Bismillahirrahmanirrahiim...
Kadang saya mengeluh... kenapa sih Ihya itu nempeeel banget sama saya? Apa-apa maunya sama Ibu. Wajar ya, namanya juga Ibu... Bahkan semestinya saya bersyukur karena walaupun selama ini saya bekerja dari pagi sampai sore, tetapi Ihya tetap memiliki kedekatan yang tinggi dengan saya. Mungkin inilah "bonding" yang disebut tercipta dari menyusui. Apalagi saya menyusuinya dengan sangat keras kepala di bulan-bulan pertama Ihya (ya, ini adalah salah satu hal yang saya banggakan dalam hidup).
Tapi... ada kalanya saya sedang capek. Baik capek secara fisik maupun emosional. Kebayang kan menghadapi balita setiap hari? Mereka menyenangkan (Ihya itu suka ngelucu loh... Hehe) tetapi juga menantang. Karena menjawab pertanyaan demi pertanyaan balita itu nggak mudah dan bikin mikir. Saya juga termasuk yang berprinsip komunikasi adalah alternatif pertama. Sehingga kadang harus ambil nafas dalam-dalam saat berkomunikasi dengan Ihya.
Ada kalanya saya juga ingin suami mendapatkan bentuk kedekatan yang sama.
Ada kalanya saya... ya... lagi pingin santai aja. Hahaha.
Tapi pagi ini, saat saya bangun (kebetulan Ihya kemarin lagi suka merengek tanpa sebab yang saya mengerti) ... saya lihat wajahnya. Saya peluk dia dengan erat. *Duh, rasanya pasti enak banget ya dipeluk*.
Saya rasakan ia memeluk balik.
Perlahan matanya terbuka, dan melihat wajah saya yang pertama ia lihat, ia nampak sangat bahagia.
Ia membalas senyuman saya dengan senyuman semanis permen kapas.
Dan kemudian ia mencium pipi saya sambil berkata "Abang sayang Ibu..."
*tisu mana tisuuuuu?!!*
Saya hanya berpikir satu hal pada saat itu. Saat ini sampai waktu tertentu, saya adalah dunianya. I am his universe. Nggak berlebihan lah ya... Sabar dan pelan, suatu saat masa-masa ini akan berganti sesuai dengan tahap perkembangannya. Suatu saat keistimewaan saya tak akan lagi tampak dalam bentuk yang sama.
Jadi, nikmati saja.
Tapi teteup yah... nangis dan ngomel mah jamak. Haha.
I love you, My Boy... :)
Saturday, November 8, 2014
Saturday, October 18, 2014
Glenelg Beach
Bismillahirrahmanirrahiim...
Masih edisi jalan-jalan... (panik lihat masih banyak yang mau ditaruh di blog T_T)
Saya nih orang pantai. Suka air, dan nggak suka ngos-ngosan naik gunung. Apalagi kalau ditambah drama bingung mau buang air di mana... (cemen banget ya?). Makanya begitu ditawarin buat jalan-jalan saya langsung pingin ke pantai.
Di Adelaide sendiri ada beberapa pantai yang bisa dikunjungi. Tapi karena waktu itu lokasi masih nomaden di rumah teman yang dekat dengan stasiun tram, maka pilihan jatuh ke Glenelg Beach karena bisa langsung diakses dengan tram. Apesnya hari itu bertepatan dengan acara lari marathon yang bikin kita harus jalan 3 stasiun. Hihi. Kalo ibunya sih masih bisa elus-elus perut sambil berdoa lahiran lancar karena banyak jalan. Nah, yang kecil udah bete kecapean duluan...
Tapi begitu lihat air dan pasir, langsung deh mata Ihya berbinar-binar. Kebetulan walaupun cuaca cukup cerah, tapi tetep yah... anginnya dingin!! Pasirnya pun dingin. Jadi Ihyapun lebih sukarela melepas sendalnya dan lari-lari di pasir. Saya kasih tau ya... Ihya ini risihan banget. Baju atau celana basah dikit mnta ganti. Nginjek nasi atau yang kotor-kotor pasti minta langsung bersihin (apalagi pasir!!). Nginjek rumput atau duduk di rumputpun dia ogah kalau nggak dipaksa. Kejadian Ihya main di pasir ini termasuk agak langka (maklum anak mall... hehe).
Walaupun "cuma" main-main dan duduk-duduk di pantai, tapi sebenarnya ini wisata yang sehat. Perjalanan nggak makan waktu lama... bisa menghirup udara segar... anak bisa bebas main lari-larian... gratis pulak (dasar emak-emak, nyebutnya gratis melulu).
Ya... paling nggak masyarakat bisa mendapatkan hiburan murah meriah, jadi nggak gampang stress :)
Terakhir (tapi paling penting!), silahkan menikmati foto-fotonya ya :)
![]() |
| Ini maksudnya Ibu gaya Titanic atau apa sih? |
![]() |
| Kalau di Ancol ini udah jadi tempat foto pre wedd sejuta pasangan. Hehe |
![]() |
| Abang yang foto lhooo... *Ibu obsesi punya foto berdua Ayah* |
![]() |
| selpih |
![]() |
| Bersih... |
Jalan-jalan: South Australian Museum
Bismillahirrahmanirrahiim...
Kayaknya dari sejak menginjakkan kaki di luar negeri, pertanyaan yang paling sering muncul adalaaah... "udah ke mana aja?". Hehe.
Motif utama saya jalan-jalan sih sebenarnya menjajaki seluas-luasnya Adelaide (Australia kalo bisa... hehehe). Kedua, bikin Ihya capek. Haha. Maklum... anak kecil kan energinya gede banget. Harus sering-sering diajak main keluar dan berkegiatan. Sekaligus belajar tentang hal-hal baru yang ditemuinya.
Kali ini saya ingin cerita tentang kunjungan ke South Australian Museum. Disclaimer: Tulisan di foto-foto yang saya tempel di posting kali ini adalah SA Museum. Karena eh karena saya pikir nama museumnya adalah South Australia Museum. Hehe. Tapi mau edit lagi dari awal males banged euy...
Kota ini memang punya banyak taman, ruang terbuka, dan wisata edukatif macam South Australian Museum yang pastinya... gratis. Hihi. Setelah beli sesuatu di Central Market kami bertiga langsung capcus ke museum ini. Awalnya, seperti niat di awal, hanya mau jalan-jalan (makanya dateng jam 2 siang, hehe). Tapi, sebenarnya kalau Ihya sudah sedikit paham bahasa Inggris dan masuk usia sekolah, wisata museum bisa lebih menyenangkan lagi. Insya Allah setelah Ihya sekolah saya akan ajak dia ke sana lagi, soalnya saya juga suka. Hehe.
Di museum pasti kita melihat sesuatu yang biasanya hanya kita nikmati lewat gambar atau video. Nah, anak usia sekolah mestinya sih lebih bisa mengeksplorasi. Ihya sendiri terlihat sangat bersemangat (kecuali di bagian koleksi Kebudayaan Pasific dan Aborigin) karena banyak koleksi-koleksi binatang dalam bentuk patung atau yang sudah diawetkan. Beberapa bahkan masih hidup. Dan biasalah... sampai agak susah disuruh pulang :)
Sayangnya, karena waktu kedatangan kami mepet (museum dibuka dari jam 10 - 17) jadi nggak semua bagian bisa dieksplorasi, tepatnya kami meninggalkan koleksi Mesir Kuno T_T.
Oia, South Australian Museum juga sering menjadi tempat untuk acara-acara tertentu, misalnya di hari itu akan diadakan semacam penghargaan fotografi di malam hari. Taman bagian depannya juga cukup luas. Bisa buat tempat ngadem dan makan untuk yang bawa bekal seperti kami. Nggak bawa makanan pun gampang karena ada Museum Cafe (eh... tapi nggak ada jaminan makanannya halal ya... hehe)
Untuk informasi lengkap mengenai South Australian Museum bisa dilihat di tautan ini: http://www.samuseum.sa.gov.au/
Saya hanya punya sedikit foto-fotonya saja. Semoga wisata museum di Indonesia juga bisa semakin diminati :)
Kayaknya dari sejak menginjakkan kaki di luar negeri, pertanyaan yang paling sering muncul adalaaah... "udah ke mana aja?". Hehe.
Motif utama saya jalan-jalan sih sebenarnya menjajaki seluas-luasnya Adelaide (Australia kalo bisa... hehehe). Kedua, bikin Ihya capek. Haha. Maklum... anak kecil kan energinya gede banget. Harus sering-sering diajak main keluar dan berkegiatan. Sekaligus belajar tentang hal-hal baru yang ditemuinya.
Kali ini saya ingin cerita tentang kunjungan ke South Australian Museum. Disclaimer: Tulisan di foto-foto yang saya tempel di posting kali ini adalah SA Museum. Karena eh karena saya pikir nama museumnya adalah South Australia Museum. Hehe. Tapi mau edit lagi dari awal males banged euy...
Kota ini memang punya banyak taman, ruang terbuka, dan wisata edukatif macam South Australian Museum yang pastinya... gratis. Hihi. Setelah beli sesuatu di Central Market kami bertiga langsung capcus ke museum ini. Awalnya, seperti niat di awal, hanya mau jalan-jalan (makanya dateng jam 2 siang, hehe). Tapi, sebenarnya kalau Ihya sudah sedikit paham bahasa Inggris dan masuk usia sekolah, wisata museum bisa lebih menyenangkan lagi. Insya Allah setelah Ihya sekolah saya akan ajak dia ke sana lagi, soalnya saya juga suka. Hehe.
Di museum pasti kita melihat sesuatu yang biasanya hanya kita nikmati lewat gambar atau video. Nah, anak usia sekolah mestinya sih lebih bisa mengeksplorasi. Ihya sendiri terlihat sangat bersemangat (kecuali di bagian koleksi Kebudayaan Pasific dan Aborigin) karena banyak koleksi-koleksi binatang dalam bentuk patung atau yang sudah diawetkan. Beberapa bahkan masih hidup. Dan biasalah... sampai agak susah disuruh pulang :)
Sayangnya, karena waktu kedatangan kami mepet (museum dibuka dari jam 10 - 17) jadi nggak semua bagian bisa dieksplorasi, tepatnya kami meninggalkan koleksi Mesir Kuno T_T.
Oia, South Australian Museum juga sering menjadi tempat untuk acara-acara tertentu, misalnya di hari itu akan diadakan semacam penghargaan fotografi di malam hari. Taman bagian depannya juga cukup luas. Bisa buat tempat ngadem dan makan untuk yang bawa bekal seperti kami. Nggak bawa makanan pun gampang karena ada Museum Cafe (eh... tapi nggak ada jaminan makanannya halal ya... hehe)
Untuk informasi lengkap mengenai South Australian Museum bisa dilihat di tautan ini: http://www.samuseum.sa.gov.au/
Saya hanya punya sedikit foto-fotonya saja. Semoga wisata museum di Indonesia juga bisa semakin diminati :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
















