Monday, July 1, 2013

Alhamdulillah, Lulus!!



Bismillahirrahmanirrahiim…


Setelah beberapa hari ini “repot” dengan blog edisi dapur www.cakeandfriends.wordpress.com … Hari ini saya mau repot dengan www.bungafiktif.blogspot.com.

Hari ini saya pingin banget cerita kepada dunia (taelah…) tentang proses Toilet Training (TT) Abang Ihya. Sebelumnya saya juga pernah nulis tentang tema yang sama. Semua berjalan dengan cukup lancar setelah hari itu, bisa dibilang Ihya nggak pernah ngompol lagi saat tidur malam dan hampir selalu bilang kalau mau pipis. Tapi, ada satu masa di mana Ihya tiba-tiba jadi suka ngompol di malam hari. Kami coba berpikir, kenapa ya…? Eh, ternyata saya sudah nggak bisa segitu tenangnya menidurkan Ihya seperti dulu. Frekuensi minum dan mainnya tidak saya atur seperti dulu, jadi… pipis sebelum tidur adalah wajib hukumnya!! Hehehe.

Kemudian, TT sudah mulai berjalan kembali, tiba-tiba Ihya seperti mengalami penurunan kembali. Jangankan saat tidur, saat bangun saja Ihya jadi sering pipis di celana. Hal pertama yang saya cek adalah pemakaian pospak dan keteraturan jam Buang Air Kecil (BAK). Benar saja, karena Ihya sering menolak untuk mengikuti jadwal BAK di kamar mandi, saat sudah kebelet ia tak sanggup menahan dan kemudian pipis di celana. Akhirnya, Ihya diminta untuk memakai pospak kembali oleh mertua yang kemudian membuat keterampilan TTnya kembali menurun. Maklum, Ihya tinggal di rumah mertua saya saat siang hari. Pipis di sembarang tempat jelas mengganggu karena rumah mertua saya memang sering dijadikan tempat pengajian dan ada TK juga di sana. Sebagai rencana perbaikan, saya melarang ART untuk memakaikan pospak kepada Ihya dalam keadaan apapun. Lah, kalau diminta sama mertua gimana? Hehe… Ya udah deh, nyerah… tapi silahkan beli pospaknya sendiri. Saya pun nggak pernah lagi nyetok pospak di rumah.

Sayapun berusaha untuk menyemangati Ihya untuk tidak pipis lagi dengan memberikan hadiah-hadiah kecil kalau ia sukses tidak pipis di celana seharian. Selain itu, bagaimanapun keadaannya, jangan marah saat Ihya pipis di celana. Menurut saya itu hanya memperburuk keadaan dengan membuat Ihya semakin tegang.

Tantangan juga semakin naik dari hari ke hari. Mulai dari tidak pakai pospak saat tidur, kemudian saat main, kemudian saat bepergian ke warung atau sekitar rumah, kemudian saat bepergian jauh seperti ke rumah neneknya, dan kemudian… kemarin Ihya tidak pakai pospak sama sekali seharian. Pagi hari kami pergi arisan keluarga, kemudian melancong ke ITC untuk beli beberapa keperluan. Aaaah… Saya bahagia banget.

Setiap ada pencapaian baru, di malam hari saya ingatkan Ihya dan kami sekeluarga untuk bilang bahwa hari ini dia telah membuat pencapaian baru yang hebat. Untuk memotivasi, kami belikan juga ia celana dalam yang lucu-lucu :)

Beberapa hari yang lalu ada kejadian lucu. Tante-tantennya mau membawa Ihya belanja dan memintanya untuk memakai pospak, dan Ihya… marah!! Ia bilang “kan Abang udah gede… yang pakai P**pers anak keciiil!!”. Sampai di rumahpun ia masih mengadu kepada saya dan kakeknya kalau ia dipaksa pakai pospak. Hehe. Good boooy!!

Dan hari ini, sepertinya saya bisa bilang bahwa Ihya telah lulus TT :)

Kalau ditanya apa tipsnya… Buat saya sih setelah dirangkum ada beberapa hal…

Satu, mulai TT hanya jika anak sudah siap secara fisik. Biasanya sekitar 1,5 sampai 2 tahun. Percayalah, Anda akan lebih bahagia menjalaninya.

Dua, setelah mulai ya harus disiplin. No pospak sama sekali. Bisa dilakukan secara bertahap sih, tapi paling nggak untuk sehari-hari sudah dihilangkan sama sekali.

Tiga, edukasi orang-orang sekitar terutama yang ikut berinteraksi dengan anak. Termasuk diri sendiri kayaknya ya… supaya tetap sabar apapun yang terjadi :)

Empat, kalau TT berlangsung lama dan tidak sesuai harapan, jangan sedih dulu. Cukup evaluasi proses yang berjalan dan lakukan perbaikan-perbaikan.

Lima, TT itu prestasi besar lho… Saya masih ngompol di tempat tidur sampai usia SD. Makanya saya sudah cukup menyiapkan diri kalau Ihya menjalani TT dalam waktu yang lama. Jangan lupa berikan pujian dan hadiah-hadiah kecil kepada anak, karena mereka telah melakukan hal yang hebat. Ihya aja bisa tersipu kalau dipuji… Di dalam hati pasti ia senang dan bangga pada dirinya sendiri.

Tantangan berikutnya buat Ihya adalah perjalanan (sangat) jauh tanpa pospak. Umm... pulang kampung misalnya? Siap-siap ya Nak!! Semoga bermanfaat.


Sunday, June 23, 2013

Balada Bakul Kue Rumahan

Bismillahirrahmanirrahiim...

Kerja dari jam 8.30 – 17.30 (belum ngitung pulang perginya ya...) dan punya keluarga (dengan satu anak usia 2,5 tahun) kadang membuat orang bertanya-tanya kok saya sempet aja ya bikin kue baik buat konsumsi pribadi maupun buat orang lain? Jawabannya sederhana. Pertama, saya suka. Kedua, saya mau satu hari jadi pengusaha. Dan mudah-mudahan nggak pas saya usia lanjut, hehe.

Khusus untuk poin kedua, saya nih sebenernya bukan tipe orang yang pintar (atau berani (?) berdagang). Tapi berkaca dari Papah, saya melihat wirausahawan sebagai pekerjaan paling hebat!! Satu-satunya hal yang saya pikir bisa membuat saya bertahan adalah kalau saya memiliki minat yang tinggi pada usaha yang saya (akan) jalani.

Dari kesenangan membuat kue (dan snack) ternyata Alhamdulillah disukai orang dan lama-lama berbuah pesanan. Masih satu-dua sih... Tapi bulan ini ternyata lumayan juga... Awalnya mungkin karena saya melihat jualan birthday cake atau occasional cake lakunya jarang-jarang. Sementara latihan bikin kue butuh uang yang lumayan juga, hehe. Ya sudah, akhirnya dengan meniatkan belajar, saya mulai bawa kue ke kantor. Wis jan, mau laku mau nggak gak papa. Yang penting ongkos belajar bisa ditekan.

Alhamdulillah, tiap hari ada aja yang terjual. Ada temen yang akhirnya pesan 1 loyang tiramisu kukus untuk perpisahan karena mau resign. Bunda yang minggu kemarin mengadakan perpisahan TK juga mesen 60 box kue. Minggu ini ada pesanan snack box 45 kotak. Subhanallah, ternyata kalau ada kemauan ada jalan...

Tinggal satu ganjalannya. Capek. Hihi. Saya juga jadi kesulitan bagi waktu buat Ihya dan Ayah. Alhamdulillah Ayah sangat mendukung untuk yang satu ini. Dukungannya luar biasa deh pokoknya. Mulai dari beliin bahan kue sampai menemani saya begadang. Tapi akhirnya untuk saat ini saya memutuskan untuk nggak terlalu ngoyo. Selain itu, saya akan berusaha buat mengelola waktu dengan lebih baik lagi.

Saya juga nggak mau hal yang tadinya menyenangkan kemudian jadi rutinitas yang hampa (taelah, bahasanya...). Walaupun saat terjun ke bisnis (apalagi usaha yang dirintis sendiri) resiko semacam ini pasti ada.

Yang jelas, ini harus jadi visi jangka panjang yang menebar manfaat :)

I Moved (On)

Bismillahirrahmanirrahiim...

Alhamdulillah, akhirnya bisa nulis blog lagi... Kenapa? Karena saya sedang kebagian jaga kegiatan campus hiring yang super sepi (yang datang hanya 3 orang saja sodara-sodara!!) *perusahaan gue kurang terkenal nih!!*

Ngomong-ngomong soal kerjaan, per 1 Juli 2013 besok saya akhirnya pindah dari tempat kerja yang lama. 3 tahun 6 bulan. Bukan waktu yang sebentar, jelas... Tadinya saya bahkan sulit untuk membayangkan bertahan di satu kantor selama lebih dari satu tahun. Haha. Ternyata “jodoh” saya memang di tempat ini.

Awal masuk karena saya punya kenalan yang kemudian jadi atasan saya. Kita sebut saja Mr. You Know Who (YKW). Saya nih aslinya suka protes dan nggak gampang nurut sama orang, keliatannya doang kalem (padahal nggak). Ternyata karakter saya yang satu ini nggak cocok dengan karakter atasan saya. Kami sering berselisih paham (well... lebih tepatnya mungkin seringkali saya terpaksa nurut sama Mr. YKW). Saya juga punya rasa ingin tahu yang besar (muji diri sendiri, hehe). Dan itu membuat saya butuh dijelaskan dengan baik mengapa suatu keputusan diambil (nggak cocok banget mengabdi di TNI). Dan saya juga bisa mikir, lama-lama BT juga disonansi kognitif terus-terusan. Komunikasi kami parah. I cried. A lot.

Setelah cuti melahirkan saya berencana mengundurkan diri. Eh, Alhamdulillah suami jadi PNS yang mana gajinya 900 ribu aja gitu sebulan (walaupun ntar dirapel sih...). Ditambah lagi kami pindah ke rumah ortu yang bisa dibilang deket banget sama kantor. Akhirnya saya urungkan niat itu. Alhamdulillah banyak yang iri dengan saya. Rumah dekat, bisa nengok anak tiap siang, kurang apalagi? Kurang tenang yang jelas...
Akhirnya saya pasrah, saya berniat mundur lagi. Eh... pas banget ada Bos baru di divisi. Dia menawarkan saya untuk pindah dan nggak jadi bawahan Mr. YKW lagi. Sip, saya terima. Tapi... namanya juga pindah ke bagian baru, masih banyak hal yang belum ajeg sehingga kerjaan saya banyak nggak jelasnya. Lama-lama otak tumpul juga...

Mundur lagi apa yah? Haha, kompleks banget sih hubungan gue sama ni kantor... Ndilalah Bu Wati menawarkan agar saya pindah ke bagiannya. Kebetulan nggak jauh dari bagian yang lama. Setelah itu, pekerjaan saya bisa dibilang cukup memuaskan. Rumah deket kantor, kerja zona nyaman, nice Boss, nice friends, tapiii... pertama, bagian yang sekarang boleh dibilang nggak banyak menyentuh minat saya di bidang pengembangan. Kedua, gajinya kecil booo... Hahaha. Banyak hal yang saya pertimbangkan selain gaji sehingga saya bertahan, tapi kalau cuma bikin menggerutu nggak bagus juga kayaknya yah...

Walaupun pingin pindah saya bisa dibilang jaraaang banget buka iklan lowongan kerja apalagi melamar kerjaan baru. Jujur saya susah banget untuk keluar dari zona nyaman ini. Sampai akhirnya temen sekantor yang sudah berkelana ke mana-mana menawarkan saya buat kerja di tempatnya. Karena ini temen, saya jujur dengan segala kondisi yang saya miliki. Ternyata setelah melewati serangkaian proses, saya lulus dan di sinilah saya sekarang. Siap untuk move on.

Saya paham banget, setiap tempat kerja pasti ada manis dan pahitnya. Tempat yang baru bisa lebih baik dan bisa juga lebih buruk. Tapi kalau saya nggak coba, saya nggak akan pernah tahu. Saya nggak mau sewaktu-sewaktu menyesal karena nggak mencoba mengubah situasi dan justru menggerutu tak berkesudahan dengan kantor yang lama. If you don’t succeed, at least you die trying...

Salam!