lainnya yang pernah saya kunjungi, tetapi coklat/hitam dengan butiran-butiran kasar. Jadi jangan berharap bikin sand castle di sini. Cuma tetap bisa main air kok J
Di Granite Island ini ada semacam jalan setapak mengelilingi pulau dan dari tempat tertingginya pastinya bisa melihat pemandangan yang indah banget. Saya sendiri nggak nyobain sih karena harus bawa stroller dan mempertimbangkan kekuatan bocah juga *alesssan, padahal mah ngos-ngosan*

Dengan jarak sekitar 79 km dari rumah, aku tak menyesaaal. Pinginlah balik lagi kapan-kapan kalau sudah menyambangi tempat-tempat yang lain. Perjalanan juga lancar dengan pemandangan yang indah sepanjang jalan.
Cerita pertama tentang Victor Harbour dulu yaaa… Insya Allah akan disambung cerita tentang tempat-tempat selanjutnya. Selamat menikmati foto-foto kamiii!!










Wednesday, September 2, 2015

Mt. Buller Roadtrip

Bismillahirrahmanirrahiim…

Setelah hampir sebulan berlalu, akhirnya cerita tentang roadtrip Mt. Buller terbit juga!! Umm… sebenarnya udah sempat nulis lumayan panjang dan rencananya akan dibuat beberapa tulisan, tapi… siapa lah aku ini… kayak bakal ada yang baca ajah. Hihi. Jadi, mumpung mood nulis lagi bagus dan anak-anak tidur, mari kita nge-blog sambil ditemani secangkir kopi karamel.

Penting banget yah roadtrip ini buat diceritain?? Penting banget!!
Pertama, karena ini adalah perjalanan darat terpanjang pertama keluarga Hisyami Adib. Kedua, karena perjalanan ini mempertaruhkan banyak hal *tsaaah* Terutama kenyamanan selama perjalanan. Masing-masing punya karakter tersendiri. Ada yang sangat hati-hati dan maunya semua sesuai rencana... Ada yang spontanitasnya suka kelewatan... Ada yang energinya besar dan gampang bosan... Ada juga yang  masih bayi. Tahu kan semanis-manisnya bayi tetep suka-suka dia dong... mau pup kek, mau nangis kek, mau nyusu kek…

Cerita sedikit ya... Dari awal tahu kalau Bunny (ini panggilan sayang buat suami saya :)) jadi penerima beasiswa AAS, yang saya tanya adalah: di Australia ada salju nggak? Jawabnya: Ada. Dan diidam-idamlah itu yang namanya salju. Sampai suatu ketika saya mikir… Abang bakal seneng nggak ya main salju? Karena tahu dong… anak segitu kalau udah cranky nggak peduli bapak ibunya keluar duit berapa… Hahaha. Nyesek nggak siiih… Akhirnya dari sana rencana persaljuan maju mundur. Tapi si Ibu galau dan pingiiin banget ngerasain salju beneran. Long story short, akhirnya diputuskanlah kami berangkat ke Mt. Buller. Naik mobil. Pertama, karena lebih ekonomis. Kedua, karena passportnya Sulha belum jadi. Daripada tiba-tiba terhalang di bandara dan gigit jari, diputuskanlah kami berangkat naik mobil. Ketiga, akan lebih mudah berhenti dan istirahat kalau dua anak tiba-tiba bosan di jalan.

Tadinya Bunny menolak mentah-mentah ide ini. Karena pasti perjalanan akan sangat lama dan melelahkan. Google Maps boleh bilang perjalanan hanya makan waktu 8 jam. Tapi bawa bayi dan balita? Mana mungkiiin… Total kami menghabiskan 14 jam saat berangkat dan lebih lama lagi saat pulang.
Rencana awal yang saya ajukan, setelah dari Mt. Buller kami akan berkeliling Melbourne dab kemudian pulang lewat Great Ocean Road (GOR). Tapi sepertinya nggak memungkinkan karena melewati GOR sendiri sudah makan waktu cukup lama. Bisa-bisa kami sampai di Twelve Apostles saat hari sudah gelap. Karena kami lebih tertarik dengan objek di sepanjang GOR, akhirnya jalan-jalan Melbourne dicoret dari rencana.

Alhamdulillah selama perjalanan terbilang cukup nyaman dan menyenangkan, yang nggak enak-nggak enak pun buat kami jadi pengalaman tersendiri yang tak terlupakan.

Pemandangan sepanjang jalan buat saya indaaah banget. Dari mulai padang rumput, samudera, sampai hutan. Hutan? Yep. Entah dapat info dari mana kami diarahkan Waze lewat Cape Otway Rain Forest. Padahal Google Maps menyarankan jalan yang berbeda. Sempet bete sih karena saya pegang Gmaps. Bayangkanlah seorang pengemudi pemula masuk hutan yang jalanannya sempit dan basah. Langit yang tadinya terang tiba-tiba jadi gelap terhalang pohon-pohon tinggi. Alhamdulillah masih jalan di pinggir tebing, bukan jurang. Tapi teteup jantungan karena tiba-tiba terhalang gundukan tanah longsor. Sepanjang jalan ada peringatan bahwa jalan yang sempit itu banyak dilalui truk kayu, untungnya nggak ada ketemu. Begitu keluar hutan rasanya legaaa banget.

Beberapa kali mobil kami sedikit goyang karena terpaan angin, maklum... mobil kecil ditambah lagi jalanan cukup lengang dan di kanan kiri ada hamparan rumput terbuka.

Gimana Abang selama di perjalanan? Amat sangat bisa ditebak dia akan bete karena energinya yang besar itu nggak tersalurkan. Mulai dari minta pulang di tengah jalan... membuat suara-suara aneh... dan sempat juga dia menggumam sepanjang jalan: “I’m so so so so so tired” yang diucapkan dengan aksen Australia (yang membuat kalimat itu 5 kali lebih nyebelin). Tapi Alhamdulillah saat perjalanan pulang Abang jauuuh lebih kooperatif. Mungkin karena kami jalan dengan lebih santai dan berhenti di beberapa objek. Mungkin juga karena Abang bahagia banget bisa main salju seharian (umm… nggak seharian sih, tapi cukup puas lah!!). Rasanya lega banget melihat Abang senang main di Mt. Buller. Dia cuma merengek saat diajak pulang. Saya sendiri puasss banget bisa menikmati hamparan salju. Alhamdulillah cuaca cukup cerah, anak-anak juga sehat dan nggak ada keluhan berarti. Momen paling indah buat saya adalah saat naik chairlift. Salju di mana-mana dan sunyi sampai hampir nggak terdengar suara apapun, kayaknya untuk beberapa saat saya merasa bener-bener sendiri... walaupun kemudian sadar sedang menggendong Sulha *buyar... buyar...*

Pengalaman tak terlupakan lainnya adalah saat kami terpaksa masuk Melbourne CDB. Maaak... lalu lintasnya mirip banget sama Jakarta, tapi tentunya dengan tampilan yang lebih cakep dan lebih teratur. Usut punya usut beberapa teman yang tinggal di Clayton (kota kecil dekat Melbourne) bahkan nggak berani bawa mobil ke CDB. Kami sempat beberapa kali teriak terkaget-kaget dan salah mengikuti petunjuk peta. Macetnyapun luar biasa (siapa suruh masuk CDB malam Sabtu pas ada pertandingan di Ettihad Stadium??!). Pengendaranya pun lebih metal dibandingkan Adelaide.

Sempat juga melewatkan kesempatan foto bareng Neil DeGrasse Tyson. Uhuhu... nyeselnya pake banget.

Oia... karena sudah kemalaman akhirnya kami menginap satu malam lagi di Warnambool. Besok paginya karena punya waktu lumayan akhirnya disempatkan foto (doang) di Blue Lake Mt Gambier.

Seneng? Banget!! Alhamdulillah dikasih kesempatan untuk jalan-jalan sekeluarga seperti ini. Dan ternyata ada yang ketagihan :) *lirik Bunny*

Terus foto mana fotooo??! Silahkan menikmati. Salam!!

Pink Lake.
Keliatan nggak warna pink-nya?





Mt. Buller










Lighthouse











Twelve Apostles:










Mount Gambier




Thursday, December 4, 2014

Cerita VBAC

Bismillahirrahmanirrahiim...

Saking lamanya nggak nerusin sambungan dari cerita pertama tentang Sulha, jadi banyaaaaak banget hal yang mau ditulis.

Dek Sulha sekarang berusia 3 minggu 4 hari. Dan selama itu pula banyak cerita naik-turun dan sedih-senang di keluarga kecil kami.
*Tarik napas... Buang...*

Kali aja ada beberapa orang yang menunggu update dari cerita Dek Sulha dan kecewa karena update-nya kok lama banget... Hehe.
Jadi gini, putri kecilku ternyata belum bisa melekat dengan baik ke payudara untuk menyusu. Efeknya tau dooong... laper terus dan bangun terus yang membuat saya lelah (banget) dan harus begadang akut. Deuh, boro-boro deh nulis blog... Anak sulung aja terlantar *maap ya Bang...*
Selain itu, Kang Mas Suami sedang berjibaku dengan tugas akhir semester yang... ya... jangan ditanya lah ya. Beliau sambil nyambi kerja pula. Jadi setiap mau nulis laptop biasanya sedang menemani Suami mengerjakan tugas-tugasnya. Dan  Alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai *tinggal tunggu nilai*

Eh... ada pula cerita Sulha dirawat semalam di RS dan sekarang kami sedang siap-siap pindahan ke unit yang baru. What a busy month!!

***

Kelamaan ya pembukaannya? Hehe
Kehamilan ini seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya adalah kehamilan tak terduga sekaligus terencana. Terencana karena memang saya punya rencana memiliki anak dengan jarak 4 tahun. Tak terduga karena kami sempat menunda rencana itu karena Suami mendapatkan beasiswa AAS ke Adelaide Australia.

Kehamilan yang kedua ini boleh dibilang agak berbeda dengan kehamilan pertama.
Hamil pertama mualnya standar... hamil kedua mual parah.
Hamil pertama doyan makan dan ngemil... hamil kedua makan karena laper.
Hamil pertama makanan super terjaga... hamil kedua gitu deeeh...
Hamil pertama stress berat sama bos... hamil kedua Alhamdulillah dapet bos terbaik sejagad raya.
Hamil pertama belum tahu banyak tentang kehamilan dan persalinan... hamil kedua sudah mulai melek Gentle Birth (GB).

Awal perkenalan saya dengan GB adalah 2 bulan setelah saya melahirkan Ihya dengan proses operasi ceasar (SC). Jujur saat itu saya nangis, nyesel karena nggak memberdayakan diri dan mencari bekal pengetahuan yang cukup sejak awal. Perkara Ihya lahir dengan SC ya sudahlah... sudah takdir. Tapi dalam hati saya menyesal karena belum melakukan usaha terbaik untuk proses persalinan yang alami.

Sejak itu saya ber-azzam untuk memberdayakan diri sedapat mungkin agar dapat melahirkan secara normal. Kalaupun harus SC lagi ya pasrah karena sudah berusaha yang terbaik. Eh... ndilalah nggak gampang. Mulai dari mual yang bikin saya udah nggak peduli mau makan apa... yang penting masuk. Ngerasain LDM-an dengan Suami sekitar 2 bulan. Capek ke sana ke mari ngurus administrasi saya dan Ihya supaya bisa nyusul ke Adelaide...

Boleh dibilang saya mulai kembali ke jalur yang benar setelah sampai di Adelaide. Makan jelas nggak sembarangan karena kebanyakan buatan sendiri. Buah-buahan yang di Indonesia mahal di sini bisa dibilang murah, jadi rajin banget makan buah. Banyak jalan karena ke mana-mana naik kendaraan umum (yang kemudian mandek setelah Suami bisa nyetir mobil, hehe). Banyak aktivitas fisik karena nggak ada ART dan punya balita (ngepel jongkok dooong...).

Tadinya sempat pesimis karena saya nggak paham bagaimana sikap RS dan tenaga kesehatan di sini dengan niat saya untuk VBAC dan beberapa ilmu baru yang saya dapat mengenai GB. Tapi begitu ketemu sama tenaga kesehatan di sini, saya justru lebih semangat lagi. Kenapa?
Pemeriksaan yang mereka lakukan nggak ribed. Hanya ukur perut dan mendengarkan detak jantung bayi. Tapi sesi bisa berlangsung lama karena mereka bisa menjelaskan banyak hal dengan detail (banget). Dokternya boleh beda-beda (maklum... Public Hospital), tapi semua membolehkan saya untuk memilih posisi melahirkan yang paling nyaman. Selain itu sepertinya prosedurnya cukup ketat... Ada kelainan sedikit langsung tes ina inu (untung pakai asuransi... hehe).
***

Menjelang minggu-minggu persalinan saya mulai baca kembali dokumen-dokumen di Grup FB Gentle Birth Untuk Semua dan nonton video di You Tube. Asli panik karena nggak dapat kelas Antenatal di RS karena sudah penuh. Nggak lupa banyak ngobrol sama teman saya Fadjri yang usia kehamilannya berdekatan. Nggak lupa maksa-maksa suami untuk ikutan baca dan nonton (kayaknya sih nggak dibaca dan nggak ditonton, Alhamdulillah tetap siaga sepanjang proses persalinan).

Hari Minggu, 23 November 2014 ada sedikit darah muncul. Yak, ini tanda waktu persalinan sudah mendekat. Tapi berhubung kontraksi masih ringan dan saya ingin memperbanyak aktivitas fisik, akhirnya kami masih sempat pergi ke Baby Kids Market untuk cari Car Seat buat si bayi.
Ndilalah kok ya sekitar jam 11.00 kontraksinya ilang aja gitu...

Hari Senin, 24 November 2014: Nggak ada kontraksi sama sekali.
Hari Selasa, 25 November 2014 dini hari saya terbangun. Perut mulas. Masih nggak gimana-gimana sih mulasnya (secara ya... kalau di sinetron kan orang mau ngelahirin kayaknya dahsyat banget mulesnya). Pas banget hari itu adalah jadwal saya kontrol ke dokter. Saya memang berkali-kali bilang sama dedek di dalam perut: "Dek, paling nggak kasih kesempatan Ibu untuk ketemu dokter hari Selasa besok yah...".
Hari itu rame banget. Biasanya dalam setengah jam saya sudah dipanggil. Saat itu saya dipanggil setelah menunggu 1,5 jam sambil menahan mulas yang semakin kuat.
Begitu masuk ruangan, konsultasi sebentar dan menelan kecewa karena nggak bisa water birth, dokter cek pembukaan dan ternyata sudah pembukaan 3 (Yeah!! Meningkat dooong... waktu melahirkan Ihya cuma bukaan 1 sajah).
Saya dirujuk ke bagian Women's Assesment Centre. Di sana saya diobservasi selama beberapa waktu untuk memonitor detak jantung bayi dan kontraksi. Plus ambil darah yang jujur saya lupa untuk apa. Hasilnya... saya nggak boleh pulang.
Jadilah saya dan suami bingung... Kami bingung mau menitipkan Ihya di mana?? Sebenarnya kami sudah minta tolong kepada dua keluarga: Mbak Ranis dan Lia dan Riska. Tapi di hari itu dua-duanya sedang keluar kota... Duh!
Ujian pertama saya adalah merelakan suami pergi untuk cari tempat titipan plus ngomong baik-baik sama Ihya bahwa kami harus pergi sementara karena Dedek sebentar lagi akan lahir. Setelah diajak ngomong selama 1 jam akhirnya Ihya bersedia dititip ke Mbak Dinar. Dan kemudian dijemput oleh Mas Riska untuk menginap di rumahnya.
Sementara saya dipindah ke Delivery Suite. Intinya mah itu ruang bersalin yang cukup luas. Yang saya suka dari Delivery Suite ini tempatnya nyaman banget, luas dan punya jendela besar yang mengarah ke taman kota yang hijau. Tiap kontraksi datang saya memandang pepohonan hijau yang menenangkan itu... Saya dijaga oleh satu Bidan, namanya Kirsten. Mbak Kirsten ini masih muda dan cantik. Tapi yang spesial dari dia adalah: dia menunggui dan merawat saya dengan sabar. Setiap tindakan yang akan dan mungkin diambil dijelaskan satu per satu. Dia juga menawarkan berbagai alternatif untuk membantu proses persalinan dan bahkan menelpon suami untuk menjelaskan bahwa ketuban akan dipecahkan untuk membantu pembukaan. Karena pembukaan terbilang lambat... selama kurang lebih 6 jam pembukaan hanya bertambah menjadi bukaan 4.
Setelah ketuban dipecahkan pembukaan memang langsung maju dengan pesat. Fiuh... mulailah saya merasakan perjuangan seorang ibu untuk melahirkan normal. Rasanya hampir nggak bisa digambarkan dengan kata-kata...

Tapi di tengah-tengah kontraksi yang terus naik giliran jaga Mbak Kirsten habis. Lha? Piye toh... sopo sing nunggoni aku??
Mungkin karena prosedurnya jelas, kalau shift berganti ya mereka bakal pulang dan digantikan nakes yang lain. Agak panik sih... tapi bidan yang menggantikan Mbak Kirsten ini nggak kalah sabar dan telatennya, namanya Claire Marks. Ya Allah... rasanya nggak habis terimakasih saya untuk mereka berdua yang menunggui saya dengan sabar dan sangat suportif. Harap diingat juga saya orang asing yang kadang nggak paham penjelasan mereka sehingga harus dijelaskan beberapa kali.

Sampai kira-kira jam 22.00 saya merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengejan. Rasanya kepala bayi sudah ada di ujung liang lahir. Karena saya tahu tidak boleh mengejan jika bukaan belum lengkap, saya minta untuk diperiksa kembali *Mbak Claire pake minta ijin aja gitu loh...*. Ternyata sudah bukaan lengkap, Alhamdulillah...

Setelah itu setiap kontraksi datang saya berusaha mengejan dalam posisi berdiri. Sempat adegan teriak-teriak sih... Tapi dikasih tahu kalau saya hanya membuang energi. "Coba arahkan teriakanmu untuk mengejan". Nah lho... emang bisa? Ya pokoknya gitu deh... Saya nggak menyebut secara lisan, tetapi saat itulah saya banyaaak sekali mengingat Allah meminta kuasanya agar bayi ini cepat dilahirkan.
Namun karena mereka kesulitan untuk memonitor bayi saya diminta untuk naik ke tempat tidur. Beberapa kali mengejan bayi belum juga keluar. Sampai akhirnya mereka meminta untuk dilakukan episiostomi.

Jawaban saya: NO!!
Kenapa ditolak? Pertama, saya yakin tubuh saya mampu tanpa intervensi apapun. Tapi... gimana kalau saya nggak sesiap itu yah...?
Kedua, boo... kena silet di jari aja sakit... apalagi kalau jalan lahir digunting. Entah kayak apa sakitnya.
Tapi beberapa kali dicoba bayi belum juga keluar. Saya minta untuk mengejan sekali lagi. Jika memang tidak bisa, saya menerima untuk diepisiostomi. Dan memang bayi belum juga keluar... 
Akhirnya saya pasrah... mereka bisa gunting di kontraksi selanjutnya. Alhamdulillah... Allahu Akbar... keluar juga dedek bayi yang kami tunggu selama 38 minggu...

Eh, tapi emang digunting ya? Kok nggak kerasa? Ya begitulah saudara-saudara... mulas saat melahirkan sebegitu menyita perhatian tubuh kita sampai diepispun nggak bakal berasa. Hahaha.

Ya Allah... (mau nangis nih...) saat itu saya merasakan keagungan Allah yang luar biasa... Nggak percaya saya telah melaluinya (ya... abis itu masih ada jahit menjahit plus nyeri selama dua minggu sih...). Bahkan orangtua saya pun terdengar seperti mau nangis saat tahu saya sudah melahirkan normal.
Terimakasih pula Engkau telah mengirimkan orang-orang baik di sekitarku. Suami yang siap siaga. Anak yang amat sayang kepada adiknya. Teman-teman yang siap membantu (Thanks to Lia dan Riska!!). Dan dipertemukan dengan nakes yang luar biasa suportif (Thankyou very much Claire... *mau nangis lagi*). 

Kemudian saat tali pusat akan digunting saya minta mereka menundanya sebentar sampai selesai Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Tapi kok ya mereka ngehnya pemeriksaan bayi ditunda sampai dengan selesai IMD. Ah... yasutralah... udah kesengsem ngeliat muka si Dedek, hehe. Males juga ngejelasin pake bahasa Inggris. Dan di sini kehormatan memotong tali pusat diserahkan pada sang Ayah :)
Lagi-lagi Alhamdulillah Allah memberikan saya kesempatan untuk VBAC. Bukan karena saya menganggap persalinan normal lebih mulia dari SC, nggak sama sekali. Saya hanya ingin memberikan proses persalinan yang alami bagi Dek Sulha dan semoga memberikan manfaat untuk kehidupannya kelak.

Fiuh... panjang juga yah ternyata... 
Kalau boleh merangkum, VBAC ini menurut saya rangkaian usaha dari awal kehamilan. Semakin siap Insya Allah semakin baik hasilnya. Tapi jangan juga jadi kaku dan menolak intervensi medis kalau diperlukan ya... keselamatan Ibu dan Bayi adalah yang utama.
Untuk yang sedang dalam masa kehamilan... 
Jangan lupa berdoa sama Allah untuk senantiasa diberikan kemudahan.
Makan makanan yang menyehatkan dengan nutrisi seimbang.
Olah fisik secara rutin, terutama melatih bagian panggul menjelang persalinan.
Banyak-banyak cari ilmu dan informasi.
Pilih tenaga kesehatan yang siap diajak berdiskusi.
Libatkan pasangan sedapat mungkin.
Jaga agar emosi senantiasa positif dan bahagia.
Latihan pernapasan!!
Jika semua usaha terbaik sudah dikerahkan, tak masalah apapun hasilnya bukan?

Hah... akhirnya sudah ditulis semuanya. Semoga pengalaman ini bisa memberikan manfaat.
Salam!!

Saturday, November 29, 2014

Sulha Amanina Jasmine

Bismillahirrahmanirrahiim...

Fiuh... akhirnya... bisa juga nulis di mariii... Hehe. Cah Lanang lagi minta jatah main game di HP. Cah Wadon turu bareng Romo. Biyung? Nggak ada kerjaan dan nggak ngantuk... Akhirnya kumpulkan semangat buat menulis beberapa catatan tentang kelahiran anak kedua saya (dan suami lah ya...), Sulha Amanina Jasmine.

Cerita pertama ini saya mau kenalkan si shalihah nan cantik ini... (ya iyalah, di mana-mana Emak pasti bilang anaknya cakep, hehe).
Beberapa orang tanya, apa sih arti dari Sulha Amanina Jasmine? Kalau saya dan suami sih senang dengan nama yang memiliki arti berupa kalimat. Bukan arti sepotong-sepotong yang disatuin (dan agak dipaksain) sehingga menjadi satu arti. Etapiii... agak kualat sepertinya... haha.

Saya sukaaa banget sama nama Sulha. Nama itu saya umpet-umpetin biar nggak dipake orang. Haha. Kata sulha sendiri ada di Surat An Nisa, sulhu khair. Tapi karena untuk perempuan jadilah nama Sulha. Artinya sih damai atau kedamaian.

Kemudian begitu tahu kami akan memiliki anak perempuan, jadilah bayi yang ada di dalam kandungan selalu kami panggil dengan Sulha.
Suatu hari, Ibu Mertua saya bertanya sama Ihya, siapa sih nama adiknya? Dan Ihya menjawab: Jasmine Sulha. Ee? Dapat dari mana pulak ini nama Jasmine? Usut punya usut sih kayaknya dari adik ipar saya yang senang dengan tokoh Princess Jasmine di film Aladdin. Tapi sudahlah... kami anggap ini adalah pemberian dari Kakak ke Adiknya.

Tinggal cari satu kata lagi... Tadinya sih mau ada kata-kata Adel-nya, berhubung kemungkinan besar bayi Sulha akan lahir di Adelaide. Tapi berhubung anak perempuan yang lahir di sini banyak pakai nama Adel, kami carilah alternatif lain. Walaupun saya agak nggak rela sih... Hehe.

Seperti biasa, urusan nama adalah urusan suami saya... saya tinggal ACC aja suka atau nggak. Hehe. Begitu keluar kata Amanina, saya sukaaa... Artinya harapan dan rimanya cocok. Artinya? Ya pokoknya baik lah... Haha. H-beberapa hari insya Allah putri kami akan bernama Sulha Amanina Jasmine.

Alhamdulillah... tanggal 25 November 2014, pukul 22.30 lahirlah putri kami, Sulha Amanina Jasmine. Dengan persalinan normal (penting banget nih disebut, soalnya saya mau lanjut cerita tentang VBAC). Berat badan: 3060 gram, Panjang: 52 cm, Lingkar Kepala: 35 cm.

Assalamualaikum, dunia... Ramahlah padanya... Kalaupun tidak,tak apa... karena yang terpenting  kumohonkan pada Allah menjaganya dengan hidup abadi yang indah di syurga-Nya...










Pigeon Pair



Saturday, October 18, 2014

Glenelg Beach


Bismillahirrahmanirrahiim...

Masih edisi jalan-jalan... (panik lihat masih banyak yang mau ditaruh di blog T_T)
Saya nih orang pantai. Suka air, dan nggak suka ngos-ngosan naik gunung. Apalagi kalau ditambah drama bingung mau buang air di mana... (cemen banget ya?). Makanya begitu ditawarin buat jalan-jalan saya langsung pingin ke pantai.

Di Adelaide sendiri ada beberapa pantai yang bisa dikunjungi. Tapi karena waktu itu lokasi masih nomaden di rumah teman yang dekat dengan stasiun tram, maka pilihan jatuh ke Glenelg Beach karena bisa langsung diakses dengan tram. Apesnya hari itu bertepatan dengan acara lari marathon yang bikin kita harus jalan 3 stasiun. Hihi. Kalo ibunya sih masih bisa elus-elus perut sambil berdoa lahiran lancar karena banyak jalan. Nah, yang kecil udah bete kecapean duluan...

Tapi begitu lihat air dan pasir, langsung deh mata Ihya berbinar-binar. Kebetulan walaupun cuaca cukup cerah, tapi tetep yah... anginnya dingin!! Pasirnya pun dingin. Jadi Ihyapun lebih sukarela melepas sendalnya dan lari-lari di pasir. Saya kasih tau ya... Ihya ini risihan banget. Baju atau celana basah dikit mnta ganti. Nginjek nasi atau yang kotor-kotor pasti minta langsung bersihin (apalagi pasir!!). Nginjek rumput atau duduk di rumputpun dia ogah kalau nggak dipaksa. Kejadian Ihya main di pasir ini termasuk agak langka (maklum anak mall... hehe).

Walaupun "cuma" main-main dan duduk-duduk di pantai, tapi sebenarnya ini wisata yang sehat. Perjalanan nggak makan waktu lama... bisa menghirup udara segar... anak bisa bebas main lari-larian... gratis pulak (dasar emak-emak, nyebutnya gratis melulu).
Ya... paling nggak masyarakat bisa mendapatkan hiburan murah meriah, jadi nggak gampang stress :)

Terakhir (tapi paling penting!), silahkan menikmati foto-fotonya ya :)

Ini maksudnya Ibu gaya Titanic atau apa sih?

Kalau di Ancol ini udah jadi tempat foto pre wedd sejuta pasangan. Hehe

Abang yang foto lhooo... *Ibu obsesi punya foto berdua Ayah*


selpih

Bersih...