Saturday, October 5, 2013

Edisi Jalan-jalan: Sea World!!

Bismillahirrahmanirrahiim...

Berhubung Abang sudah (hampir) 3 tahun, sudah bisa diajak ngobrol, dan sudah menagih janji-janji (hehe), maka Ayah dan Ibu mulai (agak) sering mengajak Abang jalan-jalan. Hehe.

Sebenarnya, jalan ke Seaworld Ancol ini sudah agak lama, mungkin sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu, tapi baru kepikiran untuk upload sekarang. Hiks... malesnyooooo...

Penjelasan lebih lengkap mengenai Sea World bisa dibaca di sini. Saya cukup cerita pengalaman langsung saja yah... Oia, awalnya kepikiran mengajak Abang ke Sea World karena Abang heboh banget saat lihat aquarium air laut di kantor. Biasanya di aquarium tersebut terlihat bintang laut yang sedang bermalas-malasan, ndilalah kok pas Abang datang bintang lautnya ngumpet T_T.

Akhirnya saya berjanji untuk ajak Abang lihat bintang laut di Sea World. Percaya atau nggak... saya lebih antusias dari anaknya, hehe. Rasanya deg degan dan nggak sabar sampai hari tamasya tiba. Hehe.

Perjalanan dimulai dari Cipinang karena kami pikir kalau dari Warung Buncit pasti jauh banget. Eh, ternyata tetep jauh juga euy... Kami ambil arah Tanjung Priok, salah perkiraan karena biasanya ke daerah sana naik mobil dan bisa masuk tol. Maak... rasanya jauh banget dan pantat sukses pegel-pegel.

Begitu sampai di Sea World, rasanya capek ilang euy... Cuma sempat kecewa karena jajanan setumpuk nggak bisa dibawa masuk. Yang boleh dibawa masuk hanya air putih sajah. Tapi sebenarnya nggak sia-sia juga sih, karena pengunjung boleh keluar masuk sesuka hati kalau mau makan. Harga masuk per orang Rp. 80.000 (beda dengan di web), dan saya agak lupa apakah Abang ikut bayar atau nggak (kayaknya sih > 2 tahun bayar).

Saya sendiri nggak terlalu antusias setelah melihat ikan-ikan di dalamnya. Mungkin karena udah gede ya booo... Tapi sebenernya ini sarana yang bagus untuk belajar biota laut (bisa jadi ide Homeschooling nih). Abang? Hehe, menurut saya nggak terlalu antusias juga sih... Dan sepetnya kalau ngajak Abang itu adalah... MINTA GENDONG MELULU.
Satu lagi hal yang menyebalkan buat Ayah adalah karena foto ikannya nggak ada yang bagus, hihi. Soalnya di dalam Sea World cahayanya minim banget. Tujuannya sih supaya aquariumnya jadi pusat perhatian, tapi walhasil susah buat foto.

Gimanapun saya nggak kecewa. Mungkin karena Abang masih terlalu kecil kali ya... Nanti saya akan coba ajak lagi kalau Abang sudah usia sekolah, sekalian minta ia bikin proyek untuk membuat semacam ensiklopedia biota laut.

Oia, soal makan siang... kami pilih praktis aja makan di sana. Memang rame sih, tapi nggak mahal banget (dibanding PRJ). Setelah dari Sea World, jalan-jalan sebentar ke pantai. Fiuh... Abang ini memang agak pembersih dan jengah kalau ada yang nempel di kakinya, jadi dia nggak menikmati sama sekali main di pasir T_T.

Dan ini foto-fotonya, enjoy!!









Sammy!!





Wednesday, September 25, 2013

DOCTORS



Bismillahirrahmanirrahiim…

Karena saya sedang Grey’s Anatomy Addict, jadi tiba-tiba pingin banget menulis tentang dokter. Eh, boong deh… Saya memang seneng banget sama serial TV Grey’s Anatomy (kecuali untuk adegan se*s yang sangat royal – bo… lagi seneng dikit aja kenapa mesti ciuman napsu gitu sih… - dan banyaknya drama yang melibatkan LGBT), tapi bukan itu alasan saya. Pemicu utamanya adalah dokter yang saya kunjungi semalam untuk mengetahui masalah mata yang dialami Ihya.

Kita sebut saja beliau dr. S. dr. S ini cukup baik, tapi jelas berbeda dengan dokter yang biasa kami kunjungi. Sayapun sudah menyiapkan diri bahwa nggak akan terjadi banyak diskusi. Karakter dokter memang macam-macam, sah-sah aja, tapi kadang bisa jadi hal yang vital. Karena itu saya ingin berbagi tentang dokter-dokter yang pernah saya (kami) kunjungi.

Pertama, dr. Ani
Nama lengkapnya Triani Ismelia. Beliau sebenarnya dokter kandungan saya yang kedua, tapi berhubung saya hanya mengunjungi dokter pertama sebanyak satu kali, saya nggak bisa cerita banyak. Nama dokter pertama tersebut dr. Valeria (kalau nggak salah). Orangnya cukup baik dan ramah. Santai, nggak banyak pantangan, dan nggak bikin ibu hamil anak pertama seperti saya parnoan. Oke, balik ke dr. Ani. Yang paling saya suka dari dr. Ani ini adalah… cantik dan modis!! Hehe. Orangnya juga ramah dan perhatian. Yang penting harus siap dengan segambreng pertanyaan supaya sesi konsultasinya nggak sia-sia. Hehe. Nggak banyak pantangan dan nggak banyak nakutin nanti begini nanti begitu. Pada akhirnya saya harus berakhir dengan C-Sectio, tapi karena indikasi medisnya cukup jelas, ya sudahlah.

Kedua, dr. U**nar
Bisa kelihatan yah… Namanya aja udah saya samarkan. Pengalaman saya dengan dokter ini memang bikin gondog. Sebagai dokter (yang dibayar lho), menurut saya beliau mestinya memberikan saran-saran profesional yang tepat. Pertama, Ihya tidak disarankan untuk imunisasi 0 bulan. Kedua, Ihya sempat ditawarkan susu formula (okay, ini kebijakan RS ya, saya sebut saja RS JMC, supaya ortu juga jadi lebih hati-hati). Ketiga, dr. U ini menyarankan pemberian antibiotik tanpa indikasi infeksi bakteri yang jelas. Kalaupun ada indikasi yang jelas, YANG JELAS dia tidak mengkomunikasikannya dengan baik kepada orangtua. Setelah tahu bahayanya memberikan antibiotik tanpa indikasi infeksi bakteri yang jelas, rasanya saya keseeel… banget. Not Recommended.

Ketiga, dr. Windy
dr. Windy ini kalau nggak salah dokter umum, beliau praktek di Markas Sehat. Usianya sih kayaknya masih muda. Pro imunisasi dan ASI. Dia sempat mengajari saya untuk latch-on yang benar dan membantu saya untuk melihat bon RS satu per satu untuk memastikan Ihya sudah diimunisasi atau belum. Hari itu adalah hari di mana kebutuhan saya akan konsultasi dengan dokter mencapai standar yang baru. 30 menit (bahkan lebih ya kayaknya) di ruangan, berdiskusi (sampai saya bingung mau nanya apa lagi), dan yang paling penting pro ASI, pro Imunisasi, dan RUM.

Keempat, dr. Ian
Kalau yang ini, udah lah ya… nggak usah diceritain lagi. She’s even better. Markas punya banyak pasien. Walaupun mereka membatasi jumlah pasien dalam sehari, tapi tetap saja ada rasa nggak enak kalau terlalu lama. Nah, kalau dr. Ian, berhubung beliau praktek di rumah dan pasiennya juga tidak terlalu banyak, kami bisa lamaaa… banget di sana. Bisa 1 – 1,5 jam. Haha. Bahkan Ihya suka dapat bonus-bonus sekaligus bisa main sepuasnya dengan anak-anaknya dr. Ian.

Kelima, dr… Lupa
Beliau adalah dokter di sebuah klinik 24 jam. Timbang BB, lihat Ihya sebentar,  langsung ambil buku resep. Kalau saya nggak nanya, mungkin kami hanya di ruangan selama 5 menit. Saya tanya-tanya pun ia terlihat tidak sabar dan sudah nggak melihat wajah saya. Fokus entah menulis resep apa. Saya lupa, kebanyak dokter memang seperti ini. Tapi sekian lama dengan dokter di Markas dan dr. Ian, ketemu dokter yang macam ini memang bikin mulut menganga. Tapi ya sudahlah, namanya juga dokter klinik 24 jam. Saya nggak meremehkan, tapi pendapat saya ya akan setara dengan pelayanannya.

Keenam, dr. Apin.
Hmm… ini mah nggak usah ditanya yah… Pertama, beliau dokter Markas. Kedua, beliau dokter spesialis anak. Ketiga, beliau nulis buku. Saya sampe nggak PD buat tanya-tanya, hehe. Ramaaah banget. He’s great with kids J. Terakhir, tarif konsultasinya mahal (banget), lebih mahal daripada SPA di KMC.

Ketujuh, dr… Lupa
Beliau perempuan dan praktek di KMC. Saya hampir percaya bahwa semua dokter KMC akan memberikan pelayanan yang terbaik. Saya nggak bisa cerita banyak karena hanya satu kali bertemu beliau dan jadi pasien terakhir pula. Secara keseluruhan baik-baik saja, tapi dari segi waktu konsultasi memang jauh banget dibandingkan dokter Ian atau Markas.

Kedelapan, dr. Farisda
Sebenarnya dr. Farisda ini termasuk dokter awal yang saya kunjungi. Pertama bertemu beliau saat Ihya imunisasi di Markas. Standarnya dokter di Markas lah ya. Sabar, oke banget dalam berhubungan dengan anak. Dan terakhir, beliau kasih nomor HP. Hal tersebut hanya terjadi sekali seumur hidup saya. Dokter yang kasih nomor hape buat saya keren, karena bersedia “diganggu” tanpa melulu memikirkan tarif konsultasi. Walaupun akhirnya harus ketemu juga sih di KMC, tapi amat sangat menenangkan :)

Kesembilan, dr… lupa namanya.
Beliau ini dokter spesialis mata yang saya kunjungi karena Ihya sering banget mengalami mata merah dan gatal. Sudah tuaaaaa banget. Standar dokter yang cek-cek bentar terus tulis resep. Berhubung sudah tua, saya juga sungkan buat “cerewet” tanya ini itu. Tapi ada satu hal yang buat saya lemes dan kecewa. Ternyata obat tetes yang dikasi isinya antibiotik. Ihya kan “cuma” alergi dok… :(

Kesepuluh, dr. S
Beliau ini juga dokter spesialis mata. Awalnya saya nggak banyak ambil pusing karena saya yakin Ihya alergi. Tapi berhubung Bunda kekeuh banget minta Ihya dibawa ke sana, saya datangi juga lah beliau. Lagipula saya habis dapat informasi mengenai penyakit mata yang gejalanya mirip dengan Ihya. Tapi dari awal saya sudah menyiapkan diri. Di ruanganpun saya nggak banyak nanya. Ya… mungkin kami di ruangannya kurang dari 5 menit, dan diminta untuk balik 1 minggu lagi. Saya berniat untuk balik kembali minggu depan. Tidak ada salahnya dicoba lah…

Kesimpulan yang saya dapat dari semua dokter yang pernah saya kunjungi: usia dan pengalaman memang sesuatu yang berharga. Tapi saat berhadapan dengan pasien (yang pastinya sedang sakit), sikap mengedepankan komunikasi penting banget. Jangan salahkan kalau banyak yang protes ada dokter komersil, karena memang banyak. Dokter menurut saya bukan bertanggung jawab untuk membuat pasien sembuh, tapi memberikan diagnosa yang tepat untuk menentukan terapi yang tepat. Jangan lupa juga, pasien itu awam dan butuh informasi. Edukasi mereka untuk sabar dan menjaga kesehatan. Sabar di sini berarti tidak memaksakan hilangnya gejala yang justru membuat penyakit bisa menjadi semakin parah walaupun gejalanya hilang. Maka saya sangat mengapresiasi dokter-dokter yang bersedia melakukannya. Semoga Allah membalas dengan kebaikan pula J. Oiya, selain dokter-dokter di atas sebenarnya ada beberapa lagi dokter yang pernah saya kunjungi saat sedang mengurus impaksi yang saya alami. Kebanyakan baik hati. Tapi ada 1 dokter di RSUD Budhi Asih, namanya kalau nggak salah dr. N*na. Alih-alih merujuk saya ke RS yang lebih baik (karena Budhi Asih tidak memiliki fasilitas dan dokter yang memadai), beliau justru merujuk saya ke kliniknya sendiri untuk dioperasi oleh suaminya yang spesialis bedah mulut. Beliau juga “menakuti” saya bahhwa biaya yang ditanggung Askes hanya sekitar 300 ribu saja. Saya sempat mengunjungi kliniknya saking desperado dengan alur Askes yang panjang. Bisa ditebak, kliniknya adalah klinik di ruko yang biayanya aduhai… Duh, saya miris sekali, apa sebegitunya ia butuh uang? Kalau saya punya banyak uang, buat apa repot-repot mengurus Askes. Setelah saya ke Budhi Asih dan bertemu dengan dokter yang lain, Alhamdulillah saya bisa dirujuk ke RSCM.

*Semoga ada salah satu anak saya yang jadi dokter yang kompeten dan mengedepankan komunikasi dengan pasien*

Monday, July 1, 2013

Alhamdulillah, Lulus!!



Bismillahirrahmanirrahiim…


Setelah beberapa hari ini “repot” dengan blog edisi dapur www.cakeandfriends.wordpress.com … Hari ini saya mau repot dengan www.bungafiktif.blogspot.com.

Hari ini saya pingin banget cerita kepada dunia (taelah…) tentang proses Toilet Training (TT) Abang Ihya. Sebelumnya saya juga pernah nulis tentang tema yang sama. Semua berjalan dengan cukup lancar setelah hari itu, bisa dibilang Ihya nggak pernah ngompol lagi saat tidur malam dan hampir selalu bilang kalau mau pipis. Tapi, ada satu masa di mana Ihya tiba-tiba jadi suka ngompol di malam hari. Kami coba berpikir, kenapa ya…? Eh, ternyata saya sudah nggak bisa segitu tenangnya menidurkan Ihya seperti dulu. Frekuensi minum dan mainnya tidak saya atur seperti dulu, jadi… pipis sebelum tidur adalah wajib hukumnya!! Hehehe.

Kemudian, TT sudah mulai berjalan kembali, tiba-tiba Ihya seperti mengalami penurunan kembali. Jangankan saat tidur, saat bangun saja Ihya jadi sering pipis di celana. Hal pertama yang saya cek adalah pemakaian pospak dan keteraturan jam Buang Air Kecil (BAK). Benar saja, karena Ihya sering menolak untuk mengikuti jadwal BAK di kamar mandi, saat sudah kebelet ia tak sanggup menahan dan kemudian pipis di celana. Akhirnya, Ihya diminta untuk memakai pospak kembali oleh mertua yang kemudian membuat keterampilan TTnya kembali menurun. Maklum, Ihya tinggal di rumah mertua saya saat siang hari. Pipis di sembarang tempat jelas mengganggu karena rumah mertua saya memang sering dijadikan tempat pengajian dan ada TK juga di sana. Sebagai rencana perbaikan, saya melarang ART untuk memakaikan pospak kepada Ihya dalam keadaan apapun. Lah, kalau diminta sama mertua gimana? Hehe… Ya udah deh, nyerah… tapi silahkan beli pospaknya sendiri. Saya pun nggak pernah lagi nyetok pospak di rumah.

Sayapun berusaha untuk menyemangati Ihya untuk tidak pipis lagi dengan memberikan hadiah-hadiah kecil kalau ia sukses tidak pipis di celana seharian. Selain itu, bagaimanapun keadaannya, jangan marah saat Ihya pipis di celana. Menurut saya itu hanya memperburuk keadaan dengan membuat Ihya semakin tegang.

Tantangan juga semakin naik dari hari ke hari. Mulai dari tidak pakai pospak saat tidur, kemudian saat main, kemudian saat bepergian ke warung atau sekitar rumah, kemudian saat bepergian jauh seperti ke rumah neneknya, dan kemudian… kemarin Ihya tidak pakai pospak sama sekali seharian. Pagi hari kami pergi arisan keluarga, kemudian melancong ke ITC untuk beli beberapa keperluan. Aaaah… Saya bahagia banget.

Setiap ada pencapaian baru, di malam hari saya ingatkan Ihya dan kami sekeluarga untuk bilang bahwa hari ini dia telah membuat pencapaian baru yang hebat. Untuk memotivasi, kami belikan juga ia celana dalam yang lucu-lucu :)

Beberapa hari yang lalu ada kejadian lucu. Tante-tantennya mau membawa Ihya belanja dan memintanya untuk memakai pospak, dan Ihya… marah!! Ia bilang “kan Abang udah gede… yang pakai P**pers anak keciiil!!”. Sampai di rumahpun ia masih mengadu kepada saya dan kakeknya kalau ia dipaksa pakai pospak. Hehe. Good boooy!!

Dan hari ini, sepertinya saya bisa bilang bahwa Ihya telah lulus TT :)

Kalau ditanya apa tipsnya… Buat saya sih setelah dirangkum ada beberapa hal…

Satu, mulai TT hanya jika anak sudah siap secara fisik. Biasanya sekitar 1,5 sampai 2 tahun. Percayalah, Anda akan lebih bahagia menjalaninya.

Dua, setelah mulai ya harus disiplin. No pospak sama sekali. Bisa dilakukan secara bertahap sih, tapi paling nggak untuk sehari-hari sudah dihilangkan sama sekali.

Tiga, edukasi orang-orang sekitar terutama yang ikut berinteraksi dengan anak. Termasuk diri sendiri kayaknya ya… supaya tetap sabar apapun yang terjadi :)

Empat, kalau TT berlangsung lama dan tidak sesuai harapan, jangan sedih dulu. Cukup evaluasi proses yang berjalan dan lakukan perbaikan-perbaikan.

Lima, TT itu prestasi besar lho… Saya masih ngompol di tempat tidur sampai usia SD. Makanya saya sudah cukup menyiapkan diri kalau Ihya menjalani TT dalam waktu yang lama. Jangan lupa berikan pujian dan hadiah-hadiah kecil kepada anak, karena mereka telah melakukan hal yang hebat. Ihya aja bisa tersipu kalau dipuji… Di dalam hati pasti ia senang dan bangga pada dirinya sendiri.

Tantangan berikutnya buat Ihya adalah perjalanan (sangat) jauh tanpa pospak. Umm... pulang kampung misalnya? Siap-siap ya Nak!! Semoga bermanfaat.