Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Monday, October 7, 2013

Saga No Gabai Bachan - Nenek Hebat dari Saga



Buku Saga No Gabai Bachan (SNGB) ini adalah buku ke dua yang saya baca dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan ke belakang. Pertama adalah Rantau Muara karya A. Fuadi. Tapi berhubung SNGB masih segar di kepala, jadilah buku ini saja yang akan saya tulis ulasannya.

Buku SNGB ini semacam memoar masa kecil – remaja dari seorang anak laki-laki bernama Yosichi Shimada yang berfokus pada tokoh sang Nenek. Oia, arti dari Saga No Gabai Bachan adalah Nenek Hebat dari Saga. Alkisah, Yosichi kecil tumbuh di kota Hiroshima yang saat itu baru saja mengalami pemboman nuklir (ya… baru dalam hitungan tahun lah…). Ayahnya sakit dan kemudian meninggal karena efek radiasi. Sang Ibu berjuang mencari nafkah dengan membuka sebuah bar dan belakangan bekerja di rumah makan.

Karena sang Ibu kesulitan untuk membesarkan anak di tengah lingkungan kota dan profesinya sebagai pemilik bar, maka Akihiro (nama asli dari Yosichi Shimada) dikirim untuk dirawat oleh sang Nenek. Di Hiroshima Akihiro tergolong miskin, tetapi hidup bersama sang Nenek ternyata lebih miskin lagi (kena deh!). Di malam pertama ia tiba di Saga, hal pertama yang dilakukan Nenek untuk menyambut Akihiro adalah mengajarinya memasak nasi, karena Nenek harus pergi pagi-pagi sekali untuk bekerja.

Lalu apa sih istimewanya Nenek? Nenek boleh dibilang punya karakter super santai, tetapi di saat yang bersamaan ia pekerja keras. Nenek juga hemat dan perhitungan, tetapi di saat yang bersamaan ia pengasih kepada orang yang lebih membutuhkan. Akihiro sendiri menurut saya sosok anak hebat yang mampu tumbuh optimis dan bahagia di antara keterbatasannya.


Yosichi sendiri pada jamannya dikenal sebagai entertainer (spesifiknya, komedian). Jadi, tidak heran kalau dalam buku yang sebenarnya kisahnya penuh kesedihan ini justru digambarkan dengan lucu dan ringan.

Kembali lagi ke Nenek, seperti apa sih super santainya? Ia tidak mempemasalahkan nilai-nilai Akihiro yang “standar”. Suatu hari, Akihiro meminta maaf karena ia lebih banyak mendapatkan nilai 1 dan 2 (dari 5) di raportnya. Nenek menjawab: “ah, tidak apa-apa… 1 dan 2 kalau ditambah-tambahkan juga hasil akhirnya 5”. Betul juga toh… Sekarang juga banyak teori pendidikan menyebutkan demikian, bahwa tidak mengapa anak tidak unggul di semua bidang selama ada bidang yang dikuasainya. Tapi soal kerja keras Nenek jangan ditanya kerasnya!! Dini hari ia sudah berangkat bekerja.

Nenek juga super irit, mungkin ini karena kondisi kemiskinannya. Nenek hampir tidak pernah berbelanja, karena di depan rumah ada “sungai supermarket”. Sungai ini banyak membawa barang-barang dari pasar seperti sayuran dan buah-buahan. Akihiro yang hobi olahraga pun dianjurkan untuk memilih lari saja sebagai olahraganya. Sederhana, karena lari tidak butuh alat apapun (bahkan Akihiro dilarang pakai sepatu saat ia berlari, hehe).

Namun, Nenek juga amat perhatian pada orang yang membutuhkan. Apabila ada saudara yang berhutang, ia tak berharap dikembalikan. Selain itu, Nenek juga pernah membeli sepatu olahraga yang amat mahal saat Akihiro diangkat menjadi kapten klub base ball.

Satu hal lagi yang menjadi penekanan Nenek (dan buku ini) secara keseluruhan. Orang miskin punya dua pilihan, menjadi miskin yang susah atau miskin yang ceria. Nenek memilih menjadi miskin yang ceria. Lagipula, menurut Nenek menjadi orang kaya tidak enak karena jadi terlalu sibuk dan banyak yang dilakukan :)

Buat saya sendiri, buku ini bagus dan ringan. Hal-hal yang sebenarnya sedih bisa membuat kita tersenyum dan mengambil hikmah. Banyak pula cerita tentang kebaikan-kebaikan orang lain di sekitar Akihiro yang bisa dijadikan contoh. Suatu hari saat Ihya sudah cukup besar saya akan memintanya membaca buku ini. Bagi yang belum membaca, buku ini bisa dijadikan pilihan. Semoga bermanfaat.

Wednesday, May 2, 2012

Setelah Menamatkan Partikel,


Semalam saya beru menamatkan Partikel-nya Dee. Sebagai orang yang ngikutin itu buku dari jaman Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya merasa antusias. Selain itu, saya nggak bakat jadi kritikus buku. Menurut saya, menulis buku aja udah sangat hebat, nggak perlu pake dikritik segala… Saat nggak suka sama suatu buku pun saya  berusaha menghabiskan buku dari awal sampai akhir sebagai bentuk penghargaan saya pada sang penulis.

Partikel cukup mampu membuat saya membaca buku terus-terusan. Walaupun harus berhenti saat saya di kantor atau saat mengurus Ihya. Walhasil suami lah yang (sepertinya) BT, karena waktu saya buat baca buku ya mayoritas saat saya sama dia. Hehe.
Balik lagi, saya nggak bakat jadi kritikus. Tapi ada saatnya ada bagian-bagian yang kurang “enak” dalam sebuah buku. Misalnya, buku Kang Abik menurut saya jalan ceritanya mudah ditebak dan tokohnya terlalu lurus dan sempurna. Atau bukunya Mbak Asma Nadia yang jalan ceritanya terlalu singkat, jadi nggak banyak konflik yang tereksplorasi. Termasuk Partikel yang sangat berbau new ages, meditasi, dsj. Setiap buku pasti punya ide yang ingin ia sampaikan dari karyanya. Namun, saya lebih cenderung mengelompokkan lagi menjadi 2: sekedar mengeksplorasi ide, atau punya misi dan menyampaikan pesan. Saya pikir Partikel (Dee) adalah yang kedua. Terlepas saya setuju atau nggak sama pesannya, saya suka J. Dan, semakin spiritual yah… Hehe.

Baca Partikel juga bikin saya makin sadar, sebenarnya sebagai seorang muslim, saya amat beruntung. Nggak perlu menyediakan perantara macem-macem untuk merasakan Dia, Sang Pencipta. Tapi, ya…itu juga nggak kalah susah. Pernah nggak sih, udah sholat malam di suasana sunyi, tapi tak tergerak hati untuk menangis dan merasa kecil di hadapanNya…. Selain itu, menjadi seorang muslim di negara mayoritas Islam macam Indonesia kadang membuat kita kurang militan, tak mencari sebenar-benarnya mencari. Tak merasakan perjuangan berarti untuk sampai kepada kesimpulan Laa Illaha Ilallah… Dooh, kok jadi melow yak… Nggak papa lah, ini melow yang positif.

Teruuus, menceng dikit, saat ini Bunda mertua saya sedang melaksanakan ibadah umroh… Mohon doanya supaya beliau sehat, aman, nyaman, tentrem, dan selamet sampai kembali sampai Jakarta. Dan mohon didoakan juga supaya bisa segera menyusul berangkat ke Baitullah… *TOSS dulu Bun!!*

Okey, penutup nih, Rasul bilang, Islam lahir alam keadaan asing. Itu bener. Dan akan kembali dalam keadaan asing. Yang ini kadang kita juga ngerasain kan yah? Mau tegas dengan makanan/minuman berfermentasi dibilang ekstrim. Jilbab panjang dibilang nggak gaul, dsb dsb. Selain itu, Rasulullah juga bilang, satu waktu, jumlah umat Islam banyak. Amat banyak. Tapi ia bagai buih di lautan yang banyak namun tak berarti. Doooh, takut jadinya… semoga kita tidak termasuk dalam mereka yang “tidak berarti”.

Friday, March 2, 2012

Lagi-lagi, Soal Ibu Bekerja…

Hari Jumat, jam 11.37, dan (untuk sementara) nggak ada kerjaan, nulis aaah… *ati-ati diketok Bu Wati, hehe*.

Doooh… tetep ya, ini jadi topik favorit banget. Buat saya, dan saya yakin buat kebanyakan Ibu yang bekerja di luar rumah. Mungkin secara alamiah manusia memang makhluk ekstrovert. Senang membahas berkenaan dengan dirinya, baik diumbar ataupun lewat ilmu kebatinan (membatin seorang diri, maksudnya…). Begitu juga saya. Gara-gara sifat dasar (atau kepribadian yah? Aduh… lagi-lagi bakal digetok Mas Budi, dosen Keprib I dan II, hehe) manusia tersebut, rencana ke Gramedia untuk beli dompet-menuju kasir-bayar-pulang jadi merembet ke beli dompet-menuju kasir-melipir ke rak buku-timbang…timbang-beli dompet dan BUKU!!



RUMAH COKLAT, karangan Sitta Karina. Singkatnya, novel Rumah Coklat itu cerita tentang seorang ibu bekerja yang “tertampar” saat anaknya mengigau bahwa ia menyayangi pengasuhnya. Mulai dari sana lah hidupnya terusik, tapi positif sih… Setelah itu sang Ibu mencoba berubah jadi lebih baik, bahkan akhirnya jadi ibu rumah tangga dengan sampingan sebagai seniman lukisan cat air.

Indah ya, akhirnya… Saya juga mau kaya gitu… Nggak tahu kapan, tapi yang jelas saat ini masih ngejar beberapa hal terkait pekerjaan. Kadang bertanya-tanya juga dalam hati: “gue egois nggak ya, mikir kayak gitu?”. Stop, sampai sini perbincangan dan pemikiran udah super panjang. *tarik napas dulu…*

Sori, OOT, tiba-tiba terbayang mata bening Ihya tadi siang. Yang bangun dengan tenang karena tidur cukup dan perut kenyang. Ganteng…ganteng…Lucu!! Haha, iya lah…buat semua Ibu pasti anaknya ganteng/cantik dan lucu. Perasaan kemudian teraduk antara haru, sedih, dan bahagia… Dan bingung mau nulis apa lagi…hehehe.


Okay, sekarang saya udah inget!! Quality time…quality time…quality time… Cuma itu yang bisa saya dan Bunny usahakan. Yang orang-orang bilang sebagai me-time pun udah nggak terlalu penting buat saya. Saya sepakat bahwa menikah dan punya anak bukan berarti nggak bisa “seneng-seneng”, tapi sementara ini seneng-senengnya bertiga dulu lah. Atau berempat kalau anak kami dua nanti. Anak-anak hanya sebentar “nyantel” sama orangtuanya. Bahkan di usia SD mereka lebih senang bermain dengan teman-temannya, dan itu normal. Suatu hari mereka juga akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Sebenarnya, periode kita “digandulin” sama mereka cuma sebentar. Tapi, masa-masa itu amat penting dan nggak bisa diulang. Nggak, saya nggak mau menyesal demi hal-hal sepele… Saya yakin nggak ada yang mau. Tapi kalau yang namanya komitmen itu gampang, bahagialah Indonesia…Haha. Liat sisi yang lain saja ah… Di sana lah perjuangannya, seninya. Karena jalan menuju syurga penuh duri dan kerikil.