Sunday, October 5, 2014

Lebaran Idul Adha di Adelaide

Bismillahirrahmanirrahiim...
Happy Ied Adha for all moslem brothers and sisters around the world!!

Setahu saya di Indonesia MUI memutuskan bahwa 10 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 5 Oktober atau hari ini. 

Sementara kami di Australia, khususnya Adelaide mengikuti keputusan semacam majelis ulama di sini, yaitu 10 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 4 Oktober atau hari Sabtu kemarin. Soalnya mau ikut pemerintah Indonesiapun nggak ada tempat sholatnya... Hehehe.

Sayang sekali sodara-sodara... saya bukan banci foto dan akhirnya nggak banyak mengabadikan momen-momen berlebaran di tempat selain di tanah air. Hanya ada satu foto saja di HP. Hehe.

Alhamdulillah walaupun jauh dari orangtua dan saudara di sini banyak saudara yang menggantikan... 

Ceritanya nih, hari Jumat saya ada jadwal pemeriksaan kandungan. Berangkat jam 11.30 dan pemeriksaan baru rampung sekitar jam 16.00. Maklum... 30 minggu 5 hari dan nggak punya riwayat apa-apa. Jadilah sampai rumah udah sore (banget) dan capek (banget). Tapi Bunny kan puasa... Masa nggak disuguhin apa-apa... *kasian bener...*

Akhirnya mulai grasak-grusuk di dapur bikin semur telur. Telur sudah direbus, bumbu sudah dijerang... tiba-tiba... tetangga nganter makanan!! Bukan satu atau dua jenis, tapi macem-macem!! Mulai dari lontong, sayur buncis, semur daging, opor ayam, sambal goreng kentang pakai PETE, dan kerupuk!! Subhanallah... Langsung saya matiin kompor dan memilih untuk selonjoran... Buka puasa suami udah aman. Hehe.


Sudah? Nggak!!

Kira-kira setengah jam kemudian tetangga yang lain datang mengantarkan menu yang kurang lebih sama... Subhanallah...

Kami memang dapat tetangga yang baik-baik di sini :)

Dan besoknya... kami bersukaria Sholat Idul Adha di Flinders University. Makannya udah? Ya belum dooong... Sehabis sholat kami disuguhi makanan-makanan khas Indonesia. Semua makanan tersebut urunan dari (khususnya) anggota MIIAS dan masyarakat Indonesia di Adelaide. Ketemu sejublek orang Indonesia senangnya bukan main... apalagi ketemu makanannya... Hehe.

Alhamdulillah di sana kenalan dengan saudara seiman dan setanah air. Semoga barokah ya Ibu-ibu dan Bapak-bapak atas semua sajian dan usaha yang diberikan... Semoga Allah membalas dengan syurga :)


Salam!

Monday, September 29, 2014

Akhirnya... Adelaide!!

Bismillahirrahmanirrahiim...

Alhamdulillah... per detik di mana saya ngetik tulisan ini, berarti sudah satu minggu tiga hari (dan sebulan kurang lima hari saat tulisan ini ditaruh di blog) saya berada di Adelaide menyusul suami yang sedang kuliah di kota ini. Man!! Satu minggu ngapain aja gitu belum ngapdet blog juga??! Pamer dikit kek kalau sekarang tetanggan sama bule... hehe.

Doooh... seperti biasa... dari mulai pesawat tinggal landas juga maunya ngisi waktu dengan nulis Tapi apa daya senderan bangku Air Asia yang cuma segitu-gitunya lebih menggoda...

Okay, mungki n saya akan mulai cerita dari perjalanan saya menuju Adelaide... Setelah sekian lama menunggu (kurang lebih 4 minggu dari Medical Check Up untuk melengkapi aplikasi visa) akhirnya tanggal 3 September 2014 sepucuk surat yang ditunggu-tunggu turun juga... Officer di kantor AAS Jakarta pun kayaknya udah bosan kami teror (secara halus) tentang kabar si visa ini. Huaaaaa... langsung terpaku dan malah bingung mau ngapain duluan. Berhubung pas nerima visa abis menghadapi tantrumnya Ihya, saya memilih untuk... tidur dulu. Hehehe.

Setelah itu barulah saya dan suami bersiap-siap soal tiket. Satu per satu ceklis didata dan dilihat kembali. Ternyata masih ada beberapa barang dan kelengkapan yang belum siap. Jangan hitung berapa item yang bahkan lupa untuk didata... Ya sudahlah... relakan saja... Masalahnya waktunya memang super mepet. Bahkan mixer nggak dibawa dooong... :(

Setelah cari tiket, dapatlah dua tiket Air Asia tujuan Adelaide International Airport yang berangkat hari Jumat tanggal 5 September. Tiket Air Asia memang paling terjangkau di antara pilihan lainnya. Tapi konsekuensi lainnya adalah... Total perjalanan kami kurang lebih 15 jam!! Inget ya... eike lagi hamil pleus bawa balita Mak. Mau yang agak sorean lagi beda harganya udah 1 juta per orang (makasih!). Nah, kebayang kan... jeda turunnya visa dan tiket cuma satu hari sodara-sodara...

Kalau ada yang bertanya-tanya kenapa sih harus seburu-buru itu... Jawabannya adalah karena saya sedang hamil 27 minggu. Selain berkejaran dengan kebijakan penerbangan, kami juga berkejaran dengan pertanggungan asuransi. Nggak ada yang tahu pasti sih saya akan ditanggung atau nggak. Tapi kami coba meminimalisir resiko dengan berangkat secepat mungkin.

Untungnya memang saya sudah ada feeling kalau visa akan keluar pada minggu-minggu tersebut. Jadi dari hari Senin saya sudah kembali ke rumah orangtua di Cipinang. Walaupun cuma beberapa hari bersama mereka, Alhamdulillah masih sempat kumpul sebelum berangkat... (Miss you Mah, Pah, Dek). Masih sempet makan sate padang bareng juga...

Jeda satu hari saya manfaatkan untuk periksa ke SpOG di dekat rumah, membeli beberapa hal yang masih kurang, re-packing tiga koper karena ternyata masih banyak barang yang harus dikurangi, dan sowan ke rumah mertua.

Saya mungkin punya beberapa tips untuk yang akan bepergian jauh dan lama dengan situasi yang mirip dengan yang saya hadapi kemarin...

Pertama, tenang dan jangan panik. Telusuri lagi ceklis dan to do list yang sudah dibuat. Pikir baik-baik apakah ada yang terlewat.

Kedua, jangan menunda apa yang bisa dikerjakan segera. Contoh nih ya... (lirik sinis suami...) masalah tiket. Tau dong tiket itu harganya suka kayak harga bawang... Hari Rabu sore kami sudah pegang satu jadwal, tapi nggak langsung pesan. Dan akibatnya besok pagi harganya udah beda sejuta!! Belum lagi kalau ada masalah sambungan internet lemot deesbe deesbe.

Ketiga, jangan ragu minta tolong keluarga untuk membantu persiapan.

Keempat, khusus yang lagi hamil... sebaiknya periksa kondisi dulu ke Obgyn. Selain itu, jangan lupa minta surat keterangan usia kehamilan dan pernyataan bahwa nggak ada masalah untuk naik pesawat. Surat ini nggak wajib sih... Nanti juga maskapai akan minta kita bikin pernyataan yang intinya: "kalo ada apa-apa gue nggak tanggung jawab ya...". Tapi nggak ada salahnya jaga-jaga.

Kelima, perhitungkan kemacetan Jakarta :)

Keenam, jaga stamina. Mau secapek apapun  persiapan... Sempatkan istirahat. Apalagi buat yang lagi hamil dan bawa balita. Tahu dong balita kalau udah capek ujung-ujungnya adalaaah... Tantrum. Hehe. Kalau perlu bawa camilan dan mainan untuk mengalihkan perhatian mereka. Yang penting jangan sampai nangis :)

Ketujuh, perhitungkan lama transit. Nggak mau dong di negara orang bengang-bengong doang... Jadi jangan lupa bawa dan tukar uang secukupnya (secukupnya standar bandara, hehe) untuk ganjel perut dan beli permintaan remeh temeh si kecil yah... Di bandara internasional sih mustinya ada money changer. Saya sendiri memanfaatkan fasilitas itu karena ternyata USD nggak berlaku di KLIA. Nah, kalau waktu lebih longgar tentu sebaiknya ditukar lebih dulu sebelum masuk bandara.

Kedelapan, sebaiknya bawaan di kabin sedikit saja. Apalagi kalau hamil dan bawa balita. Tapi berhubung saya memanfaatkan kabin juga untuk bawa baju, jadi ya... gitu deh...  bawaan kabin saya tetap banyak.

Kesembilan, malu bertanya sesat di jalan. Jangan malu nanya walaupun dibilang ndeso. Ndeso-ndeso juga mau ke luar negeri nih... Hahaha. Dan yang pasti entah kapan ketemu lagi.. hihihihi.

Kesepuluh, beli Soes Beard Papa.

Yap, sepertinya itu saja tips perjalanan amatir dari saya. Beberapa saya laksanakan (terutama nomor 10), dan beberapa nggak. Semoga bisa jadi tips yang bermanfaat yah... :)

Friday, August 15, 2014

Siap-siaaap!!

Dalam 2 tahun ke depan, insya Allah saya akan menekuni profesi baru: Ibu Rumah Tangga (IRT). Awalnya memang nggak sengaja, walaupun sebenarnya sudah diniatkan sejak lama (tapi masih maju mundur). Pada bulan Juli 2013 saya pindah kerja ke tempat baru dengan pertimbangan: mendapat gaji yang lebih baik, bagian yang (saya pikir) lebih dekat dengan passion saya di bidang people development, tempat kerja yang tidak terlalu jauh, dan kejenuhan di tempat lama yang sudah membuat hari-hari saya tidak bersemangat. Padahal meninggalkan anak dari pagi sampai sore itu butuh alasan yang kuat lho... Saat itu saya masih ingin bekerja, IRT masih sebatas kepingin kepingin doang dan nggak jelas bagaimana rencana konkretnya.

Januari 2014 saya resign. Padahal secara umum saya cukup bahagia di tempat kerja. Alasannya utamanya karena Papah ingin saya membantu beliau di usahanya. Pada kenyataannya sih saya belum bisa banyak membantu beliau karena ini bidang yang sama sekali baru buat saya: software kontraktor. Namun, saya amat sangat tegiur dengan bayangan bahwa saya bisa punya waktu yang lebih fleksibel bersama Ihya.

Februari 2014 suami mendapatkan beasiswa Master dari pemerintah Australia selama 2 tahun. Saya tidak henti-hentinya bersyukur atas hal ini... Bukan sekedar karena saya bangga dengan pencapaian suami, tetapi akhirnya saya bisa menjadi IRT. Sempat kepikiran untuk kerja serabutan di sana demi menambah tabungan, tapi ndilalah hadirlah bayi kecil di rahim saya... Nampaknya memang Allah mencoba mengingatkan apa keinginan dalam doa-doa saya...

Kenapa sih pingin jadi IRT? Buat saya sederhana saja sih... Saya ingin memberikan standar emas dalam kehidupan anak-anak saya. Gampang? Ya nggak lah... Tapi anak-anak ini yang kelak akan saya pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Anak-anak ini yang kemudian akan menuntut saya jika saya lalai terhadap mereka. Walaupun tidak ada larangan untuk Ibu untuk ikut bekerja dan mencari nafkah, tetapi memang telah ditetapkan itu lah tanggung jawab Ayah. Ibu menjadi pendidik anak-anak di rumah.

Semua orang di ibukota ini pasti tahu, biaya hidup itu mahal bung!! Bukan untuk bermewah-mewah lho... Sehingga akhirnya ayah dan ibu terpaksa bekerja. Sampai saat ini pun saya nggak punya masalah saat seorang Ibu lebih memilih untuk bekerja. Lha saya juga begitu kok... Tapi ada masanya, ketika saya berefleksi mengenai tumbuh kembang anak, saya merasa seharusnya saya melakukan yang lebih baik dari apa yang saya lakukan sekarang. Bahkan dengan kondisi saya yang cukup disirikin sama teman-teman (rumah dekat, ART baik, mertua deket rumah), saya merasa ini semua nggak cukup. Saya nggak bisa mengharapkan yang terbaik karena saya juga nggak total. Ini konsekuensi logis. Saya menyerahkan hasil pada Allah anak saya akan menjadi seperti apa dan bagaimana... tapi setidaknya saya memberikan yang terbaik.

Perempuan juga sekarang sekolah tinggi (bahkan terlihat lebih rajin di kelas dibanding teman-teman laki-lakinya... hehe). Wajar lah jika kami mengharapkan itu semua berujung pada penghidupan yang lebih baik. Dan bukan cuma soal uang semata, tetapi juga aktualisasi diri. Deuh... klasik banget ya aktualisasi diri?? Jujur sih... selama kurang lebih 6 tahun saya bekerja, saya lebih merasa cari duit dibandingkan aktualisasi diri. Haha. Ini juga yang membuat saya akhirnya berusaha ikhlas melepas pekerjaan.

Kalau ditanya, nanti soal uang gimana? Saya hanya bisa jawab: nggak tau. Insya Allah setiap orang sudah diatur rezekinya... *bwahaha... sederhana amat ya jawabannya...*. Soalnya selama ini saya tuh ribed, kebanyakan mikir, agak ambisius, dll. Tapi ternyata saya juga nggak puas dengan semua itu. Dan saya sudah beberapa kali menyaksikan bahwa rezeki-rezeki yang dulu ada dari kantong Ibu bisa pindah ke kantong Ayah dengan cara-cara yang tak disangka-sangka.
Kalau ditanya, nanti nggak bosen? Nah... ini sebenarnya lebih mudah... Kalau rezeki urusan Allah, kalau ini urusan saya. Mau saya bosen atau nggak ya ada di tangan saya. Kalau saya ternyata jadi IRT malas ya salah saya sendiri dan saya pasti bisa megubahnya.


Menjelang menyandang status IRT ini saya mencoba berilmu sebanyak-banyaknya dan menyiapkan diri... Semoga ini keputusan terbaik, insya Allah saya mengiringinya dengan niat baik... Bismillah :)