Bismillahirrahmanirrahiim…
Di sela PR-PR yang belum kelar, mari ah kita nge-blog… Tema yang akan tulis ini sebenarnya sudah direncanakan beberapa waktu yang lalu, tapi pinginnya dipasin dengan tanggal 6 September. Eh… tetep ya booo… nggak kunjung ditulis dan hiyaaa… baru ditulis sekarang.
Emang tentang apaan sih sampai harus dipas-pasin gitu?? 6 September tahun ini menandai satu tahun sudah saya tinggal di Adelaide. Tapi nggak mau ngebahas tentang Adelaidenya juga sih… Melainkan tentang pekerjaan baru yang saya jalani 1 tahun ini: Ibu Rumah Tangga (IRT).
Suatu hari suami saya nanya, “Kamu seneng nggak di rumah? (jadi IRT maksudnya)”. Saya jawab: “Seneng”. Udah… gitu aja. Hahaha.
Kenyataannya? Ya seneng laaah… Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa mengurus anak-anak secara langsung. Kalau pernah baca posting saya yang ini, dulu saya memang masih dengan pilihan untuk menjadi Ibu Bekerja. Tapi semakin lama… anak semakin besar… dengan tantangan dunia yang semakin kompleks… duh… rasanya pingiiin banget secepatnya tinggal di rumah. Mau cerita dikit boleh ya… Harap dipahami, this decision made because it’s me, my life, and my family. Kalau orang lain bisa, mungkin saya aja yang kurang canggih jadi nggak sanggup kerja lagi.
Dulu saya berpikir bekerja bukan hanya soal cari uang (yang memang saat itu dibutuhkan), tapi juga mengamalkan ilmu. Terus terbayang lah itu pekerjaan-pekerjaan saya di kantor. Umm… kayaknya nggak juga deh. Sebagian iya sih… Tapi justru banyak hal saya pelajari sendiri dengan berguru kepada atasan dan rekan sekantor.
Terus saya berpikir juga bahwa bekerja adalah bagian dari tanggung jawab terhadap dan membahagiakan orangtua. Saya nggak pernah nanya sih orangtua saya lebih senang saya kerja atau nggak. Kadang Mamah menegaskan bahwa perempuan itu harus mandiri, punya uang sendiri. Tapi kadang beliau juga yang bilang “kasihan tuh Abang nggak sama Ibunya”. Tapi terlepas dari itu semua… Mau orangtua suka atau nggak suka, saya akan dimintai pertanggungjawaban atas anak-anak saya bukan atas orangtua saya. Kewajiban saya kepada orangtua adalah berbuat baik terhadap mereka, yang mana itu bisa luaaaaas banget.
***
Saya ingat betul, menjelang keberangkatan saya dan Ihya ke Adelaide, Ihya sedang dalam tahap sering tantrum parah-parahnya. Beberapa kali saya mengaum bagai singa saat marah saking frustasinya menghadapi Ihya. Beberapa kali saya dipukulnya. Nangis? Sering!! Terakhir bahkan saya butuh waktu berjam-jam sendiri setelah dipukul oleh Ihya. Ya Allah… sediiih banget rasanya… Saat itu benar-benar menjadi masa di mana saya mempertanyakan diri saya sendiri, “gue kerja buat apa sih?”. Saya berkeyakinan Ihya akan lebih baik di tangan saya langsung. Bukan ke-PD-an, tapi memang seharusnya begitu kan?
Beberapa minggu pertama di Adelaide saya kewalahan betul menghadapi Ihya. Hamil besar, anak tantrum di tempat umum, di tempat di mana Anda bisa dilaporkan ke polisi saat kasar sama anak. Tapi sejatinya, bukan cuma saya yang frustasi, Ihya mungkin lebih frustasi lagi. Aturan-aturan yang asing buat dia tiba-tiba diterapkan. Keinginannya yang biasa dengan mudah terpenuhi sekarang harus ditunda. Hal-hal yang biasanya dibantu orang lain sekarang mulai harus dilakukannya sendiri.
Namun, setelah beberapa minggu kami mulai melihat perubahan-perubahan positif. Berat memang buat Ihya, tapi karena kami punya cukup banyak waktu dengan Ihya, kami bisa terus memberikan penjelasan, dan terutama meyakinkan Ihya bahwa… Ibu tuh sayaaang banget sama kamu Nak, makanya Ibu dan Ayah melakukan ini semua.
Dan tak terasa bulan berganti sampai sekarang sudah setahun saya menjadi IRT. Biarpun senang, tetap lah ya… ada tantangannya. Yang pertama, capek. Banget. Hahaha. Kadang saya juga bingung kenapa bisa capek banget ya? Tapi mungkin ya kalau dibandingkan kerja di kantor aktivitas fisik di rumah jelas lebih banyak *nggak usah disebutin lah ya ngerjain apa…*. Ada juga temen yang nanya: “ngapain aja di rumah?” *langsung sensi*. Ya sudahlah… tak apa… dulu saya juga mikir kenapa sih Mamah kayaknya capek banget. Padahal kan enak bisa tidur siang *ampun Maaah…*. Pada kenyataannya saya juga hampir nggak pernah tidur siang tuh di rumah… Hahaha.
Yang kedua, rasa bosan. Kalau ini mah nggak usah diperpanjang karena saya memang tipe orang yang gampang bosan. Hehehe. Nggak usah di rumah, di kantor juga gitu kok. Kalau sudah bosan begini ya pinter-pinter nyari hiburan aja… Kalau buat saya yang hobi masak ini adalah saatnya bereksperimen dengan masakan baru, cari-cari resep, mantengin cara buatnya di Youtube, terus dibikin deh… Bisa juga dengan nonton film… atau sekedar jalan-jalan di sekitar rumah. Pada akhirnya memang tetap sambil digelendotin anak-anak sih… tapi nggak papa, sebentar lagi mereka juga gede. Hehe.
Yang ketiga, ujian sabar sampai ke ujung kepala. Hahaha. Misalnya niiih… tangan kiri gendong anak, tangan kanan megang masakan, terus anak yang satu lagi manggil-manggil ngajak main atau sekedar ngeliat hasil “prakaryanya”. Atau lagi nidurin anak yang sakit terus tiba-tiba anak yang satu lagi buka pintu sambil ngajak ngomong dengan suara yang keras, bangunlah anak satu lagi… dan terbayanglah pekerjaan yang lain tertunda. Dst… dst… Melayani anak kecil yang hampir nggak pernah diam buat saya cukup berat. Ia bisa nanya hal yang sama berkali-kali. Bisa menjelaskan sesuatu yang buat kita biasa aja dengan sangat antusias. Bisa lupa apa yang kita kasih tau hanya sekitar dua menit setelahnya.
Yang keempat, dalam waktu yang cukup lama setelah tinggal di rumah saya masih menganggap ini adalah sebuah “libur panjang”. Selain itu, saat di kantor waktu kerja saya ya jelas, membagi waktunya juga jelas, berbeda dengan di rumah di mana kitalah yang menentukan semuanya. Nggak lama kemudian saya melahirkan anak kedua dan harus beradaptasi dengan jadwal dedek yang masih berubah-ubah per beberapa minggu. Rasanya kok rumah nggak beres-beres ya? Alhamdulillah sih sekarang mulai ketemu ritmenya. Saya kasih bocoran sedikit ya, buat saya yang terpenting itu bukan rumah rapih, tetapi rumah diberesin. Hehe. Jadi kerjakanlah apa yang harus dikerjakan… jangan khawatir kembali berantakan. Bisa tunggu sampai besok kok ;)
Yang kelima, gimana ya tetap bermanfaat dari rumah? Kuncinya sih menurut saya di manajemen waktu dan jangan terlarut dengan keinginan untuk membuat rumah rapih cemerlang. Hahaha. Ya… saya juga masih berjuang dengan yang satu ini kok. Saya coba mengisi waktu dengan kembali ngeblog, ngaji, masak buat acara pengajian, ngajarin ini itu ke anak, ngajak mereka ke luar sambil bergerak bebas. Buat saya mah itu bermanfaat juga. Justru harusnya anaklah prioritas kan? Setelah urusan rumah dan anak-anak bisa tertangani dengan baik perlahan-lahan tenaganya dibagi dengan masyarakat. Iya… saya tahu, beberapa orang udah melakukan itu dari dulu. Tapi buat saya yang terpenting skala prioritas dan kenali kemampuan diri sendiri. Salah satu sifat jelek saya adalah pingin mengerjakan semuanya. Pinginnya tuh membuktikan bahwa gue bisa ini dan itu. Membuktikan bahwa saya nggak lemah dan bisa mengerjakan apapun. Kenyataannya? Nggak mungkin. Sedikit tapi beres buat saya jauh lebih baik.
Yang keenam, dan paling bikin galau adalaaah… tak berpenghasilan. Dududu. Nggak ada yang salah loh dengan menjadi IRT dan nggak berpenghasilan… Awalnya saya merasa kok rasanya aneh ya dapet uang jajan dari suami… Tapi sebenarnya ini masalah pembagian peran aja kok… Walaupun tetep yah saya gatel. Hihi. Sempat juga mau melamar pekerjaan tetap di perkebunan, tapi kemudian saya menampar diri sendiri “dulu yang mau jadi IRT siapa woooy??!”. Akhirnya sekarang saya berjualan makanan, dan insya Allah pingin diteruskan sesampainya di Jakarta nanti, jadi sambil latihan lah… Di sini sih yang namanya mengerjakan “blue collar job” nggak masalah dan sudah jamak dilakukan. Pingin juga dong ah buat nambah modal usaha, tapi yang jelas nggak mengganggu waktu suami dan anak-anak. Yang saya ingat selalu adalah kami di sini karena suami kuliah, maka kuliahnya adalah prioritas utama. Tugas kami semua ya mendukung supaya itu bisa terselesaikan dengan baik.
Sejauh ini sih itu aja yang saya rasakan (Aja?? Banyak gitu woy!! Hehe). Setelah merasakan sebagai Ibu Bekerja dan IRT, nggak sedikitpun saya sesali keputusan ini. Nanti nggak tau sih… hahaha. Tapi bukankah semua hal pasti punya sisi menyenangkan dan tidak? Waktu saya saat ini bersama anak-anak saya syukuri banget. Apalagi kalau ingat sore-sore becanda guling-gulingan di kasur sama Ihya dan Sulha. Mendengar tawa renyah mereka berdua. Saya yakin banyaaaaak banget Ibu Bekerja yang amat sangat menginginkannya dan iri berat sama saya :)
.
Nah… dulu salah satu faktor saya bekerja adalah untuk menambah penghasilan keluarga. Tapi seiring berjalannya waktu saya melihat beberapa pengalaman orang lain bahwa rezeki itu benar-benar kuasa Allah. Hanya DIA yang berhak menghitungnya. Alhamdulillah… walaupun saya nggak bekerja, kami nggak kekurangan suatu apapun, padahal anak bertambah :)
Sekarang fokus saya adalah bagaimana menjalani peran ini sebaik-baiknya. Menjadi manajer rumah tangga yang baik. Guru dan tauladan yang baik bagi anak-anak sampai mereka menjadi mandiri. Istri yang diridhoi suami. Dan tentu saja pengusaha kue yang sukses ya qaqaaaaa *banyak maunya ih…*
Dan kalau ada yang nanya, “nanti pas pulang ke Jakarta ada rencana kerja kantoran lagi nggak?”, jawabnya udah enteng: “nggak”.
Showing posts with label IRT. Show all posts
Showing posts with label IRT. Show all posts
Thursday, September 10, 2015
Friday, August 15, 2014
Siap-siaaap!!
Dalam 2 tahun ke depan, insya Allah
saya akan menekuni profesi baru: Ibu Rumah Tangga (IRT). Awalnya memang nggak
sengaja, walaupun sebenarnya sudah diniatkan sejak lama (tapi masih maju
mundur). Pada bulan Juli 2013 saya pindah kerja ke tempat baru dengan
pertimbangan: mendapat gaji yang lebih baik, bagian yang (saya pikir) lebih
dekat dengan passion saya di bidang
people development, tempat kerja yang tidak terlalu jauh, dan kejenuhan di
tempat lama yang sudah membuat hari-hari saya tidak bersemangat. Padahal
meninggalkan anak dari pagi sampai sore itu butuh alasan yang kuat lho... Saat
itu saya masih ingin bekerja, IRT masih sebatas kepingin kepingin doang dan
nggak jelas bagaimana rencana konkretnya.
Januari 2014 saya resign. Padahal secara umum saya cukup
bahagia di tempat kerja. Alasannya utamanya karena Papah ingin saya membantu
beliau di usahanya. Pada kenyataannya sih saya belum bisa banyak membantu
beliau karena ini bidang yang sama sekali baru buat saya: software kontraktor. Namun, saya amat sangat tegiur dengan bayangan
bahwa saya bisa punya waktu yang lebih fleksibel bersama Ihya.
Februari 2014 suami mendapatkan
beasiswa Master dari pemerintah Australia selama 2 tahun. Saya tidak
henti-hentinya bersyukur atas hal ini... Bukan sekedar karena saya bangga
dengan pencapaian suami, tetapi akhirnya saya bisa menjadi IRT. Sempat kepikiran
untuk kerja serabutan di sana demi menambah tabungan, tapi ndilalah hadirlah
bayi kecil di rahim saya... Nampaknya memang Allah mencoba mengingatkan apa
keinginan dalam doa-doa saya...
Kenapa sih pingin jadi IRT? Buat
saya sederhana saja sih... Saya ingin memberikan standar emas dalam kehidupan
anak-anak saya. Gampang? Ya nggak lah... Tapi anak-anak ini yang kelak akan
saya pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Anak-anak ini yang kemudian akan
menuntut saya jika saya lalai terhadap mereka. Walaupun tidak ada larangan
untuk Ibu untuk ikut bekerja dan mencari nafkah, tetapi memang telah ditetapkan
itu lah tanggung jawab Ayah. Ibu menjadi pendidik anak-anak di rumah.
Semua orang di ibukota ini pasti
tahu, biaya hidup itu mahal bung!! Bukan untuk bermewah-mewah lho... Sehingga
akhirnya ayah dan ibu terpaksa bekerja. Sampai saat ini pun saya nggak punya
masalah saat seorang Ibu lebih memilih untuk bekerja. Lha saya juga begitu
kok... Tapi ada masanya, ketika saya berefleksi mengenai tumbuh kembang anak,
saya merasa seharusnya saya melakukan yang lebih baik dari apa yang saya
lakukan sekarang. Bahkan dengan kondisi saya yang cukup disirikin sama
teman-teman (rumah dekat, ART baik, mertua deket rumah), saya merasa ini semua
nggak cukup. Saya nggak bisa mengharapkan yang terbaik karena saya juga nggak
total. Ini konsekuensi logis. Saya menyerahkan hasil pada Allah anak saya akan
menjadi seperti apa dan bagaimana... tapi setidaknya saya memberikan yang
terbaik.
Perempuan juga sekarang sekolah
tinggi (bahkan terlihat lebih rajin di kelas dibanding teman-teman
laki-lakinya... hehe). Wajar lah jika kami mengharapkan itu semua berujung pada
penghidupan yang lebih baik. Dan bukan cuma soal uang semata, tetapi juga
aktualisasi diri. Deuh... klasik banget ya aktualisasi diri?? Jujur sih...
selama kurang lebih 6 tahun saya bekerja, saya lebih merasa cari duit
dibandingkan aktualisasi diri. Haha. Ini juga yang membuat saya akhirnya
berusaha ikhlas melepas pekerjaan.
Kalau ditanya, nanti soal uang
gimana? Saya hanya bisa jawab: nggak tau. Insya Allah setiap orang sudah diatur
rezekinya... *bwahaha... sederhana amat ya jawabannya...*. Soalnya selama ini
saya tuh ribed, kebanyakan mikir, agak ambisius, dll. Tapi ternyata saya juga
nggak puas dengan semua itu. Dan saya sudah beberapa kali menyaksikan bahwa
rezeki-rezeki yang dulu ada dari kantong Ibu bisa pindah ke kantong Ayah dengan
cara-cara yang tak disangka-sangka.
Kalau ditanya, nanti nggak bosen?
Nah... ini sebenarnya lebih mudah... Kalau rezeki urusan Allah, kalau ini
urusan saya. Mau saya bosen atau nggak ya ada di tangan saya. Kalau saya
ternyata jadi IRT malas ya salah saya sendiri dan saya pasti bisa megubahnya.
Menjelang menyandang status IRT ini
saya mencoba berilmu sebanyak-banyaknya dan menyiapkan diri... Semoga ini
keputusan terbaik, insya Allah saya mengiringinya dengan niat baik... Bismillah
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)