Wednesday, March 7, 2012

Nge-blog Perdana dari Ble Jr

Alhamdulillah...

Walaupun gaji nggak gede, walaupun yang namanya kebutuhan ada aja, dan walaupun-walaupun yang lainnya, tapi saya masih bersyukur karena bisa membeli laptop kembali!!

Kalo dipikir-pikir gaji saya emang suka nggak berwujud, hehe. Baru kali ini lah bisa berwujud barang pribadi yang lumayan mikir-mikir semikir-mikirnya saat ngebayangin jumlah uang yang harus dikeluarkan. Selama ini juga masih banyak harta benda yang itungannya pemberian dari orang tua. Ya...apapun teteplah rejeki namanya, tapi tetep aja bersukur banget akhirnya bisa beli laptop pake duit sendiri J. Pas banget euy... pas lagi dapet bonus dan pas banget dapet arisan *yang nggak diambil buat masang teralis bulan depan, hehe*.

Sekalian mau minta maaf dengan wajah polos kepada suamiku, tabungan rumahnya jadi keambil nih sayang... L

Sekalian juga mau bilang sama malingnya, saya nggak marah, karena rejeki datangnya dari Allah, kalau Allah nggak kasih ya nggak bakalan turun... Harta benda juga punya Allah, kalau Allah mau ambil, mau lewat jalan apapun pasti akan pergi juga. 
Cuma...sayang banget nih, harta yang kamu ambil nggak halal. Dipake nggak berkah, dimakan nggak berkah. Mending buruan tobat, takut besok nggak ada umur *nggak marah tapi dendam...hehehe*.

Dan, yak!! Secara resmi saya mulai menulis blog di laptop baru dan milik sendiri *senyum lebar*. Semoga laptop ini awet menemani saya sampai akhir hayat *et dah... udah kayak ama suami aje* dan akan lahir karya-karya bermakna dari laptop ini.

Rabu/7 Maret 2012

Friday, March 2, 2012

Lagi-lagi, Soal Ibu Bekerja…

Hari Jumat, jam 11.37, dan (untuk sementara) nggak ada kerjaan, nulis aaah… *ati-ati diketok Bu Wati, hehe*.

Doooh… tetep ya, ini jadi topik favorit banget. Buat saya, dan saya yakin buat kebanyakan Ibu yang bekerja di luar rumah. Mungkin secara alamiah manusia memang makhluk ekstrovert. Senang membahas berkenaan dengan dirinya, baik diumbar ataupun lewat ilmu kebatinan (membatin seorang diri, maksudnya…). Begitu juga saya. Gara-gara sifat dasar (atau kepribadian yah? Aduh… lagi-lagi bakal digetok Mas Budi, dosen Keprib I dan II, hehe) manusia tersebut, rencana ke Gramedia untuk beli dompet-menuju kasir-bayar-pulang jadi merembet ke beli dompet-menuju kasir-melipir ke rak buku-timbang…timbang-beli dompet dan BUKU!!



RUMAH COKLAT, karangan Sitta Karina. Singkatnya, novel Rumah Coklat itu cerita tentang seorang ibu bekerja yang “tertampar” saat anaknya mengigau bahwa ia menyayangi pengasuhnya. Mulai dari sana lah hidupnya terusik, tapi positif sih… Setelah itu sang Ibu mencoba berubah jadi lebih baik, bahkan akhirnya jadi ibu rumah tangga dengan sampingan sebagai seniman lukisan cat air.

Indah ya, akhirnya… Saya juga mau kaya gitu… Nggak tahu kapan, tapi yang jelas saat ini masih ngejar beberapa hal terkait pekerjaan. Kadang bertanya-tanya juga dalam hati: “gue egois nggak ya, mikir kayak gitu?”. Stop, sampai sini perbincangan dan pemikiran udah super panjang. *tarik napas dulu…*

Sori, OOT, tiba-tiba terbayang mata bening Ihya tadi siang. Yang bangun dengan tenang karena tidur cukup dan perut kenyang. Ganteng…ganteng…Lucu!! Haha, iya lah…buat semua Ibu pasti anaknya ganteng/cantik dan lucu. Perasaan kemudian teraduk antara haru, sedih, dan bahagia… Dan bingung mau nulis apa lagi…hehehe.


Okay, sekarang saya udah inget!! Quality time…quality time…quality time… Cuma itu yang bisa saya dan Bunny usahakan. Yang orang-orang bilang sebagai me-time pun udah nggak terlalu penting buat saya. Saya sepakat bahwa menikah dan punya anak bukan berarti nggak bisa “seneng-seneng”, tapi sementara ini seneng-senengnya bertiga dulu lah. Atau berempat kalau anak kami dua nanti. Anak-anak hanya sebentar “nyantel” sama orangtuanya. Bahkan di usia SD mereka lebih senang bermain dengan teman-temannya, dan itu normal. Suatu hari mereka juga akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Sebenarnya, periode kita “digandulin” sama mereka cuma sebentar. Tapi, masa-masa itu amat penting dan nggak bisa diulang. Nggak, saya nggak mau menyesal demi hal-hal sepele… Saya yakin nggak ada yang mau. Tapi kalau yang namanya komitmen itu gampang, bahagialah Indonesia…Haha. Liat sisi yang lain saja ah… Di sana lah perjuangannya, seninya. Karena jalan menuju syurga penuh duri dan kerikil.

Sekedar Curhat…

Malam selasa kemarin habis ditimpa musibah nih… Ada maling masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa barang. Terlepas dari nilai barangnya yang mungkin buat beberapa orang nggak seberapa, buat saya yang masih pas-pasan ini, sedih juga yah… Walaupun sedihnya belakangan, tapi tetep lah, sedih namanya… Pertama, jelas karena kehilangan harta benda. Kedua, karena yang hilang adalah pemberian dari Papah. Ketiga, karena ngebayangin ribed ngurus ini itu…

Karena kejadian itu, anggaran buat ngebenerin rumah di beberapa titik harus ditambah *gemeteran ngelihat slip gaji…hehe*. Ninggiin pager, masangin beling, benerin kunci… Memang sih, yang namanya musibah kalau sudah digariskan nggak akan lari, sama dengan rejeki. Tapi bolehlah kita berusaha, kan menjaga hak bagian dari jihad, hehe *bener nggak si?*.

Nah, ngomongin soal usaha, menurut saya, musibah ini adalah teguran dari 3 hal, dan sebagai bagian dari usaha, saya harus lebih baik pada tiga hal tersebut.
Satu, saya musti lebih rajin bangun dan solat malam. Yang mana itu adalah jam-jamnya maling beroperasi.
Dua, shalat subuh jangan kesiangan!! Siapa tahu malingnya masih deket jadi bisa dikejar. Hehe. *mulai ngaco…*
Tiga, buat kebanyakan orang saya mungkin dinilai selebor, pelupa, nggak rapih, dan sejenisnya. Padahal, nggak pernah bermaksud kayak gitu loh… Kadang sebel sendiri kalau ada orang yang menempelkan atribut-atribut tadi kepada saya. Tapi, di sisi lain, mereka ada benarnya juga. Makanya, dengan kejadian ini saya musti lebih perhatian dan lebih rapih lagi. Walaupun berkat sisi cuek ini saya berhasil melewati cobaan-cobaan berat, tapi untuk rumah harus, harus, dan harus berubah!! Apalagi rumah tersebut adalah amanah dari Papa dan Bunda. Dan kayaknya konyol aja kalau harus kehilangan orang-orang tercinta atau bahkan diri sendiri karena kecerobohan tersebut.

Hal penting lagi nih, untuk siapapun yang baca tulisan ini, mohon didoakan ya…
Apabila ini ujian, semoga saya bisa sabar melewatinya.
Kalau ini teguran, semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di mata Allah.
Jika ini tanda kasih sayang, semoga saya bisa mendapatkan ganti yang lebih baik.

Terakhir, WASPADALAH!! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan.

*berhubung laptop dan modem ikut dibawa kabur, entahlah kapan tulisan ini bisa di-publish…*

Rabu, 29 Februari 2012