Showing posts with label Dream Day Wedding. Show all posts
Showing posts with label Dream Day Wedding. Show all posts

Sunday, October 5, 2014

5 Tahun Sudah...

Bismillahirrahanirrahiim...

Tanggal 2 Oktober, entah kenapa habis maghrib saya ngantuk buanged!! Akhirnya pamit ke Bunny untuk tidur lebih awal... Plus berpesan minta tolong dibangunkan untuk shalat Isya. Akhirnya saya bangun sekitar jam 11.30. Setelah itu masih sempat ngobrol-ngobrol bersama Bunny. Sampai kemudian sekitar jam 00.30 Bunny tanya: "Kamu bener-bener nggak inget ya?"

Saya terdiam sambil berpikir keras... Saya lupa apa ya? Lupa matiin kompor? Lupa utang sama orang sampai ditagih ke suami? Dan yak!! saya lupa aja gitu loh sama ulang tahun pernikahan kami... Hahaha...
Untungnya sih suami bukan tipe yang sensitif sama urusan kayak gitu. Biasanya nih... tiap ulang tahun pernikahan saya menyiapkan surat untuk suami tercinta. Kadang ada kue dan kadang ada kado.

Tanpa bermaksud melempar batu, sepertinya saya agak terpengaruh dengan Bunny yang memang nggak terlalu senang dengan selebrasi tanggal-tanggal khusus. Walaupun selalu ingat, biasanya hanya peluk dan cium saja untuk merayakannya (padahal kan aku pingin cincin berlian... :)).

Ah... tak terasa sudah 5 tahun. Anak kami sudah hampir dua. Dan sekarang kami berada di Adelaide. Akhirnya kami habiskan dini hari ngobrol ngalor ngidul ke sana ke mari. Bunny memang teman ngobrol yang menyenangkan... Ditemani dengan dengan capuccino (dapet rombengan milk frother yang masih oke) dan bubur kacang hijau buatan Bunny. Jujur lho... itu adalah bubur kacang ijo terenak yang pernah saya makan :)



Tahun ini kami memulai hidup baru yang cukup berbeda dari sebelumnya...
Pertama, kami tinggal di Adelaide. Semua serba asing di sini dan pasti membutuhkan adaptasi. Tapi Alhamdulillah... sejauh ini kami menyukainya. Lingkungannya, suasananya, dan terutama kami banyak menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga. Di Jakarta yang padat semua rasanya selalu terburu-buru. Kami punya jadwal tetap harus ke sana dan ke sini bahkan di akhir minggu sekalipun... Sementara di sini, walaupun jadwal tetap ada, tapi ya kami habiskan sebagai sebuah keluarga.

Kedua, kami sedang menanti kelahiran anak kedua. Dari hasil beberapa kali USG sih jenis kelaminnya perempuan. Itu berarti kami akan mendapat tantangan baru untuk mendidik anak perempuan.

Ketiga, saya akan fokus di rumah mengurus rumah dan keluarga sementara Bunny sekolah dan bekerja. Jujur sih... rasanya sempat terlena berasa lagi liburan panjang dari kantor, haha. Sekarang saya sedang mengejar untuk membuat rencana-rencana agar amanah saya yang baru ini bisa berjalan dengan sebaik-baiknya dan bernilai ibadah di hadapan Allah. Melihat perubahan positif Ihya selama kami di sini, saya makin yakin untuk memilih karir sebagai Ibu selama mungkin anak-anak membutuhkannya...

Keempat, sebenarnya sih kami sedang menghadapi masalah yang cukup pelik. Tapi kalau berdua rasanya jadi lebih tenang dan santai. Hehe.

Tahun demi tahun perbedaan yang remeh temeh semakin nggak berarti. Kami belajar bahwa kami memang berbeda. Dengan latar belakan yang berbeda. Setiap saya bersabar atas kekurangan Bunny, maka saat itu pula ia sedang bersabar dengan kekurangan saya.
Bunny boleh dibilang sahabat juga buat saya. Apaaaaa aja saya ceritakan ke dia. Karena memang ada hal-hal yang nggak mungkin saya ceritakan ke orang lain. Dan kami berusaha untuk selalu terbuka menyatakan rasa sayang dan ganjalan. Yang saya inget sih... kami nggak pernah membiarkan hari berlalu dengan masalah yang mengganjal.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-5 ya sayang... Insya Allah ada tahun-tahun selanjutnya di depan yang akan kita lalui. Semoga setiap waktu yang kita habiskan dalam pernikahan membawa berkah... Dan semoga kita menjadi pasangan di syurga kelak. I love you :)

Wednesday, October 16, 2013

4 Tahun Sudah... -postingan telat-



Bulan ini, tepatnya di tanggal 3 Oktober lalu, saya resmi berstatus ISTRI selama 4 tahun. Yap, pernikahan kami (tidak terasa) sudah berjalan selama 4 tahun. Ya iya lah nggak terasa, nggak pernah dipikirin banget juga udah jalan berapa lama. Yang penting selamanya, gitu aja deh… Terus tiba-tiba, gara-gara postingan sebelumnya juga, jadi kepingin menulis sesuatu tentang perjalanan kami selama 4 tahun ini.

Oh iya, ulang tahun pernikahan ngapain aja? Saya ngasih surat, kado, dan kue (beli di luar dan rasanya nggak enak pulak). Beliau? Sudah bisa ditebak nggak akan beli dan ngerayain apa-apa. Dan saya sama sekali nggak masalah dengan hal ini. Eh, sebenernya masih takut papasan pas beli kado di mall (berarti masih ngarep Ayah beli kado ya?). Terus kemudian berpikir… nggak mungkin ah… Dan benar saja, begitulah adanya T_T. Lelaki satu ini kalo udah dateng romantisnya bakal ngebayar LUNAS ketidakromantisannya. Jadi, yasudah… tunggu aja sampe siklus berulang… siapa tahu dapet rumah dan mobil. Gyahahaha.

Sebelum masuk ke angka 4 tahun, berhubung perempuan-perempuan di keluarga saya jarang ada yng nikah cepet, saya pun berpikir akan mengikuti jejak mereka. Dulu sampai pernah bilang sama Papah: “Pah, kalau aku  nggak nikah-nikah, tolong jangan dipaksa!”. He smiled and said okay… Tapi, jreng!! Lulus kuliah belum setahun saya udah minta kawin, hahahaha. Tapi Alhamdulillah, restu udah di tangan… Saya ingat betul Papah menangis di depan dua keluarga saat perkenalan (belum lamaran padahal…). Entahlah tangisnya karena apa… Karena sedih atau bahagia… Tapi yang jelas sekarang Papah seneng banget punya seorang cucu laki-laki nan meriah seperti Abang Ihya.

Perjalanan kami ke pernikahan lumayan sulit sebenernya, tetapi Ayah memilih menyimpan semua itu sampai keluarganya setuju sama saya. Padahal butuh waktu lumayan lama untuk meyakinkan keluarga mertua untuk menerima saya yang keturunan Minang (padahal ane kan nggak dianggep anak Minang…). Selesai keluarganya setuju, tiba-tiba Mamah bilang nggak sreg punya menantu dan besan orang Betawi. Halah… ada-ada aja… kenapa tiba-tiba kesukuannya pada tinggi begini sih…??! Ya… saya coba pahami karena kebanyakan suku Betawi di lingkungan kami pendidikannya tidak tinggi, kelakuannya pun seringkali kurang sopan dan sombong karena merasa sebagai yang punya kampung. Pakai drama saya udah mau dijodohin sama sepupu jauh segala… T_T

Saat itu, kebanyakan teman-teman saya menikah lewat jalur ta'aruf. Saya? Ta'aruf apanya... wong memang sudah kenal lama kok. Beberapa orang suka mengirimkan nada-nada sindiran. Lah? Kok situ yang sewot? Hehe. Kami hanyalah anak muda, dan insyaAllah tidak ada niat untuk bermain-main semata. Makanya kami berjibaku sekuat tenaga supaya cepat sampai ke sana :)

Belum lagi duit pas-pasan… Sebagai keluarga mempelai perempuan orangtua saya merasa memiliki kewajiban untuk menanggung biaya pesta pernikahan. Tapi, kondisi keuangan Papah saat itu memang cukup menegangkan. Mau sekedar akad di rumah saja mereka merasa kurang pantas karena banyak keluarga yang ingin diundang. Saya cuma bisa minta maaf sama Papah karena nggak bisa bantu apa-apa… Sambil berpesan, jangan sampai berhutang. Alhamdulillah nggak ada utang-utangan… Malah surplus hasil angpaw. Hehehe.

Saya juga bersyukur sebagai keluarga kami bisa bekerja sama dengan baik… Nggak ada acara adat atau apa lah yang bisa membuat biaya membengkak. Nggak ada seragam-seragaman. Mamah dengan sangat PD berkata: Sori ya… uang pas-pasan nih, jadi nggak pakai seragam ya!!. Bahkan ada rasa bangga terselip di hati ini, kami tidak terlena dengan alasan ingin menyenangkan keluarga. Kami mampu untuk menakar kemampuan kami. Sejujurnya sih, ada juga yang bilang seragamnya jelek lah… Wis, mboten nopo-nopo… Kami paling paham kemampuan kami.

Setelah menikah kami mengontrak rumah di Depok selama setahun. Selama pernikahan, tentu saja banyak adaptasi… Lupakan cerita putri-putri, they lied! Dari mulai adaptasi dengan karakter masing-masing, adaptasi dengan karakter mertua masing-masing, adaptasi dengan kondisi keuangan yang tiba-tiba mblesek karena konflik suami dengan atasannya.

Setelah punya anak, Alhamdulillah… tabungan kami 0 bahkan minjem orangtua untuk keluar dari RS. Tapi memang bahagia memiliki anak mengalahkan segalanya. Alhamdulillah juga saya nggak sempat mengalami yang namanya baby blues… Walaupun sempat berjibaku dengan perjuangan memberikan ASI secara langsung untuk Ihya dan masalah keluarga di sana dan di situ, tapi… Here we are!! 4 tahun. Ealah… baru 4 tahun memang… Tapi tidak ada puluhan tahun tanpa tahun pertama kan?

Lama kelamaan saya yang penyuka momen-momen penting dan romantisme dalam bentuk selebrasi jadi ikut suami yang cenderung cuek… Dirayakan atau nggak toh bukan esensi utama. Udah nggak ada hasrat buat makan malam atau jalan ke mana… gitu. Tapi Sabtu kemarin akhirnya kita jalan berdua ke GanCit (nggak penting banget ya?). Nonton Gravity IMAX dan beli vacuum cleaner. Plus dapat whisker baru pengganti whisker lama yang sudah rusak dan sarung tangan silikon. Haha. Ada perayaan atau tidak, insyaAllah di dalam hati maupun terucap lisan, kami tetap saling mencinta. Mungkin ada kalanya naik turun, tapi menurut saya itu lebih wajar daripada balas-balasan komen mesra di FB tiap hari. Apapun, I love you, Ayah Ihya… Kita sama-sama terus sampai ke syurga ya… (“,)

Tuesday, October 15, 2013

My Superhero

Bismillahirrahmanirrahiim...

Sudah cukup lama saya nggak sakit sampai lemas dan demam begini... Telepon dari kantor dan entah siapa pun terpaksa saya diamkan. Bukan nggak mau angkat, bener deh... Tapi setiap bicara (bahkan sendawa atau menguap) rasanya sakiiit banget...

Ada sisi positifnya sih, hari ini berarti satu hari lagi bersama Ihya. Itu anak seneeeng banget... Ihya sampai bilang begini: “Ibu kalau mau minum obat bilang Abang ya...”. Manis banget kan? Tapi ada sisi “sepet”nya juga. Badan lagi lemes mes mes dan Ihya hanya mau sama saya. Jadilah hari ini Ihya makan dan mandi sekitar jam 11. Yuk mari...

Dan niat awal yang tadinya pingin istirahat jadi susah terlaksana karena Ihya lompat-lompat di kasur, termasuk ngelompatin saya yang sedang nyeri sendi sekujur tubuh. Duh, kok malah curhat ya... Sebenarnya saya hanya ingin mengucapkan terimakasih sama seseorang.

Ceritanya nih, tanggal 9 Zulhijjah Ayah Mertua saya sakit. Perutnya melilit nggak karuan. Papa yang biasanya lucu hampir dua harian itu merintih-rintih aja... Kebetulan kami sedang menginap di sana. Naluri anak pertama kali ya... Ayah lah yang bawa Papa ke dokter sampai terakhir cek lab dan ketahuan kalau Papa menderita usus buntu. Googling segala macam informasi untuk tahu cara meringankan gejala yang Papa rasakan. Beli larutan dan madu. Pokoknya judulnya bolak balik ke sana ke mari.


Dan kemarin malam, dengan keletihan yang saya yakin luar biasa... Saya sakit. Duh, cucok banget deh waktunya. Habis ngurus Papa kemudian ngurus saya. Ngurus Abang juga tentunya. Saya kemudian spontan berdoa... Duhai Allah, laki-laki ini luar biasa baiknya. Balaslah dengan syurga baginya sang anak dan suami yang sholeh.

Tuesday, May 29, 2012

Katanya Cinta


Secara kebetulan, akhir-akhir ini tiba-tiba saya dicurhatin beberapa orang mengenai perkara percintaan. Lucunya, hubungan saya sama mereka sebenarnya so-so, alias biasa-biasa aja. Kenal… tapi nggak deket banget lah. I usually told a story about my love life with someone that I called bestfriend. Di samping itu, walaupun saya pernah mengalami masa-masa muda nan galau terkait dengan masalah hati, tapi sepertinya masalah saya jauuuh lebih monyet*) dari teman-teman saya ini.
* Monyet mengacu pada arti monyet dalam frase cinta monyet.
Saya menganggap rasa suka/senang yang tidak berujung pada penyatuan sebagai hal biasa (kecuali dengan yang terakhir). Selain itu, prinsip juga mengatakan: seriusnya ntar aja lah, kalo emang udah mau nikah. Jadi, jadi syukur… Nggak ya udah.

Teman 1 cerita tentang mantan pacar karena stimulus berupa pendapat yang saya kasih tentang pakaiannya yang secara kebetulan senada dengan pandangan mantan pacarnya.
Teman 2 cerita tentang “balas dendam”nya kepada mantan pacar yang meninggalkan dia nikah dengan orang lain melalui lulus kuliah dan kerja. Dan kemudian mantan pacarnya ini justru mengejarnya kembali.
Teman 3 cerita tentang cinta abu-abunya dengan mantan pacar yang sudah menikah (yang menjadikan pernikahannya sebagai pelarian).
Teman 4 tersirat dari status-statusnya di FB bahwa ia akan dipoligami (inget ya… tersirat, jadi dia nggak cerita sama saya).

Dari beberapa cerita itu, saya hanya punya kesimpulan singkat…
Semua orang boleh mengalami masalah percintaan, tetapi yang membedakan adalah status pernikahannya. Kok? Untuk orang yang sudah menikah masalah timbul karena ia telah membuat komitmen seumur hidup dengan pasangannya. Bahkan seumur mati, karena perihal pernikahan ini akan dibawa-bawa sampai di akhirat. Sedangkan bagi yang belum menikah, masalah justru timbul saat ia memiliki kebebasan untuk memilih.

Kesimpulan lain, cinta tidak lebih penting dari komitmen kebaikan.

Cinta memang bukan soal logika. Tetapi manusia dikaruniai kebebasan. Hanya saja kebebasan tersebut hanya untuk memilih yang baik. Begitu juga soal cinta dong… Permasalahannya, cinta seringkali tersamar oleh nafsu. Cinta dipersempit artinya jadi memiliki. Saya jadi ingat cuplikan di bukunya Salim A Fillah, bahwa pernikahan bukan soal cinta, tetapi soal komitmen. Komitmen untuk memilih yang baik, termasuk mencintai pasangan dengan semangat perbaikan.

Kebetulan, saya yang sudah menikah ini juga mengalami, bahwa tantangan setelah menikah justru makin besar. Kalau bukan karena komitmen untuk perbaikan, kalau saja yang saya anut adalah cinta ala film Amerika, pernikahan pasti akan bubar. Yang amat mungkin bukan karena sulit mempertahankannya, tetapi karena memang tidak ada komitmen untuk tetap bersatu.

Duh, pagi-pagi ngomongin cinta… Sebenernya sih, panjang-panjang begini saya cuma mau bilang sama Hisyami Adib: Aku cinta padamu (diucapkan ala Iko Uwais).

Tuesday, March 27, 2012

Si Nggak Romantis yang Romantis

Siapa lagi kalau bukan Hisyami Adib Asyrofi.

Hari Senin kemarin, 12 Maret, saya ulangtahun yang ke...26. Ulangtahun itu terjadi tiap tahun kan yah? Jadi sebenernya nggak ada yang terlalu spesial sih... Tapi, saya nggak berani bilang kalau ulang tahun itu sesuatu yang “biasa aja”. Karena di momen ulang tahun lah biasanya saya jadi bener-bener sadar kalau nikmat Allah BANYAK BANGET!! Bunny, Ihya, Punya Kerjaan, Punya Laptop Baru *uhuuuy...*, Nggak Sakit-sakitan, dan banyaaaaak lagi lainnya. Dan buat ke orang lain, momen ulangtahun adalah saat di mana saya ingat untuk berbagi kasih sama orang-orang tersayang lewat kado atau kejutan.

Nah, tulisan ini tentang suami saya yang nggak romantis dan geli banget kalo terlalu disayang-sayang. Tapi kadang bisa sangat romantis dan manja. Itu yang pertama.

Kedua, tadinya saya sempet nebak kalo laptop akan jadi hadiah kejutan pas ulang tahun. Tapi, berhubung saya nggak ngarep, dan udah nggak sabar mau punya laptop baru, jadilah laptop dibeli sebelum saya ultah. Pas ada pameran juga...jadi lumayan hemat.

Dengan dua fakta di atas (jiaelah...fakta...), saya cukup yakin Syami nggak akan ngasih kado. Hehe. Makanya, begitu nerima benda ini:


pas lagi jam kerja, langsung terharu dan Munir sebagai kurir terasa jauh lebih tampan. Hehe.

Sungguh deh, bukan karena hadiahnya. Mahal atau nggaknya. Tapi karena perhatiannya… Kurang lebih 2 tahun yang lalu, Syami bukan siapa-siapa buat saya. Tapi semenjak akad nikah sampai sekarang, mau nggak mau dialah sahabat saya. Satu-satunya manusia di mana saya hampir nggak punya rahasia. Tempat mengeluh dan berbagi. Keberadaannya, kebaikannya sudah merupakan kado untuk saya setiap hari.

Tapiiiii…ngaku kok, setiap orang kayaknya pasti seneng yang namanya dikasih hadiah, termasuk saya. Apalagi kalau seindah ini, tanpa diduga-duga pula... Maksih ya Buuun… J


*BTW, mohon maaf kalau postingannya agak telat… Beberapa hari ini agak nggak akrab sama laptop. Please enjoy and get inspired*

Monday, January 16, 2012

Suatu Malam...


Hun: "Bun, kenapa sih kamu mau nikah sama aku?"


Bun: "Kenapa? Emang nggak boleh...?"

Hun: "Yee...beneran!!"

Bun: "Nggak papa, iseng aja."

*cium Bunny!!*

Picture of That Day...


Tiba-tiba tadi sore terlintas untuk memajang foto pernikahan saya di blog. Tetapi, sejujurnya saya malu (sebel lebih tepatnya) banget dengan foto pernikahan saya sendiri. Boleh dibilang suami saya jauh jauh jauh terlihat ganteng dan ciamik di acara yang mustinya membuat saya terlihat paling kinclong.

Kenapa sebel?

Pertama dan terutama, jilbab yang saya pakai nggak nutup dada.

Kedua, make upnya kok tebel banget ya? Apakah memang seperti itu make-up buat acara pernikahan dan panggung? Kalau iya… saya jadi agak berlega hati kenapa artis dibayar mahal (bolee baca postingan ini) J.

Ketiga, kuku saya dipakein kuteks yang… KERING. Masya Allah…modal dikit kek.

Keempat, karena alis saya dicukur tanpa ijin.

Kalau inget keempat hal di atas saya jadi nyeseeel banget nggak terlalu memperhatikan bagian yang satu ini. Mau tes make-up, pake acara sayang duit segala karena harganya mahal… Dan tentunya saya menyesal karena nggak tegas dan galak sama periasnya. Yang ada di pikiran saya saat itu, saya harus jaga emosi, dan saya pikir dia tahu yang terbaik *tarik napas*. Dan, mau balas dendam ah…hehe, yang merias saya adalah Ida Salon di daerah Pondok Bambu.

Untungnya pas dandan sesi kedua saya bertahan dengan sekuat tenaga. Biarin acara resepsi telat. Ngotot-ngototan juga biarin, udah sah ini… Dan yang penting tamu tetep makan. Hehehe. Akhirnya, dengan perdebatan panjang, di sesi resepsi jilbab berhasil dipanjangkan. Tapi tetep aja terlihat nggak menawan buat saya, karena si ibu tukang rias itu punya kecenderungan untuk menaruh perhiasan apapun di kepala saya… Selain itu ketebalan make up juga bertambah parah… Dan hari itu, detik itu, saya merasa didandani ala banci…

Alhamdulillah resepsi hanya sekitar dua jam saja, dan percayalah, ternyata bekas make up tuh tak bisa dihilangkan dengan mudah… *bertanya-tanya, solat zhuhur saya hari itu sah gak ya?*

Dan, (Alhamdulillah lagi), saya mendapat kesempatan untuk menjalani resepsi kedua di rumah Papa dan Bunda Mertua. Yang menyediakan baju dan pernak-pernik pernikahan adalah saudara dekatnya Papa Mertua. Orangnya sangat-sangat kooperatif. Saya dibuatkan baju baru yang indah dan jauh dari kata norak. Bahkan saya berani pake baju tersebut ke kondangan (dengan catatan ke kondangannya naik taksi, bukan naik motor. Hehe). Dan dengan pengalaman resepsi yang pertama, saya wanti-wanti bahwa saya punya standar tersendiri mengenai tata rias.

Oh, Subhanallah, Allah baik banget. Dandanan resepsi kedua ini seolah membayar semuanya. Yaaa… nggak jadi cakep banget gimana juga sih, tapi paling nggak, saya masih terlihat seperti perempuan, dan Ibu periasnya pun bisa memahami kalau saya nggak suka terlalu menor dan mau memanjangkan jilbab. Ditambah lagi saya lagi “dapet” saat resepsi kedua tersebut berlangsung, jadi nggak ada cerita nggak sholat atau nge-jama’ sholat (alasan dari mana pulak itu nge-jama’ sholat karena resepsi??). Terimakasih untuk Kak Sarah yang sudah banyak membantu…J

Jadiii, foto yang akan saya pajang dari resepsi yang kedua aja ya… Mengingat yang pertama aja udah bikin sebel, tolong jangan berharap saya mau memajangnya di blog. Hehe.



*lumayan kaaan?*