Wednesday, January 11, 2012

Ini yang Membuat Saya Batuk Selama Seminggu



Dengan niat mulia ingin membahagiakan suami dan balas budi ke mertua karena udah dikasih loyang, maka dengan semangat perang kemerdekaan di suatu hari di hari Sabtu saya merencanakan untuk membuat…BROWNIES PANGGANG!!


Yaelah… brwonies kan dulunya adalah kue gagal dan bantet. Apa susahnya sih?? Bahkan ada pepatah (nggak tepat banget sih pemilihan katanya…) yang mengatakan kalau bikin brownies nggak mungkin gagal. Di resep yang gue contek pun mengatakan demikian.

Sepertinya setelah ditimbang-timbang, membuat brownies adalah pilihan yang paling menguntungkan. Kemungkinan gagal minim, dan rasanya pun tetep enak. Tapi sebagai Ibu Masa Kini, saya pingin memberikan “added value” dooong buat brownies ini… Gampang, enak, dan… sehat!!

Nah, berdasarkan analisa serampangan dari group FB yang saya ikuti, kayaknya margarine bisa diganti dengan minyak deh… Pake margarine lemak jenuh. Pake butter mahal pisan. Pake minyak kayaknya adalah pilihan luar biasa. Kebetulan abis beli Canola Oil buat makanannya si Abang (tapi sayang makenya kalo banyak-banyak…hehe).
Oke, pertanyaan selanjutnya adalah… seberapa banyakkah minyak yang harus saya masukkan sebagai pengganti margarine? Lagi-lagi akal sehat mengatakan… ya samain ajalah sama berat margarine-nya!! Susah amat sih…

Setelah dituang, sebenernya timbul pertanyaan yang mengganggu sih, kayaknya dulu bikin brownies margarine cairnya nggak sebanyak ini deh… Terus terigunya kok dikit amat ya? Terus kok gulanya banyak amat ya? Ah… sudahlah, berprasangka baik aja sama pembuat resepnya. Katanya brownies versi dia tuh lembab dan manis. Jadi, intinya, proses pembuatan brownies tetap berjalan dengan “sedikit” improvisasi pada penggunaan minyak sebagai pengganti margarine.

Jantung agak deg-degan saat mendapati adonan yang dikocok tidak kunjung berwarna putih, padahal udah ngembang banget… Dan kemudian, adonan masuk panggangan (dipanggang dengan waktu sesuai resep). Tapi kok nggak mateng ya? Bahkan sampai baunya gosong, nggak mateng-mateng juga…

Oke… Tadi deg-degan, sekarang sebel!! Gagal sudah membahagiakan suami dan tampil ciamik di depan mertua (haha, emang niatnya nggak lurus nih…kikikik). Tapi, kan saya kreatif!! Gimana caranya uang yang keluar nggak boleh sia-sia!!

Akhirnya adonan brownies setengah mateng itu saya uleni dan dicetak kecil-kecil. FYI, selama menguleni tangan saya banjir minyak. Kalo diitung-itung ya bisa segelas lah…hehe. Dan waktu dipanggang lagi pun minyaknya mendidih (kaya kita ngegoreng gitu loh…). Intinya, usaha dicetak kecil-kecil itupun gagal.

Seorang teman menyarankan untuk dikukus. Ya ampuuun… kenapa nggak kepikiran dari tadi sih!! Alhamdulillah brownis gagal (tepatnya 2 kali gagal) itu akhirnya matang. Paling nggak saya yakin browniesnya nggak bikin sakit perut. Tapi satu hal yang luput dari perhitungan saya. Yaitu minyak segelas!! Akhirnya, sukses batuk-batuk sampai seminggu…

Note: Bunny bilang gini…”Please, jangan bilang ke orang-orang kalo kamu masukin minyak segelas ke dalam adonan kue” sambil cekikikan.
FYI, minyak sebagai pengganti margarine itu boleh banget kok… tapi ternyata paling sebanyak 2 sendok makan… Hahahaha.

IDOLA BARU ALA BEBESTAR

Prihatin.
Itu yang pertama kali ada di kepala saya waktu menonton acara siaran tunda kontes Bebestar. Tempatnya, kalau nggak salah di Surabaya atau Jakarta.

Sebenarnya, iklan-iklan Bebelac (merk susu formula yang bikin acara Bebestar) rata-rata berkesan banget buat saya. Yang pertama saya ingat adalah beberapa iklan yang menunjukkan tingkah polah anak-anak yang alami banget. Walaupun tentu saja dicari adegan-adegan yang menggambarkan betapa “lucu, pintar, sehat, dan menggemaskan” nya anak-anak dalam iklan Bebestar, tapi paling nggak, bukan dengan adegan konyol seperti: “loh…kok anak 2 tahun bisa ya…minum susunya apa sih?”. Eee… nggak ada seninya banget tu iklan. Noh, jadi ngelantur kan… Balik lagi ke iklan Bebelac pertama yang saya inget adalah iklan dengan lagu: “you’re my sun…my moon…” dan kemudian menyusul beberapa versi dengan konsep yang kurang lebih sama.

Yang ke dua, kalo nggak salah sih pas boomingnya Piala Dunia, jadi konsep Bebestar-nya diterjemahkan dalam lapangan dengan bayi-bayi tanggung yang sedang bermain bola, dan kemudian ada tim yang menang. Seperti sudah ditebak, mamanya para anggota tim yang menang menangis terharu. Lumayan lucu…

Lalu, yang ke tiga adalah iklan “I want to make clouds…”. Itu indah banget… Adegannya, pengambilan gambarnya, narasinya… Tapi, sayangnya, setelah di-dubbing ke bahasa Indonesia jadi ancur… Dan ada dua iklan dengan versi yang serupa (ralat, bukan iklan bebelac tetapi saya lupa apa merk susunya).

Yang ke empat, iklan anak kecil lagi nyanyi. Yang ini udah iklan Bebestar deh kayaknya, bukan semata-mata Bebelac. Itu lucu, karena anaknya tampak sangat alami…

Yang ke lima (inilah iklan yang sumpah bikin saya ilfeel…), iklan Bebelac dengan anak kecil (yang cuantikkk buangettt) yang lagi speech, dan bilang makasih ke Mamanya. Terus ada ibu-ibu yang nangis di situ… Eh, apa yang mengharukan sih? Sori kid, menurut saya kamu kebangetan diatur dan nggak kelihatan alami…

Terakhir, saat nonton acara Bebestar yang sesungguhnya. Anak-anak balita, didandanin ala orang dewasa (bintang film Hollywood atau boyband Korea…). Disambut di karpet merah bak selebritis dengan penuh gaya… Dan di panggung, mereka menari, bernyanyi, berakting. Ada satu anak yang nge-dance bener-bener seperti orang dewasa. Bisa dibilang Beyonce versi kecil lah… Di titik itu, saya yang nggak terlalu peduli dengan adegan-adegan sebelumnya jadi bener-bener kesel atas pembentukan definisi anak “bintang” versi Bebestar. Sekarang, gimana kita mau protes dengan tayangan televisi yang mayoritas nggak ada gunanya bahkan merusak, kalau di belakang layar pun para orangtua justru menyuburkannya.

Acara reality show yang menebar mimpi orang untuk menjadi bintang (baca: artis, tetapi bukan seniman yang sebenarnya) makin marak, makin ramai. Satu-satunya alasan yang paling masuk akal buat saya adalah karena banyak orang tergoda dengan kehidupan ala bintang. Pakaian bagus, disorot kamera, muncul di infotainment, dan dibayar mahal!! Lebih mahal dari gaji manajer saya. Atau bahkan gaji VP di kantor saya!! Sungguh, saya tidak menganggap remeh pekerjaan seniman. Jika anda Idris Sardi, Adi MS, Erwin Gutawa, Ruth Sahanaya, atau Mathias Muchus (love him!!), you worth for any number as long as people love it. Seni adalah sesuatu yang sulit untuk dinilai dengan rupiah. Saking sulitnya, kadang harganya justru jadi nggak masuk akal.

Dan balik lagi ke anak-anak tadi, sekarang bukan hanya para dewasa, bahkan bukan lagi para remaja, melainkan balita!! Mereka diajak atau diarahkan orangtua mereka untuk jadi seperti itu. Yang baik, yang bagus sekarang adalah anak yang pandai menyanyi, berjoget, dan tak malu di depan kamera. Itu sajakah Ibu? Sedangkal itukah kita ingin anak-anak kita menjadi?

Duh, saya terdengar nyinyir nggak ya? Mohon maaf seribu maaf buat para Ibu yang secara sadar atau nggak mengarahkan anaknya seperti yang saya tuliskan di atas (bukan hanya lewat ajang Bebestar). Saya tetap yakin bahwa Ibu ingin yang terbaik. Tapi, Ibu mungkin tidak atau belum tahu apa yang terbaik itu. Saat kuliah, bukankah kita berkutat dengan teori. Tidak bisakah sejenak saja kita memikirkan kembali, teori kebaikan apa yang ingin kita pelajari dan ajarkan kepada anak-anak kita? Membuka kitab suci atau buku-buku parenting bisa jadi langkah awal yang mudah kan? Tapi, sepertinya bukan dengan melongok televisi.

Bismillah, mari jadi Ibu yang (benar-benar) tahu apa yang terbaik, bukan hanya ingin yang terbaik.

Tulisan ini untuk buah hatiku, Ihya dan
untuk seluruh orangtua di jagat raya.

Thursday, December 29, 2011

Ganti Baju *Akhirnya...*

Asiiik!! Alhamdulillah, ganti “baju” juga… Setelah sekian lama dibiarkan dengan baju gratisan dari Blogger, yuk mariii…cari baju (gratisan) baru. Abis belum bisa bikin sendiri sih… Mudah-mudahan bikin mood nge-blog jadi semakin bergejolak. Hahaha.

Ceritanya, lagi jadi SP, alias Super Pengangguran *hiaks* di kantor. Sedang menunggu drama mutasi (yang itu juga gue bertanya-tanya jadi apa nggak ya…?), tapi masih di departemen yang lama. Jadilah MISI No: 8 menjadi pekerjaan utama. Temen kantor gue pasti ngerti nih apa maksudnya…

Ya sudahlah, sambil mengerjakan ini-itu-sana-sini bersama-sama, gue nyambi nyari template blog yang daku suka. Yang mana ternyata itu sulllit, sodara-sodara!! Men-donlot banyak template, gunta-ganti beberapa kali barulah akhirnya memutuskan baju baru ini. Walaupun sebenernya nggak sreg-sreg amat, tapi sumpah, gue nyerah…

Ini yang paling sreg sejauh ini. Gampil lah… Kalo nggak cocok kita ganti lagi. Temen sependeritaan sampe komentar: "ya ampuuun...belum diputuskan juga?"

Btw, acara ganti baju ini juga sebenarnya menandai sebuah Resolusi maha penting (lebaaay…) untuk tahun 2012. Yaitu… RAJIN MENULIS. Nah loh, katanya maha penting, tapi nggak spesifik!! *lewein diri sendiri*.
Haiyah… bukan nggak punya target sebenarnya, tapi maluuu…takut ketauan kalo Resolusi 2012 poin A ini nggak tercapai… Hehehe.

Eniweeei, selamat datang 2012. Nggak bermaksud merayakan Tahun Baru, tapi kadang manusia memang butuh spanduk, label, plang, sebagai penanda macam pergantian tahun kaya gini. *khas manusia prokrastinator banget sih…”oke, saya akan berubah!! Besok.”*

Semoga tahun depan gue melakukan hal-hal yang jauuuh lebih bermakna dari tahun ini. Pergilah rutinitas yang melenakan!! Selamat datang tantangan!! Happy New Year…